Pengasuh Daarul Fikri, KH Ahmad Husein Dahlan Lc MM, menyatakan bersyukur karena di masa pendemi ini pihaknya bisa memberikan bantuan kepada seribu pejuang pendidikan. “Semua ini hasil dari pengelolaan koperasi,” ungkapnya.
Kiai Husein menjelaskan, 10 persen gaji para ustadz diberikan dalam bentuk voucher belanja di koperasi. Ternyata dalam sebulan pembelanjaan dari voucher bisa Rp 100-150 juta per bulan. “Setiap bulan, sebagian keuntungan koperasi kita infakkan. Jadi kita mencoba sinergikan antara anggaran belanja sekolah dengan program koperasi itu dan ternyata hampir 98 persen kebutuhan konsumen bisa dipenuhi melalui koperasi,” ujarnya.
Kiai Husein menjelaskan, anggaran belanja sekolah untuk SD saja bisa sampai Rp 1,2 miliar setahun, kalau dikumpulkan mulai dari TK hingga SMA bisa mencapai Rp 6-7 miliar per tahun. “Program ekonomi ini ternyata bisa menjadi sumber dana dan di masa pandemi ini sebagian dari keuntungan kita sedekahkan kepada guru-guru. Kita juga memberikan bantuan untuk seribu pejuang pendidikan. Termasuk untuk orangtua yang terdampak pandemi, yang kena PHK, yang dirumahkan, dan lainnya,” jelasnya.
Kiai Husein menegaskan, kegiatan internal dalam bentuk perputaran kegiatan usaha itu bisa digunakan untuk ketahanan ekonomi. Bekerjasama dengan pihak lain, ia juga membuat usaha simpan pinjam koperasi syariah bernama Solusi Cemerlang Mandiri (SCM).
Pihaknya juga sedang membidik beberapa perusahaan lokal untuk bersinergi. Misalnya perusahaan air, perusahaan herbal, dan ternak sapi. Semuanya disinergikan dengan koperasi. “Dengan begitu kesejahteraan guru bisa terangkat bahkan bisa mempunyai saham. Mereka di sini kalau yang sudah pegawai tetap ada dana pensiun. Setiap tahun ada dana yang masuk di luar gaji dan yang lainnya kepada guru-guru kita, yang harapannya nanti bisa menyelesaikan persoalan ekonomi mereka. Agar mereka fokus mengajar, karena itu ada lembaga keuangan yang memikirkan kesejahteraan mereka,” jelasnya.
Kiai Husein mengatakan, para guru itu memikirkan anak-anak siang, malam, pagi, sore. Jadi kalau mereka juga harus mencari nafkah, itu berat sekali. Jadi sayang kalau yayasan itu yang kaya pengurus yayasannya, seharusnya yang berbahagia itu para gurunya.
“Kita sepakat di sini, dana-dana yang bisa dikembangkan itu kita kerjasamakan dengan koperasi syariah, sehingga keuntungannya bisa dirasakan oleh para guru,” jelasnya.
Saung sederhana
Warga sekitar Warung Bambu Cikarang Barat, sebelumnya pasti tak akan menyangka jika daerah yang dulunya bekas rawa-rawa kini menjadi pusat pendidikan dengan gedung-gedung megah. Itu semua berawal dari saung sederhana yang digunakan sebagai tempat pendidikan.
Saat Kiai Husein tamat dari Universitas Islam Madinah tahun 2000, awalnya ia mendapatkan pinjaman gedung dari Suparno Sontorejo di Bekasi untuk mengelola lembaga pendidikan. Seiring waktu, tahun 2002 ia mendapatkan wakaf di Kampung Warung Bambu, Desa Telaga Murni, Cikarang Barat.
“Ketika itu kita mulai membangun sekolah dari saung-saung beratap ilalang. Awal pertama kita membuat sekolah itu kita minta bambu-bambu hitam kepada warga setempat. Waktu itu memang banyak bambu, itulah mengapa kampung itu namanya Warung Bambu,” kenangnya.
Pertama berdiri, pihaknya sudah mendapatkan amanah 60 siswa tingkat SD. Mereka semua sekolahnya di saung, dan ada beberapa kelas peninggalan MI dijadikan sebagai asrama. “Saat itu situasinya memang belum layak untuk menggambarkan sebuah tempat tinggal santri, tapi yang kami miliki hanya itu. Sehingga kalaupun ada orangtua yang anaknya tidak mau masuk di sekolah kami, itu kami yakini sebagai sebuah proses untuk menyaring siapa anak-anak yang memang sungguh-sungguh ingin belajar di pesantren,” ujarnya.
Awal berdiri, pesantren yang ia bangun dinilai sebagai pesantren yang membawa paham tidak sejalan dengan paham masyarakat, karena ustadznya alumni Saudi. “Padahal saya sejak tsanawiyah, aliyah itu di pesantren NU, dan hampir tidak mempersoalkan hal-hal yang berkaitan dengan masalah khilafiyah. Mungkin ada yang memberikan masukan kurang baik akhirnya kita dianggap sebagai pesantren yang ingin mengubah beberapa kebiasaan di tengah masyarakat,” jelasnya.
Melalui pendekatan yang baik, lambat laun, pesantren Daarul Fikri diterima oleh masyarakat, bahkan masyarakat merasa tercerahkan dengan adanya pesantren di wilayahnya. Bahkan saat ini santrinya sudah 1.150 santri.
Setelah pendidikan berjalan sepuluh tahun, Kiai Husein merasa belum memiliki kader dari para santrinya. Akhirnya ia membuat sistem muallimin, agar ada kader yang dijadikan calon ustadz ke depannya.
Sistem muallimin untuk kaderisasi
Pada tahun ke-11 ia mulai mengubah konsep pesantren menjadi Darul Muallimin yang mempersiapkan para dai dan programnya 6 tahun ditambah pengabdian setahun bagi lulusan SD/MI. Sedangkan bagi lulusan SMP/MTs programnya 4 tahun plus pengabdian setahun. Awalnya program pengabdian itu banyak penolakan karena tidak ada perjanjian di awal. “Setelah itu kami memilih yang mau saja, ternyata yang mau lumayan banyak walaupun orangtuanya tidak mau tapi karena anaknya mau, akhirnya terjadi dialog tentang pengabdian,” paparnya.
Termasuk anak-anak diterjunkan ke masyarakat. Biasanya setelah Ashar santri dilarang berada di dalam asrama tapi harus menyebar ke seluruh perumahan. Awalnya cukup kewalahan, namun setelah dicoba satu dua masjid akhirnya sampai puluhan masjid yang meminta guru Al-Qur’an.
Tidak hanya itu, pesantren juga mengenalkan kepada mereka tentang pemikiran-pemikiran yang merusak akidah seperti liberalism dan sekularisme. “Jadi harapannya itu setelah selesai mengabdi, mereka akan masuk ke kampus mana pun baik di dalam maupun luar negeri, mereka sudah mempunyai modal bahwa sebetulnya Islam jauh lebih baik, Islam merupakan solusi bagi kehidupan manusia. Dan mereka diharapkan bisa mengontrol pemikiran-pemikirannya,” ujar Kiai Husein.
Pada tahun ke-11, pihaknya telah memilih 10 kader, sebagian sudah melanjutkan ke Mesir, Sudan dan lainnya, sebagian lagi kuliah di dalam negeri. “Mereka adalah yang terbaik. Mereka terikat mutlak harus kembali ke pesantren, dan mulai tahun ini sudah ada yang kembali dari beberapa negara,” ungkapnya.
“Kami merasa bahwa pilihan kami membuka program Muallimin itu sudah sangat tepat karena ternyata anak-anak semakin banyak jumlahnya dan sudah menjadi satu kebanggaan bahwa anak-anak yang mengabdi itu kuliahnya sukses. Dan itu yang mulai banyak diyakini oleh orangtua,” tegasnya.
Kiai Husein berkeyakinan, pesantren yang bisa bertahan itu ialah pesantren yang bisa mengader santrinya sendiri. Pesantren tidak bisa berharap disuplai oleh orang yang sukses dari luar, lalu datang ke pesantren dan ingin memberikan yang terbaik di sekolah ini, itu ada tapi jumlahnya tidak sebanding dengan kader sendiri.
“Seperti Gontor yang tidak pernah kekurangan guru, dan kami mulai merasakan bahwa santri yang mengabdi itu bisa menggantikan hampir sekitar 20 persen dari guru. Saya kaget laporan kepala sekolah setelah jalan tiga bulan ada pernyataan bahwa pengabdian kita setaraf dengan lulusan sarjana di kampus-kampus swasta, khususnya kemampuan Qur’annya,” tuturnya.
Kiai Husein mengatakan, pesantrennya sedang mengajukan proses muadalah. Saat ini Daarul Fikri masih mengikuti Diknas. Tapi kalau sudah muadalah, pesantren bisa 100 persen menentukan kurikulumnya sendiri. “Dengan muadalah, nanti bisa dibuktikan apakah sekolah kita masih diminati atau tidak,” jelasnya. [] Fathurroji























