New Delhi, Gontornews — Sebuah negara bagian India, Kamis (11/2/2021), meminta pemerintah untuk menghentikan pasokan vaksin buatan Bharat Biotech. Mereka berdalih Bharat Biotech belum memberikan data efikasi hasil uji klinis vaksin Covid-19 yang hingga saat ini masih berlangsung. Bharat Biotech melansir bahwa data efikasi dari hasil uji vaksin baru akan keluar bulan depan.
Sebagai informasi, India telah berhasil memvaksinasi lebih dari 7 juta pekerja lini depan sejak memulai kampanye pada 16 Januari 2021 silam. Dalam prosesnya, pemerintah India menggunakan vaksin COVAXIN yang dikembangkan oleh Bharat Biotech serta vaksin buatan AstraZeneca-Oxford University.
Sejauh ini, pemerintah telah memesan 10 juta dosis vaksin COVAXIn dan 21 juta dosis vaksin AstraZeneca.
Permasalahan muncul manakala Bharat Biotech mengatakan data efikasi uji klinis tahap akhir yang melibatkan 26.000 relawan baru keluar pekan depan. Sejumlah pakar epidemologi mengkritik pemerintah yang disebut terlalu tergesa-gesa dalam memberikan persetujuan penggunaan vaksin dalam kondisi darurat.
Adalah negara bagian Chhattisgarh yang meminta pemerintah untuk menghentikan pasokan vaksin COVAXIN ke wilayahnya untuk sementara. Setidaknya hingga efikasi hasil uji klinis tahap akhir dikeluarkan.
“Ada penghambatan atau kekhawatiran dari kalangan masyarakat secara umum terkait penggunaan COVAXIN,” kata Menteri Kesehata Negara Bagian, TS Singh Deo.
“Kekhawatiran ini muncul dari fakta bahwa uji klinis fase 3 belum selesai,” imbuhnya kepada Reuters.i
Sejauh ini, baik pihak pemerintah, Kementerian Kesehatan India, atau Bharat Biotech belum memberikan komentar lebih lanjut. Bharat sendiri berencana untuk mengekspor vaksin ke Brazil dan Uni Emirat Arab dengan segera. [Mohamad Deny Irawan]























