Allah SWT telah mengutus sebaik-baik Rasul untuk kita. Allah SWT mengutusnya dengan membawa hidayah dan agama yang benar, agar agama yang benar itu dapat mengalahkan agama-agama lain (yang batil). Rasul SAW pun telah menyampaikan risalah-Nya dengan terang.
Beliau bersabda: “Tidaklah pernah aku biarkan sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah melainkan hal itu telah aku perintahkan kepada kalian. Dan tidaklah aku biarkan sesuatu pun yang dapat menjauhkan kalian dari Allah melainkan aku telah melarang kalian darinya.”
Keberuntungan dan kemenangan diperuntukkan bagi orang-orang yang mengikutinya, beramal dengan petunjuk dan keteladanannya serta mencontoh perilakunya. “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang mengikuti Rasul, seorang Nabi yang ummi, yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang memerintahkan mereka untuk mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka melakukan kemungkaran, yang menghalalkan mereka segala yang baik dan melarang mereka segala yang buruk, serta membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang (al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-A’raf: 156-157).
Kita membaca al-Qur’an sebagai bacaan yang segar sebagaimana para sahabat Muhammad SAW membacanya, sehingga ia akan bereaksi dalam jiwa, membangunkan perasaan-perasaan, dan mengarahkan hati kita. Kita telah beriman tanpa ada keraguan bahwa Allah SWT telah menurunkan al-Qur’an ini dan melanggengkannya sebagai syariat bagi manusia hingga hari kiamat, sehingga Allah mewariskan bumi ini dan siapa saja yang ada di atasnya. Allah tidak menurunkan al-Qur’an ini secara main-main. “Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, tentulah Kami membuat dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, pastilah Kami telah melakukannya.” (QS al-Anbiya’: 17).
Kita beriman bahwa Allah SWT adalah al-Haq (Mahabenar), kitab-Nya berisi kebenaran, ajaran-ajaran agama-Nya benar, dan bahwa kebenaran itu akan selalu langgeng, sementara selain kebenaran itu buih yang akan segera musnah. “Demikianlah Allah membuat perumpamaan mengenai yang benar dan batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada artinya. Akan halnya yang memberi manfaat kepada manusia, ia akan menimpakan yang benar itu kepada yang batil, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.” (QS al-Anbiya’: 18). Sebagaimana kita juga beriman bahwa ajaran-ajaran-Nya datang untuk membentuk kehidupan amaliah yang nyata, yang kaum Muslimin berjalan di atas cahaya-Nya.
Sudah menjadi kewajiban kita untuk melakukan kajian mengenai ajaran yang dibawa oleh Islam. Jika kita dapati bahwa amal-amal perbuatan kita sejalan dengan ajaran-ajaran tersebut, kita patut memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, Alhamdulillah. Dan jika ternyata kita dapati sebaliknya, kita harus berusaha keras untuk bisa berjalan di atas cahaya-Nya.
Kami katakan bahwa hati itu ada kalanya sangat peka. Di antara kepekaannya, ia merasa senang terhadap kebaikan dan keindahan, serta merasa sedih terhadap keburukan dan kejelekan. Dia bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, juga antara yang benar dan yang salah. [Selesai]




















