Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) terus memberikan pengabdian untuk Pondok Modern Darussalam Gontor melalui program-program nyata yang bermanfaat untuk umat. Salah satunya adalah program Bimbingan Masuk Gontor (Bimago).
Bimago menjadi embrio alumni untuk memberikan bibit-bibit calon santri Gontor dari berbagai daerah. Kini, Bimago telah hadir di beberapa kota di Indonesia. Seperti di Jakarta, Bekas, Bogor, Depok, Jogja, dan lain sebagainya. Berikut adalah kilas perjalanan beberapa Bimago yang kami himpun.
Tahun 2014 menjadi cikal bakal IKPM Jogjakarta membuat bimbingan tes masuk Gontor. Berawal dari kediaman salah satu alumni tahun 1991 bernama Ustadz Fachrurozi. Ia menjadikan rumahnya untuk belajar tes masuk Gontor sekaligus melayani bimbingan privat ke rumah-rumah.
Menurut Ustadz Fachrurozi, sebelum bernama Bimago, kegiatan ini bernama bimbingan tes masuk Gontor. Namun setelah musyawarah IKPM akhirnya ditetapkan namanya menjadi Bimago. βKarena perlu penyelerasan istilah secara nasional akhirnya menggunakan Bimago,β jelas mantan Ketua IKPM Jogja ini.
Ustadz Fachrurozi menjelaskan, alasan Bimago Jogjakarta lahir karena jumlah santri dari Jogjakarta yang nyantri sangat sedikit jika dibandingkan dengan dari daerah Surakarta. βKami perlu mengenalkan kepada masyarakat Jogja tentang pesantren Gontor dan sekaligus memberi bekal calon pelajar dari Jogja tentang materi ujian masuk Gontor,β terangnya.
Dalam mengenalkan bimtes saat itu, ia melakukan promosi online, promosi ke sekolah lewat brosur dan surat resmi, melalui jejaring walimurid, melalui penyebaran leaflet ke masjid-masjid bahkan mempromosikan di koran lokal melalui press release.
Bimago Jogjakarta memiliki tiga jalur cara belajarnya, yaitu melalui private perorangan terutama bagi yang bacaan al-Qurβannya masih kurang baik. Ada juga jalur week end, yaitu tinggal dan live in setiap Sabtu dan Ahad. Bahkan ada yang live in hingga 20 hari. βUntuk yang live in berada di pesantren Budhi Dharma,β jelasnya.
Siswa pertama kali hanya 30 orang dan panitia cukup berjibaku untuk memenuhi berbagai kekurangan pembiayaan, termasuk pengembangan donasi dari para muhsinin alumni. βAlhamdulillah setiap tahunnya mengalami kenaikan jumlah siswanya,β paparnya.
Ustadz Fachrurozi menjelaskan, di awal-awal Bimago Jogja berdiri peserta yang ikut ujian di Gontor, seratus persen lulus. Namun seiring waktu karena jumlah siswanya terus bertambah, pernah 90 persen yang lulus. Hal ini dikarenakan bacaan al-Qurβan masih nol dan baru belajar di bimbingan.
βAda juga yang sengaja tidak mau menjawab soal karena tidak mau di Gontor. Kami kirim ke Darun Najah Jakarta, ada juga yang ke Baitussalam Prambanan, di Pondok Pabelan Magelang dan lain lain,β terangnya.
Adanya Bimago Jogja ini mendapatkan tanggapan positif dari para orangtua yang ingin memondokkan anaknya ke Gontor. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang setiap tahun meningkat. βTetapi tahun ini kita belum tahu, karena adanya pandemi Covid ini,β paparnya.
Data terakhir, menurut Ustadz Fachrurozi, pendaftar baru yang sudah masuk ada 80 orang. Biasanya siswa mendaftar mendekati hari pelaksanaan karena masih fokus pelajaran kelas akhir di sekolahnya masing-masing.
Keberadaan Bimago, tambahnya, telah ikut mendorong ikatan wali murid lebih terorganisir dan mambantu dalam promosi Pondok Gontor melalui kontak-kontak personal. βWali murid setiap angkatan memiliki grup whatssapp yang ini sangat membantu dalam mempromosikan Bimago,β ujarnya.
Menurut Ustadz Fachrurozi, kegiatan bimbingan di Jogja ini embedded dalam program kerja tahunan IKPM. βBukan kerja individual atau kerj alumni di luar IKPM. Karena untuk menjaga nama baik Gontor dan kegiatan ini diawasi dan harus dipertanggungjawabkan dalam rapat IKPM,β tegasnya.
Sementara itu, Pembina Bimago Bekasi Ustadz Noerkholis Faqih menjelaskan Bimago Bekasi berdiri tahun 2016. Di antara latar belakangnya untuk memenuhi antusias masyarakat terkait pesantren kian meningkat, dengan adanya Bimago masyarakat bisa mendapatkan informasi yang komprehensif mengenai pesantren dan segala serba serbinya dan sebagai syiar keberadaan alumni Gontor di Bekasi.
Menurut Ustadz Noerkholis, secara AD/ART Bimago menjadi bagian dari kegiatan dakwah dan pendidikan yang berada dalam naungan IKPM Cabang. βPP IKPM Pusat menyetujui kegiatan ini dan menganggap kegiatan ini sangat membantu pondok dalam melakukan skrining secara dini mengenai kemampuan calon pelajar,β papar lelaki lulusan Gontor tahun 1989 ini.
Hingga saat ini, ada 563 santri yang pernah terdaftar sebagai peserta Bimago Bekasi. Angka ini tentu belum termasuk peserta yang hanya mengikuti try out saja atau sekedar berangkat melalui IKPM Bekasi. βPertama kali membuka pendaftaran ada sebanyak 13 calon santri dari Bekasi. Alhamdulillah, 10 dari 13 orang dinyatakan lulus. Hingga sekarang kelulusannya 90 persen,β katanya.
Untuk belajar persiapan di Bimago, lama waktu yang diperlukan cukup beragam. Dalam satu tahun, Bimago Bekasi menyelenggarakan kegiatannya sebanyak 3 periode: periode 1 pada semester pertama, periode kedua pada semester 2 dan periode ketiga pada bulan Ramadhan.
βProgram lain yang diadakan Bimago Bekasi adalah program try out yang memungkinkan peserta merasakan sensasi ujian masuk baik ujian lisan maupun ujian tulis ala Gontor,β terangnya.
Ustadz Noerkholis menegaskan, Bimago tidak pernah menjanjikan pesertanya pasti lulus. Tetapi, Bimago mengerahkan seluruh kemampuan maksimalnya agar seluruh peserta siap dalam menghadapi ujian baik secara lahiriah maupun batiniyah. βKarena bagi kami, para peserta adalah kader yang kelak akan meneruskan tampuk kegiatan IKPM-IKPM cabang,β ujarnya.
Bimago Bekasi bermarkas di Islamic Centre KH Noer Ali. Saat ini, Bimago Bekasi memiliki enam kampus: 1) Islamic Centre KH Noer Alie, Bekasi; 2) Pondok Pesantren Tarbiyatul Mubtadiin, Tambun Selatan; 3) MTS Attaqwa 03 Babelan; 4) SMK Nurul Islam, Pulo Gebang, Cakung; 5) Ruko Kebantenan Jati Asih; dan 6) TAUD Tsaqu Annafi, Kompleks Sapta Taruna 4, Sumur Batu, Bantar Gebang.
Menurut Ustadz Noerkholis, respon orang tua sangat baik. Umumnya, mereka bersyukur bahwa putra-putrinya bisa mengikuti kelas-kelas persiapan yang diselenggarakan oleh Bimago karena lebih siap untuk mengenal lembaga pendidikan yang tepat untuk anaknya.
Bimago Bekasi juga tidak menjamin yang bernilai baik di sekolahnya bisa lulus. Begitu juga nilai buruk di sekolahnya tidak menjamin ketidaklulusan. βAkhirnya, reward yang pantas kami berikan adalah nasihat untuk tetap membumi, bersyukur, tawakkal, sabar dan bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan masuk pesantren Gontor,β tegasnya.
Ustadz Noerkholis berharap Bimago sebagai pusat informasi pendaftaran santri Gontor di daerah. Ia juga berharap Bimago dapat menjadi cikal bakal proses pengkaderan calon santri Gontor di daerah. βSelain itu Bimago dapat menjadi sumber pemasukan bagi IKPM-IKPM cabang dalam menyelaraskan kegiatan serta syiar Gontor di daerah,β paparnya.
Sementara itu Pembina Bimago Bogor Ustadz Ahmad Farda Muzakki mengatakan, Bimago Bogor berdiri pada tahun 2015. Saat pertama kali dibuka, peserta yang daftar untuk belajar hanya 10 anak. βDalam periode saat ini, dari awal berdirinya hingga saat ini kurang lebih ada 500 calon pelajar,β ujar alumni tahun 2014 ini.
Ustadz Ahmad menambahkan, prosentase kelulusan calon santri yang bisa lulus ke Gontor hingga saat ini mencapai 85 hingga 90 persen. βAlhamdulillah, 85-90 persen peserta didik kami lulus ke Gontor,β jelasnya.
Bimago Bogor dipusatkan di cluster Mulia Asri di daerah Karadenan. Untuk mendukung kemudahannya, saat ini telah ada di sembilan zona yang tersebar di kota maupun kabupaten. βRespon orang tua sangat antusias dengan adanya Bimago Bogor dan mendapatkan nilai plus dengan adanya bimbel ini,β jelasnya.
Adapun materi yang diajarkan dalam Bimago ini meliputi pelajaran-pelajaran yang ada di Gontor, seperti baca Qurβan, imla, berhitung angka dan soal, bahasa Indonesia, tajwid, doa-doa harian, maupun surat pendek dan praktiknya. βMereka mendapatkan fasilitas buku pelajaran, ilmu yang bermanfaat, tempat terdekat, dan pengajar alumni Gontor,β ujarnya. Ahmad berharap Bimago Bogor bisa menjadi wadah untuk mencetak kader-kader dari daerah Bogor yang memiliki intelektual dan mencerdaskan bangsa.[]






















