Riyadh, Gontornews — Pemerintah Saudi pada hari Selasa (13/7) menegaskan kembali dukungannya kepada Mesir dan Sudan untuk mempertahankan hak-hak mereka, di tengah perselisihan yang sedang berlangsung antara kedua negara dengan Ethiopia mengenai pembendungan Sungai Nil.
Ethiopia menggantungkan harapannya untuk pembangunan ekonomi dan pembangkit listrik di bendungan, yang dikenal sebagai Bendungan Renaisans Agung Ethiopia (GERD), tetapi Mesir khawatir hal itu akan mengancam pasokan airnya dari Sungai Nil. Sedangkan Sudan khawatir dengan keamanan bendungan dan aliran airnya sendiri.
Kabinet meminta masyarakat internasional untuk menemukan mekanisme yang jelas untuk memulai negosiasi antara ketiga negara untuk menemukan solusi mengatasi krisis ini, di bawah naungan internasional dan dalam kesepakatan dengan Uni Afrika dan Liga Arab, Saudi Press Agency melaporkan sebagaimana dirilis Arabnews.com.
Proyek konstruksi besar di Blue Nile telah selesai 80 persen dan bendungan itu diharapkan mencapai kapasitas pembangkitan penuh pada tahun 2023, yang akan menjadikannya sebagai pembangkit listrik tenaga air terbesar di Afrika dan terbesar ketujuh di dunia, menurut media pemerintah Ethiopia.
Mesir dan Sudan mengatakan mereka khawatir bendungan itu akan mengurangi aliran air ke hilir dan mempengaruhi “hak air historis” mereka di bawah perjanjian pembagian air yang ditandatangani kedua negara pada tahun 1959 yang memberi Mesir 55,5 miliar meter kubik (bcm) air dan Sudan 18,5 bcm. []




















