Jakarta, Gontornews — Wakil Ketua MPR RI Dr Hidayat Nur Wahid mendesak Kementerian Agama RI untuk memastikan diperbolehkannya calon jamaah umrah asal Indonesia untuk melaksanakan ibadah umrah sesudah mendapatkan vaksin Sinovac, menyusul keputusan terbaru Kerajaan Arab Saudi (12/7/2021) yang memasukkan vaksin Sinovac dan Sinopharm dalam daftar vaksin yang diterima sebagai syarat masuk Saudi.
Berita gembira bagi calon jamaah umrah dari Indonesia soal vaksin Sinovac yang diakui Saudi ini, semula juga disampaikan oleh Menteri Urusan Agama Malaysia, Dr Zulkifli M Bakri, yang disiarkan melalui akun pribadi twitternya, yang disebarluaskan oleh Kantor Berita Bernama, Malaysia. Karenanya HNW, sapaan akrab Hidayat Nur Wahid, mengingatkan kepada Menteri Agama RI agar di tengah kesibukan berkolaborasi mengatasi pandemi Covid-19, perlu terus memantau dan tidak terlambat mendapat perkembangan informasi soal haji dan umrah.
Menag dan jajarannya harus segera melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan serta komunikasi yang lebih efektif untuk memperoleh kepastian dari pihak Kerajaan Saudi bahwa jamaah umrah asal Indonesia yang sudah dua kali divaksin Sinovak bisa masuk ke Saudi melaksanakan ibadah umrah pascapelaksanaan ibadah haji 1442 Hijriah.
Ia juga meminta Kemenag berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan soal vaksinasi calon jamaah umrah dan haji. Pasalnya disebutkan dalam koran Saudi Gazzette, Ahad (11/7), bahwa sekalipun vaksin Sinovac sudah diakui oleh Arab Saudi, penerima dua dosis vaksin Sinovac tetap disyaratkan untuk mendapatkan satu dosis tambahan dari vaksin yang sudah lebih dulu disetujui oleh Saudi yakni Pfizer, Astrazeneca, Johnson & Johnson, dan Moderna.
“Kementerian Agama harusnya sigap mencermati keputusan terbaru Saudi tersebut, dengan segera melakukan komunikasi efektif, dan memastikan bahwa jamaah umrah dari Indonesia yang sebagian besarnya sudah menerima vaksin Sinovac tetap bisa berangkat menunaikan ibadah umrah di,” papar Hidayat dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (13/7).
Hidayat yang merupakan anggota DPR RI Komisi VIII ini mengingatkan agar jangan sampai kejadian pembatalan haji di tahun 1442 H ini berkepanjangan hingga ke calon jamaah umrah. Pasalnya, salah satu faktor yang pernah disampaikan oleh Pemerintah Indonesia soal batalnya keberangkatan calon haji dari Indonesia ialah soal vaksin Sinovac yang tidak diterima untuk masuk Arab Saudi. Faktor tersebut kini seharusnya tidak lagi jadi alasan, karena vaksin Sinovac sudah memperoleh persetujuan penggunaan dari WHO, Selasa (1/6) dan diterima serta bisa digunakan sebagai syarat masuk Arab Saudi, Senin (12/7).
Kemenag juga harusnya bersinergi dengan Kementerian Kesehatan untuk menyediakan satu dosis tambahan vaksin Astrazeneca maupun vaksin Moderna bagi calon jamaah umrah yang telah mendapatkan dua dosis vaksin Sinovac, apabila itu memang yang disyaratkan oleh Saudi. Hingga 1 Juli 2021, Kementerian Kesehatan melaporkan memiliki 9.226.800 dosis vaksin Astrazeneca dan 3 juta dosis vaksin Moderna, jumlah yang seharusnya cukup untuk dialokasikan sebagiannya bagi calon jamaah umrah.
Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini menjelaskan, faktor lainnya yakni sikap Arab Saudi terhadap calon jamaah umrah dan haji dari luar negeri yang terus berubah mengikuti situasi dan kondisi terkait Covid-19, seharusnya juga bisa ditangani apabila Pemerintah Indonesia bisa melakukan upaya diplomasi dengan lebih maksimal dan intensif dengan pihak berwenang di Kerajaan Saudi.
Menurutnya, sesudah dua kali batal berhaji dan umrah pun ditutup, wajar umat Islam di Indonesia menuntut usaha maksimal dari Pemerintah untuk memastikan jamaah umrah dari Indonesia bisa diberangkatkan. Di antaranya agar Kemenag melakukan komunikasi dan usaha yang lebih efektif untuk meyakinkan Pemerintah Saudi bahwa calon jamaah umrah Indonesia yang sudah menerima vaksin Sinovac yang diakui Saudi, bisa diterima masuk menjalankan ibadah umrah di tanah suci.
“Jangan sampai pembatalan keberangkatan haji dua tahun berturut-turut dan penyetopan keberangkatan umrah beberapa bulan ke belakang tidak membuat Pemerintah semakin serius untuk melakukan upaya yang dibutuhkan agar calon jamaah umrah bisa berangkat ke tanah suci, di antaranya melalui komunikasi yang lebih efektif dan intensif, serta penyiapan pemberian dosis vaksin tambahan bagi calon jamaah umrah bila itu memang menjadi persyaratan dari pihak Saudi. Tentu juga dengan maksimalisasi kontribusi Kemenag dalam penanganan Covid-19 di dalam negeri, agar Covid-19 segera melandai bahkan selesai, agar Indonesia tak lagi ditakuti karena penyebaran kasusnya, yang berakibat beberapa negara pernah menutup pintu terhadap Indonesia,” pungkasnya. []
























