Banjarbaru, Gontornews — Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar, menegaskan peran strategis santri dan pesantren dalam mewujudkan masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Cak Imin menambahkan, santri dan pesantren akan terus-menerus menciptakan sejarah baru dengan ikut serta mengentaskan kemiskinan dan menyejahterakan masyarakat.
“Di situlah umat Islam, para santri, dan para kiai akan terus berkontribusi. Bukan saja menjadi bagian dari sejarah, tetapi kita akan terus-menerus menciptakan sejarah-sejarah baru. Mengurangi dan menghentikan kemiskinan di tanah air, menciptakan masyarakat yang mandiri, kokoh, berjaya, makmur dan sejahtera,” ungkap Cak Imin saat menghadiri peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026).
Menurutnya, semangat pengurbanan dan pengabdian para ulama harus terus hidup dengan menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat hari ini. Cak Imin pun melandaskan pernyataannya dengan menyebut sejarah Resolusi Jihad para ulama pada 22 Oktober 1945 yang menjadi bukti penting peran santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Santri, para alumni pesantren dan masyarakat Muslim akan terus berkontribusi bagi terwujudnya Indonesia emas, Indonesia yang mandiri, kokoh, dan siap bersaing dengan negara-negara lainnya,” ujarnya sebagaimana dilansir laman resmi Kementerian Koordinator bidang Pemberdayaan Masyarakat.
Selain menguasai ilmu agama, seorang santri juga perlu memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan dalam menciptakan perubahan di lingkungan sekitarnya.
“Jangan lupa pendidikan itu adalah cara untuk memutus rantai kemiskinan sehingga anak-anaknya diberikan keterampilan, kapasitas, kemampuan dan ilmu,” ucap Cak Imin sebagaimana dilansir Kumparan.
Terakhir, Cak Imin meyakini kurikulum dan ekosistem ekonomi pesantren memiliki andil dalam menciptakan upaya pemberdayaan masyarakat. “Ini akan kita dorong agar pesantren-pesantren mampu menjadi pelaku ekonomi yang produktif. Ada 40.000 pesantren di tanah air. Hanya satu persennya saja yang berkualitas dari sisi infrastruktur, bangunan seperti di Al Falah ini sangat bagus.”
“Di Hari Santri ini, jadikan momentum untuk berbenah. Kalau perlu yang kelihatannya tidak efektif, dimerger misalnya. Sehingga jumlah 40.000 (pesantren) itu nanti kita dorong untuk menjadi pesantren-pesantren yang berkualitas,” tutup alumnus Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang itu. [Mohamad Deny Irawan]























