Sejak awal berdiri hingga saat ini, telah ada dua puluh Sembilan angkatan alumni Gontor Putri. Mereka tersebar di berbagai penjuru dunia. Kiprah dan prestasi mereka dalam mengabdi di masyarakat dan menggeluti bidangnya masing-masing, sangatlah berwarna dan juga penuh prestasi.
Pondok Modern Gontor telah membekali santri dengan ilmu dan mental pengabdian. Yakni bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa mengharapkan pujian dan tak patah karena kritikan. Bahkan semboyan βberjasalah tapi jangan minta jasaβ, juga sudah terpatri dalam diri para santri. Hal inilah yang kemudian memunculkan keberanian, jiwa-jiwa keikhlasan, dan kesungguhan dalam mengeluarkan bakat serta potensi diri alumni di tengah masyarakat. Akan tetapi, di balik segudang prestasinya, hal itu in syaa Allah tidak membuat alumni lupa atau lalai menjalankan tugas sebagai seorang istri serta ibu di dalam keluarga.
Sebab di Gontor juga telah berkali-kali ditekankan, bahwa ibu adalah sekolah pertama di keluarga. Jika ibu berhasil mendidik anaknya dengan baik, maka negara akan baik. Karena negara yang paling kecil ada di keluarga.
Kini juga telah terbukti, banyak alumni putri yang berhasil mendidik anaknya dan berprestasi di berbagai bidang. Karenanya, jadilah wanita yang sittil kull (serba bisa) dengan tidak melupakan fitrahnya sebagai seorang istri dan ibu.
Pelebaran sayap pergerakan alumni Gontor Putri di berbagai bidang memanglah cocok untuk disoroti lebih dalam. Berikut ini beberapa warna-warni kiprah alumni Gontor Putri yang sukses mengabdi di tengah masyarakat:
Santriwati Diplomat
Elizabeth Diana Dewi BHSc MIR adalah alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Putri tahun 1999 akhir. Ketertarikannya pada dunia internasional, membawanya untuk tekun meraih cita dan berkiprah di dunia diplomasi.
Kini, alumnus yang biasa disapa Kak Ibeth itu pun berhasil menjadi seorang diplomat di KJRI Istanbul Turki. Ia bertugas sebagai protokoler konsuler dengan fungsi perlindungan Warga Negara Indonesia dan keprotokolan. Setelah sebelumnya pernah ditugaskan di KBRI Bangkok dan Den Haag.
Kepada Majalah Gontor, Elizabeth berpesan, βUntuk menjadi diplomat butuh kepemimpinan, pengembangan network, tanggung jawab, sungguh-sungguh, program kerja, dan inilah yang telah saya dapat di Gontor.β Tidak akan sampai suatu kenikmatan, tambahnya, kecuali setelah kepayahan.
Ia pun menekankan bahwa keahlian kita pastinya banyak juga yang memiliki, tapi mental ini sangat khas mental lulusan Gontor yang militan dan mengabdi tanpa pamrih. Maka jangan minder, jangan bosan untuk terus mengembangkan diri, belajar, dan belajar. βMelalui semboyan ukhuwah Islamiyah kembangkan network seluas luasnya,β tutup mantan Wakil Ketua Organisasi Pelajar Pondok Modern Gontor ini.
Santriwati Daβiah
βKita semua adalah daiβah ilaa Allah,β tegas Ustadzah Dr Fadillah Lc MA, aktivis dakwah yang merupakan alumnus Gontor Putri tahun 1999 awal.
Menurut Dr Fadillah dunia dakwah itu luas, termasuk di dalamnya bidang pendidikan, ceramah agama, dan lainnya. Hingga saat ini masih banyak hal yang dibutuhkan umat di antaranya pengajaran nilai-nilai agama agar dapat menuntun mereka kepada jalan kebenaran dan keridhaan Allah SWT.
Karenanya, selain konsen mengisi beberapa majelis keilmuan, doktor asal Palembang ini juga terus semangat mengajak alumni agar bisa mengikuti jejaknya dalam berdakwah, tidak hanya untuk keluarga namun juga untuk masyarakat luas.
βSebab kita tidak lama hidupnya. Jika hanya sibuk untuk diri sendiri, lalu apa peran kita ke umat itu?β tekannya kepada Majalah Gontor. Keinginan berdakwah itu, lanjut Fadillah, sebetulnya munculnya dari hati. βKalau kita menuhankan rasa malu, pasti malunya di depan. Tapi kalau Allah SWT yang dituhankan, maka itu bagus,β tambahnya.
Ia pun menceritakan bahwa halangan pertama berdakwah adalah bagaimana kita bisa menginspirasi orang lain untuk keluar dari posisi nyamannya. Hingga kemudian umat dapat memahami al-Qurβan dan as-Sunnah dalam nilai sebenarnya.
Selain Ustadzah Fadillah, sejatinya masih banyak alumni putri yang juga .konsen berkiprah di dunia dakwah. Mereka ada yang berdakwah lewat majelis ilmu baik online maupun offline. Ada pula yang berdakwah lewat yayasan yang dijalankan, di antaranya pesantren atau markaz tahfidz juga yayasan dakwah dan pendidikan seperti Yayasan Hasbi Peduli dan masih banyak lagi.
Santriwati Pemberdayaan Masyarakat Pelosok
Tidak jauh berbeda dengan santriwati daiβah, kali ini Ustadzah Azhimatul Noor Bashari Diyanti SThI MA, alumnus Gontor Putri tahun 2000 ini juga ikut berdakwah sekaligus berkiprah, namun dengan fokus kepada pemberdayaan masyarakat pelosok.
Bersama suami yang sudah terlebih dulu mengabdi di pedalaman, pasangan suami istri ini pun mantap mendedikasikan dirinya untuk semangat berjuang ditengah kemiskinan dan βketertinggalanβ nilai agama dan pendidikan yang telah dialami masyarakat setempat.
Noora, begitu sapaannya menceritakan bahwa ia dan suami secara sukarela berusaha memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di pelosok. Pada pokoknya memang sumur dan MCK, dengan tujuan utama yakni ingin menyelamatkan thaharah umat Muslim di pelosok.
βNamun pada perkembangannya lebih banyak lagi, di antaranya pembangunan mushalah, madrasah, atau bisa berupa hal lainnya seperti pemotong kuku, tergantung rejekinya saja,β jawab aktivis sosial dan motivator itu kepada Majalah Gontor.
Ternyata di balik program pembangunan sarana tersebut, pasutri Noora dan Nuril ini juga memiliki tujuan utama yang menjadi akhir tujuan mereka yaitu penanaman akidah Islamiyah dan pembangunan mental serta tokoh untuk masyarakat pelosok.
Pesan Noora kepada alumni, βAllah SWT telah mengajarkan kita bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.β Lahan perjuangan dakwah bil hal di mana kita menjadi contoh dan penggerak bagi umat di dusun pelosok itu masih luas sekali dan masih membutuhkan kader dakwah yang banyak.
Maka, mari kita berbuat, kita bertransmigrasi ke lahan dakwah ini, tanpa meninggalkan dakwah dengan lisan dan tulisan kita. Karena jika kita terlambat, akidah warga pedalaman bisa dengan mudah terambil oleh βsebungkus mie instanβ yang terlebih dulu sampai di depan pintu rumah mereka. Tidak perlu menunggu kaya untuk berbuat karena dengan berbuat itulah Allah SWT justru memperkaya diri kita.
βSelanjutnya, jangan sampai keinginanmu untuk mendunia menjadikanmu lupa untuk membumi. Sebab kita berasal dari bumi dan kelak kita akan dikebumikan,β tutup aktivis kemanusiaan yang besar dan dewasa di Gontor Putri tersebut.
Santriwati Pebisnis
Dunia perdagangan adalah salah satu bidang yang banyak digeluti alumni Gontor Putri. Baik mencakup bisnis barang primer, sekunder, ataupun tersier. Mencontoh sunnah Rasulullah SAW yang menjadikan salah satu kesibukkannya sebagai seorang pedagang sukses yang jujur nan amanah. Alumni pun menjadi semangat menyelami dunia bisnis dan sukses berdagang baik di dalam maupun luar negeri.
Ustadzah Izzatun Niβmah MHum, alumnus Gontor Putri tahun 1997 merupakan salah satu alumni putri yang juga senang berniaga. Bisnis perhiasan berbahan baku mutiara pun dipilihnya dan dinamai Butik Mutiara Lombok.
βMeski jenis mutiara banyak, tapi saya mengambil segmen khusus di mutiara laut,β terang Ustadzah Izzah, kepada Majalah Gontor.
Di tengah kesibukkannya, pebisnis asal Solo ini juga masih tetap mengabdi di dunia pendidikan dengan mengajar di Sekolah Menengah Atas, setelah sebelumnya di Perguruan Tinggi. βPrinsip saya adalah ulet dan konsisten bergerak. Itu adalah hal wajib yang harus dimiliki setiap entrepreneur,β tekan Izzah.
Ia pun masih mengingat pesan kiai Gontor yang terus diaplikasikan dalam diri yaitu Muslim kuat lebih Allah SWT cintai daripada Muslim yang lemah. Baginya Panca Jiwa Gontor telah mengajarkan tuk menjadi pribadi yang bukan saja berakhlak mulia dan berpikiran bebas, tapi juga berdikari, mandiri.
Karena dengan kemandirian ekonomi dan finansial, in syaa Allah fikrah kita juga akan lebih mandiri. Dari harta itu pula kita bisa semakin banyak berbagi hingga akhirnya dapat bermanfaat untuk masyarakat luas. βMaka, mari maksimalkan potensi diri agar bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk kita dan sesama,β pesan wanita yang berdomisili di Cilegon, Banten itu kepada alumni Gontor Putri.[]





















