Tujuan seseorang berjualan memang bermacam-macam, mulai dari mendapatkan keuntungan, sebagai hobi hingga dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Demikian dengan Muhammad Hakim Azizi, laki-laki kelahiran Malang, 33 tahun silam. Dia mencoba menebarkan kebaikan dan kebermanfaatan lewat usaha kuliner “Rumah Makan Nasi Berjamur”.
Hanya bermodalkan Rp 200 ribu, ia sudah bisa memulai usaha olahan jamur, termasuk nasi berjamur. Tidak hanya itu, usahanya kini sudah bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
“Alhamdulillah saat ini sudah ada enam karyawan yang bantu-bantu menjalankan usaha ini,” jelasnya kepada Majalah Gontor.
Alumni Pondok Modern Gontor tahun 2007 itu lantas bercerita asal mula ia menjalankan usaha kulinernya tersebut. Sebelum memulai usaha kuliner RM Madang Murah Nasi Berjamur dia sudah mencoba berbagai macam usaha lainnya, mulai dari berjualan burger, kuliner dengan gelar lapak, beternak ayam bangkok hingga berjualan aneka masakan jamur seperti kripik jamur tiram dan sate jamur tiram.
Karena berbagai faktor, usaha-usaha tersebut tidak berjalan hingga akhirnya menemukan usaha yang cocok dan bisa berjalan hingga saat ini dengan omset Rp 3,5 juta per hari yaitu Nasi Berjamur.
“Tepatnya di akhir 2016 kami mulai merintis usaha warung makan, nasi dengan lauk jamur krispi dan sambel bawang,” katanya.
Namun demikian, lulusan Ekonomi Syariah Universitas Nahdhatul Ulama Surakarta itu mengaku jika awal merintis usaha Rumah Makan tersebut tidak berjalan mulus. Bahkan ia kerap berbohong kepada sang istri lantaran dagangannya tidak ada yang laku.
Pernah suatu ketika, nasi berjamur yang ia jajakan tidak ada yang membeli. Takut membuat sedih sang istri, ia pun berbohong dengan mengambil uang di ATM dan kemudian direcehkannya, seolah-olah uang tersebut adalah hasil jualannya hari itu. Sementara, dagangannya ia bagi-bagikan ke orang-orang di jalan.
“Itu dukanya awal usaha. Istri sering menangis karena tidak laku. Alhamdulillah sekarang dukanya sudah tidak ada, tinggal sukanya saja,” ungkapnya bahagia.
Lokasi Sekitar Kampus
Awal mula usaha, ia tidak langsung menyewa ruko atau kios, hanya menumpang di lapak salah satu pedagang yang ada di lingkungan Kampus IAIN Solo. Seiring waktu, banyak mahasiswa yang mengenal dan mencoba produknya, sehingga omset hariannya terus meningkat. Saat ini dia sudah bisa menyewa ruko, bahkan sudah memiliki beberapa cabang.
Selain rasanya yang dianggap enak oleh pelanggan, harga jual per porsinya juga cocok dengan kantong mahasiswa, yaitu Rp 7 ribu per porsi untuk nasi, jamur kriuk plus sambal bawang.
Pada bulan Ramadhan 2017 hampir seluruh warung sekitar kampus tutup. Hal itu membuat orang-orang dan mahasiswa-mahasiswa kesulitan mencari makan untuk buka dan sahur. “Kami berjualan mulai sore sampai imsak. Inilah awal warung nasi berjamur ramai pembeli bahkan omzet mencapai Rp700.000 per hari yang belum pernah dirasakan sebelumnya,” aku Hakim.
Namun demikian, ia tidak langsung besar kepala atau sombong. Sebab ia yakin bahwa segala yang diraihnya bentuk kasih sayang Allah kepada dirinya dan keluarga. Bahwa setiap perjuangan untuk menafkahi keluarga sungguh tidak sia-sia, terlebih saat ini usahanya itu sudah bisa menebarkan manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan.
“Itulah nilai yang saya ambil dari Pondok Gontor, Man Jadda wa Jada dan Man Sobaro Dzofiro,” katanya.
Terakhir ia berharap, usaha yang dirintis bersama istri tercinta bisa terus berjalan lancar dan berkembang sehingga bisa memberikan manfaat lebih luas lagi buat banyak orang. “Membuka banyak cabang, khususnya di kampus-kampus dan pabrik-pabrik,” harapnya. []





















