Ohio, Gontornews — Sebuah penelitian internasional dari University of Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, menemukan bahwa spesies laba-laba pelompat, Saitis Barbipes, ternyata buta warna. Padahal, banyak peneliti menganggap bahwa spesies laba-laba ini berwarna merah bak burung merak dan burung kardinal.
Penelitian ini bahkan menyebut bahwa laba-laba jenis ini tidak dapat menghargai penampilan mereka yang mencolok. Selama ini, peneliti menganggap bahwa warna tubuh mereka yang mencolok merupakan alat komunikasi untuk merayu sang betina.
“Kami berasumsi mereka menggunakan warna untuk komunikasi. Tapi, kami tidak tahu apakah sistem visual mereka memungkinkan mereka untuk melihat warna-warna itu,” kata peneliti post-doctoral UC di University of Pittsburgh, David Outomuro, sebagaimana dilansir Euro News.
Para pakar biologi mengumpulkan laba-laba ini di Slovenia untuk kemudian dibawa ke Jerman untuk menjalani proses mikrospektrofotometri, sebuah proses untuk mengidentifikasi fotoreseptor pada sel laba-laba yang sensitif terhadap cahaya atau warna.
Mereka terkejut setelah menemukan bahwa penelitian itu tidak menunjukkan bukti fotoreseptor merah yang berarti laba-laba tidak bisa membedakan warna. Mereka juga mencari filter warna di dalam mata yang mengubah sensitivitas hijau menjadi merah tetapi tidak menemukannya.
Jika demikian, maka bisa jadi warna merah yang sangat jelas bagi kita mungkin saja hanya tampak sebagai tanda hitam pada laba-laba pelompat.
“Agak mengejutkan apa yang terjadi di sini,” kata Profesor Nathan Morehouse, salah seorang tim peneliti.
Ia menambahkan, biasanya, hewan menggunakan warna dalam berbagai cara, kamuflase, memperingatkan pemangsa tentang toksisitas, memamerkan kepada calon pasangan atau mengintimidasi pesaing. Beberapa spesies bahkan bersinar, dengan warnanya yang mencolok, dalam gelap.
“Kami menghabiskan banyak waktu untuk membicarakannya sebagai sebuah grup. Apa lagi yang bisa terjadi? Saya merasa ada cerita menarik di balik misteri itu,” sambung Morehouse.
“Sangat menarik untuk membayangkan bagaimana cara kita memasuki kehidupan hewan yang hidup di dunia dengan cara yang benar-benar asing bagi kita,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]





















