Padang Panjang, Gontornews — Kota Padang Panjang memiliki banyak peninggalan sejarah dalam pengembangan pendidikan dan dakwah Islam. Ini ditandai dengan banyaknya pesantren dan masjid tua. Salah satunya Masjid Asasi di Kelurahan Sigando Nagari Gunuang.
Melihat sekilas masjid yang terletak di Kecamatan Padang Panjang Timur ini tampak bagian atapnya mengingatkan pada atap Masjid Demak yang berbentuk limas tiga tingkat. Sementara bangunan utama yang berjendela dan penuh ukiran mirip dengan Rumah Adat Sumatera Barat atau Rumah Gadang.
Masjid ini merupakan yang tertua kedua di Indonesia yang berdiri pada tahun 1685 Masehi. Sementara masjid tertua, Masjid Saka Tunggal di Banyumas, Jawa Tengah, dibangun sekitar tahun 1200.
Tokoh Masyarakat Sigando, Asrul Efendi mengatakan semula atap masjid berupa ijuk, kemudian diganti menjadi atap seng. “Dinding kayu di bagian dalam yang sudah lapuk juga ikut diganti. Sementara itu lantai dan sembilan tiang di ruang shalat masih asli,” ujar Asrul, Rabu (6/5/2020).
Di sisi masjid terdapat satu bangunan kecil menyerupai teras yang berfungsi sebagai tempat tabuh atau bedug. Sejak awal berdiri, masjid ini merupakan pusat aktivitas Islam dari empat nagari.
Dikutip dari situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, masjid Asasi disebut didirikan oleh masyarakat dari 4 koto dari daerah Gunuang, Paninjauan, Jaho dan Tambangan. Masjid Asasi pernah dijadikan sebagai basis pengembangan Islam terutama mengembangkan Madrasah Thawalib Gunuang.
Dalam catatan di buku Masjid-masjid bersejarah di Indonesia, karangan Abdul Baqir Zein. Bahkan dalam catatan itu, pendirian masjid itu lebih kurang selama 10 tahun dan kemudian dinamai Masjid Asasi Nagari Gunung. Namun, masyarakat setempat awalnya lebih mengenal rumah ibadah itu dengan nama Surau Gadang Sigando.
Menurut e-Book: Masjid-Masjid Kuno di Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar 2005, bahwa Masjid Asasi mulai dibangun pada tahun 1702 oleh masyarakat Batipuh Koto dan mulai dipakai sebagai tempat ibadah pada tahun 1770.
Masjid ini merupakan masjid pertama di Nagari Gunung dan Kota Padang Panjang. Secara umum bangunan masjid masih belum mengalami perubahan signifikan.
Masjid Asasi memiliki denah dasar bujur sangkar 13,1 x13,1 meter, dengan tambahan mihrab pada sisi barat berukuran 2,2 x 4,6 meter serta serambi/beranda (pintu masuk) pada sisi timur berukuran 5 x 4,4 meter.
Pada sisi serambi ini terdapat 2 buah tangga masuk bangunan (sisi kiri-kanan) berbahan beton/coran semen. Pintu masuk bangunan terdapat pada sisi timur.
Secara keseluruhan, jendela masjid berjumlah 14 buah dengan rincian, 2 buah di serambi yang masing-masing menghadap sisi utara dan selatan, bangunan utama 10 buah yang menghadap sisi utara 4 buah, selatan 4 buah dan timur 2 buah, serta 2 buah pada mihrab yang masing-masing menghadap sisi utara dan selatan.
Bangunan masjid ini ditopang oleh 9 buah tiang, dengan rincian terdiri dari 1 tiang soko guru pada bagian tengah serta 8 tiang lainnya yang mengelilingi tiang soko guru.
Atap masjid berbentuk tumpang (limas) dengan jumlah undakan 3 buah. Secara umum komponen bahan bangunan berbahan kayu serta beratap seng. Seluruh dinding bangunan dipenuhi dengan ragam hias motif flora. Pada sisi timur terdapat rumah bedug berukuran 3 x 2 meter. [Fath]






















