Ahmad Ghozali Fadli, alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor 2006 ini, menjual jahe merah agar dapat memberikan manfaat dan menjadi berkah bagi masyarakat luas, khususnya yang berada di sekitar Pesantren Alam Bumi Quran. “Senantiasa memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Digunakan dengan sebaik-baiknya dan senantiasa memberikan keberkahan bagi pesantren,” jelasnya kepada Majalah Gontor.
Ghozali juga menjelaskan asal mula dirinya berinisiatif menjual jahe merah, yaitu di tahun 2015, di mana lahan pesantren tempatnya mengabdi merupakan perkebunan jahe merah. Saat itu sedang terjadi panen raya dan diharapkan dari hasil jahe merah dapat memberikan keuntungan bagi perkembangan pesantren. “Namun harga jual jahe merah jatuh di angka 8 ribu/kg, yang otomatis bakal rugi,” kata alumnus LIPIA ini.
Saat itu, lanjut Ghozali, ia berpikir bagaimana jahe merah yang sudah berhasil dipanen tersebut dapat memberikan keuntungan bagi pesantren. Hingga akhirnya, ia pun berinisiatif membuat serbuk instan jahe merah yang dapat bertahan hingga setahun. “Dari sini, pelanggan terus mencari dan istiqamah membeli,” ungkapnya.
Sementara untuk harganya, kata Ghozali, produk yang diberi nama “The Red Ginger” ini dibandrol dengan harga Rp 20 ribu – Rp 40 ribu per bungkus dengan empat varian rasa yaitu Original, Extrahot, Aren, dan Kurma Ajwa.
Selain menghasilkan produk minuman serbuk instan jahe merah, pesantren miliknya itu juga memiliki produk lain yaitu olahan makanan ringan dengan bahan dasar singkong dan pisang, serta buah. “Jadilah merk Qriuk dengan varian keripik pisang tebu, madu dan coklat. Keripik singkong rasa pedas, jagung manis dan barbeque. Serta keripik aneka buah, Mix Fruit,” jelasnya.
Ghozali menjelaskan, produksi jahe merah dilakukan bersama dengan para santri di Pesantren Alam Bumi Quran di hari Jumat-Ahad. “Mereka mengisi waktu dengan belajar berwirausaha. Ada yang beternak. Ada juga yang berkebun,” katanya.
Sementara untuk produk olahan makanan ringan, ia mengajak para janda dhuafa yang berada di sekitar pesantren untuk memproduksi makanan ringan tersebut. Setidaknya ada 10 janda dhuafa dan dibantu oleh dua admin yang keseluruhannya diperlakukan seperti halnya keluarga pesantren.
Selain itu, kandidat doctor (PhD) di The World Islamic Science and Education University, Jordania, ini juga menjelaskan, saat memulai usaha the red ginger, ia tidak mengeluarkan modal besar, hanya memanfaatkan potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia yang dimiliki Pesantren Alam Bumi Quran. “Kalau modal dalam bentuk rupiah tidak sampai Rp 1 juta,” ungkapnya.
Namun demikian, omset yang diperoleh lumayan besar yaitu sekitar Rp 50 juta – Rp 60 juta per bulan, yang keseluruhannya digunakan untuk perkembangan pesantren.
Ghozali membagi waktu produksi yaitu pada akhir pecan, Jumat hingga Ahad, dimanfaatkan untuk memproduksi The Red Ginger, dan itu murni dilakukan oleh para guru dan santri saja. Sementara untuk produksi makanan olahan yang dilakukan para janda dhuafa yaitu dari hari Senin sampai Kamis. “Dan sisa waktunya wajib dihabiskan bersama keluarga,” jelasnya.
Sebagai santri Gontor, tentu banyak sekali pelajaran yang diperoleh dan kemudian diaplikasikan dalam menjalankan usahanya. Salah satunya Panca Jiwa Gontor, yaitu Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah dan Kebebasan. “Panca Jiwa Pondok menjadi ruh usaha ini,” terangnya.[] Devi Lusianawati




















