Honolulu, Gontornews — Sebuah penelitian dari University of Hawaii di Manoa, Honolulu, menemukan bahwa perubahan iklim memperburuk lebih dari 58 persen penyakit manusia. Dari 375 penyakit manusia yang para peneliti analisis, ada sekitar 218 penyakit yang terbukti terpengaruh oleh perubahan iklim.
Dalam prosesnya, peneliti melakukan pencarian sistematis tentang 10 dampak perubahan iklim akibat gas rumah kaca pada penyakit manusia. Kesepuluh dampak perubahan iklim yaitu pemanasan global, kekeringan, gelombang panas, kebakaran hutan, curah hujan ekstrem, banjir, badai, kenaikan permukaan air laut, perubahan biokimia dan perubahan tutupan lahan.
Peneliti menganalisis lebih dari 70.000 makalah ilmiah yang menghubungkan antara penyakit manusia dan perubahan iklim. Penelitian yang terbit di jurnal daring Nature Climate Change, Senin (8/8/2022), menemukan bahwa semua peristiwa iklim ekstrem menjadi lebih umum terjadi dan lebih parah. Sebagai contoh, peneliti memperhatikan pengaruh pemanasan global pada sejumlah penyakit yang dipicu oleh virus, bakteri, hewan, jamur hingga tanaman.
Secara khusus, para peneliti menemukan bahwa bahaya perubahan iklim membawa patogen menjadi lebih dekat dengan manusia. Sebut saja, menghangatnya suhu dan lingkungannya yang semakin lembap karena peningkatan curah hujan, dapat memicu perkembangbiakan nyamuk, kutu, burung dan sejumlah mamalia. Hewan-hewan ini bertanggungjawab atas penyebaran virus dan bakteri semisal demam berdarah, penyakit lyme hingga malaria.
Dalam situasi saat ini, populasi nyamuk telah menemukan tempat berkembang biak yang baik setelah banjir dan badai. Nyamuk akan menularkan penularan virus umum tetapi juga virus yang lebih parah seperti demam West Nile dan demam kuning.
Jika sebelumnya patogen mendekati manusia, maka perubahan iklim juga mendorong banyak orang untuk lebih dekat dengan patogen. Pasalnya, peristiwa cuaca ekstrem menyebabkan perpindahan dan migrasi paksa ribuan orang di beberapa bagian dunia yang paling rentan. Akibatnya, kontak antara manusia dan patogen semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Para peneliti lantas menghubungkan gelombang panas dengan peningkatan penyebaran penyakit yang menular lewat media air seperti Vibrio dan Gastroenteritis. Sementara itu, peneliti juga mengaitkan badai, banjir dan kenaikan permukaan laut, penyebaran penyakit kolera, pneumonia, tipes, hepatitis, penyakit pernafasan hingga penyakit kulit.
βMengingat konsekuensi luas dari pandemi Covid-19, temuan ini menakutkan guna menemukan kerentanan kesehatan yang muncul sebagai konsekuensi dari emisi gas rumah kaca,β ungkap Camilo Mora, guru besar ilmu geografi di College of Social Science (CSS), dalam sebuah pernyataan.
βAda terlalu banyak penyakit, dan jalur penularannya, agar kita berpikir apakah kita benar-benar dapat beradaptasi dengan perubahan iklim. Temuan ini juga menyoroti kebutuhan mendesak untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara global,β katanya sebagaimana dilansir Euro News. [Mohamad Deny Irawan]


















