Indonesia mempunyai sejumlah pahlawan wanita asal Aceh. Perjuangan wanita dan kancah peperangan telah memberikan warna tersendiri dalam sejarah perjuangan Aceh. Ada sederetan nama seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Laksamana Malahayati, dan pejuang wanita lainnya. Mereka tak pernah gentar mendampingi suami ke medan perang, meski melintasi hutan belantara yang penuh marabahaya, terkadang harus menahan lapar dan dahaga, tapi semangat membela Tanah Air dan agama tidak pernah sirna. Jasa-jasa mereka dalam membela negara patut diapresiasi dengan cara mengenal sosoknya lebih baik.
Cut Nyak Dien (1848-1908)
Salah satu tokoh perempuan hebat Indonesia yang tak kenal menyerah berjuang melawan penjajah yaitu Cut Nyak Dien (1848-1908). Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, seorang Uleebalang (panglima) VI Mukim dari Distrik Militer Sagi XXV. Ibunya juga berasal dari keluarga Uleebalang, yaitu Uleebalang Lampagar.
Pahlawan wanita kelahiran Lam Padang Peukan Bada ini dijuluki βRatu Acehβ karena tekadnya yang kuat melawan kolonial Belanda di Aceh. Pada tahun 1863, Cut Nyak Dien yang saat itu berusia 12 tahun dijodohkan dengan Teuku Ibrahim Lamnga, putra Teuku Po Amat, Uleebalang Lam Nga XIII.
Sebagai istri pejuang, Cut Nyak Dien kerap ditinggal suami berperang. Pada 22 Maret 1873, Cut Nyak Dien ditinggal suami dan ayahnya jihad, dan berhasil mengusir Belanda dari Aceh. Bahkan Panglima Angkatan Darat Belanda Jenderal Kohler gugur dalam pertempuran mempertahankan Kutaraja, ibukota Aceh.
Pada tanggal 11 Desember 1873, Belanda kembali menginvasi Aceh, dipimpin Jenderal Van Switten. Mereka kembali dengan 7.000 prajurit infanteri.
Pada 29 Juni 1878, ayah dan suaminya dikepung, dan setelah pertempuran sengit keduanya tewas. Pertempuran ini dikenal sebagai βPertempuran Sela Glee Tarunβ.
Pada tahun 1880, Cut Nyak Dien dipersunting oleh Teuku Umar. Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dien memimpin pasukan dalam serangkaian misi penyerangan yang sukses. Setelah Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899, Cut Nyak Dien terus melakukan gerilya di pedalaman Meulaboh.
Pada tanggal 6 November 1905, Cut Nyak Dien berhasil ditangkap tentara Belanda. Setahun berikutnya, tepatnya pada 11 Desember 1906, Belanda mengasingkannya ke Sumedang, Jawa Barat. Cut Nyak Dien wafat pada 6 November 1908, dan dimakamkan di Kompleks Gunung Puyuh, tak jauh dari Masjid Agung Sumedang.
Presiden Soekarno melalui SK Presiden RI Nomor 106 Tahun 1964 menetapkan Cut Nyak Dien sebagai Pahlawan Nasional pada 2 Mei 1962. Sementara rumah Cut Nyak Dien di Aceh dibangun kembali oleh pemerintah daerah setempat sebagai simbol perjuangannya di Tanah Rencong.
Cut Meutia (1870-1910)
Cut Meutia atau Cut Nyak Meutia, satu-satunya anak perempuan dari pasangan Teuku Ben Daud Pirak dan Cut Jah ini lahir di Keureutoe, Pirak (Perlak), Aceh Utara, pada 1870. Cut Meutia tumbuh sebagai seorang gadis cantik rupawan. Banyak pemuda yang datang untuk meminang dan menikahinya.
Cut Meutia menikah dengan Teuku Syam Sareh, tapi kurang bahagia karena suaminya cenderung tunduk pada Belanda. Cut Meutia pun pulang ke rumah orangtuanya. Setelah pernikahannya berakhir, Cut Meutia dinikahi adik Teuku Syam Sareh, yaitu Teuku Cut Muhammad yang kemudian bergelar Teuku Cik Tunong.
Saat itu tanah Aceh membara. Para pejuang Aceh berjibaku mengusir penjajah Belanda. Cut Meutia terpanggil untuk berjuang bersama suaminya. Sejak itu, mereka keluar masuk hutan bertempur melawan Belanda. Cik Tunong memimpin pertempuran di Aceh Utara bagian timur di tahun 1901 hingga 1903. Namun, Cik Tunong berhasil ditangkap dan ditembak mati Belanda.
Saat itu Cut Meutia dalam keadaan hamil tua dan sakit parah, bahkan lumpuh karena kurang makan, kurang perawatan, dan kurang pengobatan. Dalam kondisi demikian anak kembarnya meninggal dunia setelah lahir.
Tidak lama setelah itu, Cut Meutia dinikahi Cik Pang Naggroe. Bersama sang suami, Cut Meutia meneruskan perjuangan. Saat pasukan Muslimin sedang beristirahat, tiba-tiba musuh menyerang. Kaum wanita yang dipimpin Cut Meutia mundur ke pedalaman, sedangkan Teuku Raja Sabi, putranya,Β bertempur bersama Cik Pang Nanggroe. Pada tanggal 26 September 1910, Cik Pang Nanggroe berhasil dilumpuhkan.
Kemudian, pimpinan pasukan diserahkan kepada Cut Meutia. Setelah bermufakat, mereka berangkat ke Gayo bergabung dengan pasukan lain. Namun naas, mereka diserang secara mendadak oleh pasukan Christoffel di persimpangan Krueng Peutoe. Cut Meutia ditembak kakinya, dengan pedang terhunus ia terus mengadakan perlawanan hingga terbunuh. Cut Meutia gugur di medan pertempuran sebagai pejuang dari Tanah Rencong.
Dengan SK Presiden RI No. 107 Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964, Cut Meutia dianugerahi sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Laksamana Malahayati (1585-1606)
Keumalahayati atau Malahayati lahir di Aceh tahun 1585. Dia merupakan laksamana laut perempuan Muslimah pertama di Indonesia dan dunia. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah dan kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra Sultan Salahuddin dari Kesultanan Aceh Darussalam (1530-1539).
Selain dari sang ayah, Malahayati juga menimba ilmu di Akademi Militer Maβhad Baitul Maqdis. Di tempat ini pula Malahayati bertemu dengan tambatan hatinya, Tuanku Mahmuddin bin Said al-Latief. Namun belum lama menikah, suaminya syahid dalam perang melawan Portugis di Selat Malaka (1590).
Tak lama setelah itu, Malahayati mengajukan permintaan kepada Sultan Saidil Mukammil Alaudi Riayat Syah untuk membentuk armada laut yang terdiri dari semua janda dalam pertempuran Selat Malaka. Armada bentukan Malahayati dinamakan Armada Inong Balee (Armada Wanita Janda).
Laksamana Malahayati membentuk 100 armada kapal perang besar yang dilengkapi meriam dan senjata modern saat itu, serta merekrut personil tambahan. Kapal komando pertama dinamai Teror Laut Tariq bin Ziyad, kedua dinamai Guntur Laut Uqbah bin Nafiβ, dan ketiga dinamai Khaibar-Khaibar.
Laksamana Malahayati memimpin serangkaian pertempuran laut melawan Portugis, Inggris, dan Cina. Salah satunya pertempuran yang terjadi pada tanggal 21 Juni 1599. Ketika itu Cornelis de Houtman meregang nyawa oleh tikaman rencong Malahayati, dan berhasil menawan Frederijk de Houtman.
Selain dikenal sebagai panglima perang, Malahayati juga seorang diplomat ulung. Sultan Saidil Mukammil beberapa kali menunjuk Malahayati sebagai diplomat resmi, seperti perundingan antara Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Belanda yang diwakili Laksamana Laurens Bicker dan Komisaris Gerard de Roy. Termasuk perundingan antara Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Inggris yang dipimpin Sir James Lancaster dengan membawa surat resmi dari Ratu Elizabeth I yang meminta izin untuk berdagang di Serambi Mekkah, dan memohon perlindungan. Sultan tidak keliru, perundingan membawa hasil baik.
Konon, Malahayati gugur saat memimpin pasukan Aceh menghadapi armada Portugis di bawah Alfonso de Castro pada Juni 1606, lalu dimakamkan di lereng Bukit Lamkuta, 34 kilometer dari Banda Aceh. Pada 9 November 2017, Presiden Joko Widodo menobatkan Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional. []






















