pesanan-majalah-edisi-khusus
27 °c
Pecenongan
Fri
Sat
Thursday, 27 August, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Laput

Mujahidah Tanah Rencong

Oleh Muhammad Khaerul Muttaqien, Reporter Majalah Gontor

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
13 November 2022
in Laput
0
Foto: popularitas.com

Indonesia mempunyai sejumlah pahlawan wanita asal Aceh. Perjuangan wanita dan kancah peperangan telah memberikan warna tersendiri dalam sejarah perjuangan Aceh. Ada sederetan nama seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Laksamana Malahayati, dan pejuang wanita lainnya. Mereka tak pernah gentar mendampingi suami ke medan perang, meski melintasi hutan belantara yang penuh marabahaya, terkadang harus menahan lapar dan dahaga, tapi semangat membela Tanah Air dan agama tidak pernah sirna. Jasa-jasa mereka dalam membela negara patut diapresiasi dengan cara mengenal sosoknya lebih baik.

Cut Nyak Dien (1848-1908)

Salah satu tokoh perempuan hebat Indonesia yang tak kenal menyerah berjuang melawan penjajah yaitu Cut Nyak Dien (1848-1908). Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, seorang Uleebalang (panglima) VI Mukim dari Distrik Militer Sagi XXV. Ibunya juga berasal dari keluarga Uleebalang, yaitu Uleebalang Lampagar.

Pahlawan wanita kelahiran Lam Padang Peukan Bada ini dijuluki β€œRatu Aceh” karena tekadnya yang kuat melawan kolonial Belanda di Aceh. Pada tahun 1863, Cut Nyak Dien yang saat itu berusia 12 tahun dijodohkan dengan Teuku Ibrahim Lamnga, putra Teuku Po Amat, Uleebalang Lam Nga XIII.

BACA JUGA

Jejak Pengusaha Alumni Gontor: Dari Dunia Usaha ke Pendidikan

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Guru Berperan Menanamkan Adab

Menjaga Fitrah dan Istiqamah Pasca-Ramadhan

Perintah Menjaga Lingkungan Hidup

Sebagai istri pejuang, Cut Nyak Dien kerap ditinggal suami berperang. Pada 22 Maret 1873, Cut Nyak Dien ditinggal suami dan ayahnya jihad, dan berhasil mengusir Belanda dari Aceh. Bahkan Panglima Angkatan Darat Belanda Jenderal Kohler gugur dalam pertempuran mempertahankan Kutaraja, ibukota Aceh.

Pada tanggal 11 Desember 1873, Belanda kembali menginvasi Aceh, dipimpin Jenderal Van Switten. Mereka kembali dengan 7.000 prajurit infanteri.

Pada 29 Juni 1878, ayah dan suaminya dikepung, dan setelah pertempuran sengit keduanya tewas. Pertempuran ini dikenal sebagai β€œPertempuran Sela Glee Tarun”.

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dien dipersunting oleh Teuku Umar. Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dien memimpin pasukan dalam serangkaian misi penyerangan yang sukses. Setelah Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899, Cut Nyak Dien terus melakukan gerilya di pedalaman Meulaboh.

Pada tanggal 6 November 1905, Cut Nyak Dien berhasil ditangkap tentara Belanda. Setahun berikutnya, tepatnya pada 11 Desember 1906, Belanda mengasingkannya ke Sumedang, Jawa Barat. Cut Nyak Dien wafat pada 6 November 1908, dan dimakamkan di Kompleks Gunung Puyuh, tak jauh dari Masjid Agung Sumedang.

Presiden Soekarno melalui SK Presiden RI Nomor 106 Tahun 1964 menetapkan Cut Nyak Dien sebagai Pahlawan Nasional pada 2 Mei 1962. Sementara rumah Cut Nyak Dien di Aceh dibangun kembali oleh pemerintah daerah setempat sebagai simbol perjuangannya di Tanah Rencong.

Cut Meutia (1870-1910)

Cut Meutia atau Cut Nyak Meutia, satu-satunya anak perempuan dari pasangan Teuku Ben Daud Pirak dan Cut Jah ini lahir di Keureutoe, Pirak (Perlak), Aceh Utara, pada 1870. Cut Meutia tumbuh sebagai seorang gadis cantik rupawan. Banyak pemuda yang datang untuk meminang dan menikahinya.

Cut Meutia menikah dengan Teuku Syam Sareh, tapi kurang bahagia karena suaminya cenderung tunduk pada Belanda. Cut Meutia pun pulang ke rumah orangtuanya. Setelah pernikahannya berakhir, Cut Meutia dinikahi adik Teuku Syam Sareh, yaitu Teuku Cut Muhammad yang kemudian bergelar Teuku Cik Tunong.

Saat itu tanah Aceh membara. Para pejuang Aceh berjibaku mengusir penjajah Belanda. Cut Meutia terpanggil untuk berjuang bersama suaminya. Sejak itu, mereka keluar masuk hutan bertempur melawan Belanda. Cik Tunong memimpin pertempuran di Aceh Utara bagian timur di tahun 1901 hingga 1903. Namun, Cik Tunong berhasil ditangkap dan ditembak mati Belanda.

Saat itu Cut Meutia dalam keadaan hamil tua dan sakit parah, bahkan lumpuh karena kurang makan, kurang perawatan, dan kurang pengobatan. Dalam kondisi demikian anak kembarnya meninggal dunia setelah lahir.

Tidak lama setelah itu, Cut Meutia dinikahi Cik Pang Naggroe. Bersama sang suami, Cut Meutia meneruskan perjuangan. Saat pasukan Muslimin sedang beristirahat, tiba-tiba musuh menyerang. Kaum wanita yang dipimpin Cut Meutia mundur ke pedalaman, sedangkan Teuku Raja Sabi, putranya,Β  bertempur bersama Cik Pang Nanggroe. Pada tanggal 26 September 1910, Cik Pang Nanggroe berhasil dilumpuhkan.

Kemudian, pimpinan pasukan diserahkan kepada Cut Meutia. Setelah bermufakat, mereka berangkat ke Gayo bergabung dengan pasukan lain. Namun naas, mereka diserang secara mendadak oleh pasukan Christoffel di persimpangan Krueng Peutoe. Cut Meutia ditembak kakinya, dengan pedang terhunus ia terus mengadakan perlawanan hingga terbunuh. Cut Meutia gugur di medan pertempuran sebagai pejuang dari Tanah Rencong.

Dengan SK Presiden RI No. 107 Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964, Cut Meutia dianugerahi sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Laksamana Malahayati (1585-1606)

Keumalahayati atau Malahayati lahir di Aceh tahun 1585. Dia merupakan laksamana laut perempuan Muslimah pertama di Indonesia dan dunia. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah dan kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra Sultan Salahuddin dari Kesultanan Aceh Darussalam (1530-1539).

Selain dari sang ayah, Malahayati juga menimba ilmu di Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis. Di tempat ini pula Malahayati bertemu dengan tambatan hatinya, Tuanku Mahmuddin bin Said al-Latief. Namun belum lama menikah, suaminya syahid dalam perang melawan Portugis di Selat Malaka (1590).

Tak lama setelah itu, Malahayati mengajukan permintaan kepada Sultan Saidil Mukammil Alaudi Riayat Syah untuk membentuk armada laut yang terdiri dari semua janda dalam pertempuran Selat Malaka. Armada bentukan Malahayati dinamakan Armada Inong Balee (Armada Wanita Janda).

Laksamana Malahayati membentuk 100 armada kapal perang besar yang dilengkapi meriam dan senjata modern saat itu, serta merekrut personil tambahan. Kapal komando pertama dinamai Teror Laut Tariq bin Ziyad, kedua dinamai Guntur Laut Uqbah bin Nafi’, dan ketiga dinamai Khaibar-Khaibar.

Laksamana Malahayati memimpin serangkaian pertempuran laut melawan Portugis, Inggris, dan Cina. Salah satunya pertempuran yang terjadi pada tanggal 21 Juni 1599. Ketika itu Cornelis de Houtman meregang nyawa oleh tikaman rencong Malahayati, dan berhasil menawan Frederijk de Houtman.

Selain dikenal sebagai panglima perang, Malahayati juga seorang diplomat ulung. Sultan Saidil Mukammil beberapa kali menunjuk Malahayati sebagai diplomat resmi, seperti perundingan antara Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Belanda yang diwakili Laksamana Laurens Bicker dan Komisaris Gerard de Roy. Termasuk perundingan antara Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Inggris yang dipimpin Sir James Lancaster dengan membawa surat resmi dari Ratu Elizabeth I yang meminta izin untuk berdagang di Serambi Mekkah, dan memohon perlindungan. Sultan tidak keliru, perundingan membawa hasil baik.

Konon, Malahayati gugur saat memimpin pasukan Aceh menghadapi armada Portugis di bawah Alfonso de Castro pada Juni 1606, lalu dimakamkan di lereng Bukit Lamkuta, 34 kilometer dari Banda Aceh. Pada 9 November 2017, Presiden Joko Widodo menobatkan Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional. []

Tags: Cut Nyak DienCut Nyak MeutiaMalahayati
Share16Tweet10Send
Previous Post

Pasukan Rusia akan Tinggalkan Kota Dekat Bendungan Sungai Dnipro

Next Post

Rudal Houthi Tewaskan 6 Orang di Provinsi Lahj Yaman

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Santri Gontor Kampus 2 Terpapar Covid-19 Pulih dengan Cepat. Apa Faktornya?

Qismul Amn dan Pembicaraan yang Tiada Henti

24 August 2026
100 Tahun Gontor: Kembali ke Gontor untuk Mengisi Baterai Batin

100 Tahun Gontor: Kembali ke Gontor untuk Mengisi Baterai Batin

20 August 2026
Kemerdekaan Sejati dalam Perspektif Al-Qur’an

Kemerdekaan Sejati dalam Perspektif Al-Qur’an

22 August 2026
Al Mujtama Al Islami 4 Cianjur Laksanakan Apel Tahunan Khutbatul Arsy

Al Mujtama Al Islami 4 Cianjur Laksanakan Apel Tahunan Khutbatul Arsy

23 August 2026
Sujud Syukur dan Laporan Pertanggungjawaban Menutup Rangkaian Ujian Tulis Al-Imtinan Putri

Sujud Syukur dan Laporan Pertanggungjawaban Menutup Rangkaian Ujian Tulis Al-Imtinan Putri

23 August 2026
Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

0
Ketika Guru Turun Arena, HKS SDIT Insantama Leuwiliang Jadi Luar Biasa!

Ketika Guru Turun Arena, HKS SDIT Insantama Leuwiliang Jadi Luar Biasa!

0
Teruskan Khidmah, IKPM Gontor Majalengka Gelar Pelantikan Pengurus Baru 2026-2031

Teruskan Khidmah, IKPM Gontor Majalengka Gelar Pelantikan Pengurus Baru 2026-2031

0
Estafet Khidmah Alumni pada Kepengurusan Baru IKPM Gontor Indramayu

Estafet Khidmah Alumni pada Kepengurusan Baru IKPM Gontor Indramayu

0
IKPM Gontor Banten Sambut Kepulangan Santri Putra dan Putri

IKPM Gontor Banten Sambut Kepulangan Santri Putra dan Putri

0
Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

26 August 2026
Ketika Guru Turun Arena, HKS SDIT Insantama Leuwiliang Jadi Luar Biasa!

Ketika Guru Turun Arena, HKS SDIT Insantama Leuwiliang Jadi Luar Biasa!

24 August 2026
Estafet Khidmah Alumni pada Kepengurusan Baru IKPM Gontor Indramayu

Estafet Khidmah Alumni pada Kepengurusan Baru IKPM Gontor Indramayu

24 August 2026
Teruskan Khidmah, IKPM Gontor Majalengka Gelar Pelantikan Pengurus Baru 2026-2031

Teruskan Khidmah, IKPM Gontor Majalengka Gelar Pelantikan Pengurus Baru 2026-2031

24 August 2026
IKPM Gontor Banten Sambut Kepulangan Santri Putra dan Putri

IKPM Gontor Banten Sambut Kepulangan Santri Putra dan Putri

24 August 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor
  • Global Islamic Holistic Education Summit.
Lokasi : Hotel Borobudur Jakarta, Indonesia
Tanggal : 5 - 6 September 2026Akhir Pendaftaran : 27 Agustus 2026Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, kami mengundang Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.GIHES 2026 merupakan forum Internasional yang mempertemukan pimpinan pesantren, lembaga pendidikan Islam, akademisi, pembuat kebijakan, dan tokoh pendidikan untuk berbagi perspektif, membahas tantangan strategis, serta membangun sinergi dan kolaborasi bagi kemajuan pendidikan dan generasi mendatang.#gontornews #majalahgontor #gihes
  • Dari Los Angeles, California, Amerika Serikat, tepatnya di Hollywood Sign dengan jarak kurang lebih 14.000 kilometer dari pondok Modern Darussalam Gontor. Doa-doa kebaikan disampaikan kepada Pondok Modern Darussalam Gontor dan Keluarga Besar Gontor.#majalahgontor #gontornews #100tahungontor #gontorponorogo
  • Yang di Wakafkan Pondok Ini Bukan Harta Bendanya Saja, Bukan Gedungnya Saja, Bukan Tanahnya Saja, Tetapi Nilai-Nilai Yang Ada di Pondok Ini, Ide Yang Ada di Pondok Ini, Sistem Yang Ada di Pondok Ini Adalah Wakaf Bagi Kita Semua.KH Hasan Abdullah Sahal Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.#gontornews #majalahgontor #gontor #pondokmoderngontor #gontorponorogo
  • Repost from @hilabiyus Keluarga Besar Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Arab Saudi, mengucapkan:Selamat dan Sukses atas Peringatan Satu Abad (100 Tahun) Pondok Modern Darussalam Gontor (1926–2026).Apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan kontribusi tanpa henti Gontor dalam mencetak generasi emas Islam yang berakhlak mulia, berwawasan global, dan bergerak sebagai perekat umat. Semoga momentum satu abad ini semakin mengokohkan peran Gontor dalam syiar pendidikan Islam yang moderat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kancah internasional, termasuk melahirkan alumni-alumni unggul yang berkiprah di wilayah Arab Saudi dan Timur Tengah."Gontor Membawa Nilai Islam, Menginspirasi Dunia."#gontor #gontor.putra #majalahgontor #gontornews
  • Lebih baik kamu menangis karena berpisah sementara dengan anakmu, karena menuntut ilmu agama dari pada kamu nanti "yen wes tuwo nangis karena anak-anak mu lalai urusan akhirat.. kakean mikir ndunyo, rebutan bondo, pamer rupo..lali surgo."Kiai Hasan Abdullah Sahal
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
  • Edisi September yang akan datang.
Liputan Khusus :
1. Peta sebaran Pondok Alumni Gontor di Indonesia
2. Prospek dan Tantangan Pondok Alumni-Muadalah
3. KH Hasan Abdullah Sahal: Gontor Sebagai Inspirator Pondok Modern Yang Bersatu
4. Kipran Pondok Pesantren Alumni Gontor di Mancanegarapesan sekarang!
  • KOLEKSI EDISI KHUSUS 100 TAHUN GONTORTiga edisi istimewa telah hadir!
πŸ“– Juli 2026 – Seabad Mendidik Bangsa
πŸ“– Agustus 2026 – UNIDA Gontor Mendunia
πŸ“– September 2026 – Satu Abad, Seribu GontorJadikan ketiganya sebagai koleksi sejarah 100 Tahun Gontor di perpustakaan AndaπŸ›’ Segera pesan sebelum kehabisan!
πŸ”— https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor #100tahungontor #gontor100tahun #gontornews

Β© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
β–²
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result