pesanan-baju-kaos
37 °c
Pecenongan
Mon
Tue
Sunday, 18 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Laput

Mujahidah Tanah Rencong

Oleh Muhammad Khaerul Muttaqien, Reporter Majalah Gontor

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
13 November 2022
in Laput
0
Foto: popularitas.com

Indonesia mempunyai sejumlah pahlawan wanita asal Aceh. Perjuangan wanita dan kancah peperangan telah memberikan warna tersendiri dalam sejarah perjuangan Aceh. Ada sederetan nama seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Laksamana Malahayati, dan pejuang wanita lainnya. Mereka tak pernah gentar mendampingi suami ke medan perang, meski melintasi hutan belantara yang penuh marabahaya, terkadang harus menahan lapar dan dahaga, tapi semangat membela Tanah Air dan agama tidak pernah sirna. Jasa-jasa mereka dalam membela negara patut diapresiasi dengan cara mengenal sosoknya lebih baik.

Cut Nyak Dien (1848-1908)

Salah satu tokoh perempuan hebat Indonesia yang tak kenal menyerah berjuang melawan penjajah yaitu Cut Nyak Dien (1848-1908). Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, seorang Uleebalang (panglima) VI Mukim dari Distrik Militer Sagi XXV. Ibunya juga berasal dari keluarga Uleebalang, yaitu Uleebalang Lampagar.

Pahlawan wanita kelahiran Lam Padang Peukan Bada ini dijuluki “Ratu Aceh” karena tekadnya yang kuat melawan kolonial Belanda di Aceh. Pada tahun 1863, Cut Nyak Dien yang saat itu berusia 12 tahun dijodohkan dengan Teuku Ibrahim Lamnga, putra Teuku Po Amat, Uleebalang Lam Nga XIII.

BACA JUGA

Jejak Pengusaha Alumni Gontor: Dari Dunia Usaha ke Pendidikan

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Guru Berperan Menanamkan Adab

Menjaga Fitrah dan Istiqamah Pasca-Ramadhan

Perintah Menjaga Lingkungan Hidup

Sebagai istri pejuang, Cut Nyak Dien kerap ditinggal suami berperang. Pada 22 Maret 1873, Cut Nyak Dien ditinggal suami dan ayahnya jihad, dan berhasil mengusir Belanda dari Aceh. Bahkan Panglima Angkatan Darat Belanda Jenderal Kohler gugur dalam pertempuran mempertahankan Kutaraja, ibukota Aceh.

Pada tanggal 11 Desember 1873, Belanda kembali menginvasi Aceh, dipimpin Jenderal Van Switten. Mereka kembali dengan 7.000 prajurit infanteri.



Pada 29 Juni 1878, ayah dan suaminya dikepung, dan setelah pertempuran sengit keduanya tewas. Pertempuran ini dikenal sebagai “Pertempuran Sela Glee Tarun”.

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dien dipersunting oleh Teuku Umar. Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dien memimpin pasukan dalam serangkaian misi penyerangan yang sukses. Setelah Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899, Cut Nyak Dien terus melakukan gerilya di pedalaman Meulaboh.

Pada tanggal 6 November 1905, Cut Nyak Dien berhasil ditangkap tentara Belanda. Setahun berikutnya, tepatnya pada 11 Desember 1906, Belanda mengasingkannya ke Sumedang, Jawa Barat. Cut Nyak Dien wafat pada 6 November 1908, dan dimakamkan di Kompleks Gunung Puyuh, tak jauh dari Masjid Agung Sumedang.

Presiden Soekarno melalui SK Presiden RI Nomor 106 Tahun 1964 menetapkan Cut Nyak Dien sebagai Pahlawan Nasional pada 2 Mei 1962. Sementara rumah Cut Nyak Dien di Aceh dibangun kembali oleh pemerintah daerah setempat sebagai simbol perjuangannya di Tanah Rencong.

Cut Meutia (1870-1910)

Cut Meutia atau Cut Nyak Meutia, satu-satunya anak perempuan dari pasangan Teuku Ben Daud Pirak dan Cut Jah ini lahir di Keureutoe, Pirak (Perlak), Aceh Utara, pada 1870. Cut Meutia tumbuh sebagai seorang gadis cantik rupawan. Banyak pemuda yang datang untuk meminang dan menikahinya.

Cut Meutia menikah dengan Teuku Syam Sareh, tapi kurang bahagia karena suaminya cenderung tunduk pada Belanda. Cut Meutia pun pulang ke rumah orangtuanya. Setelah pernikahannya berakhir, Cut Meutia dinikahi adik Teuku Syam Sareh, yaitu Teuku Cut Muhammad yang kemudian bergelar Teuku Cik Tunong.

Saat itu tanah Aceh membara. Para pejuang Aceh berjibaku mengusir penjajah Belanda. Cut Meutia terpanggil untuk berjuang bersama suaminya. Sejak itu, mereka keluar masuk hutan bertempur melawan Belanda. Cik Tunong memimpin pertempuran di Aceh Utara bagian timur di tahun 1901 hingga 1903. Namun, Cik Tunong berhasil ditangkap dan ditembak mati Belanda.

Saat itu Cut Meutia dalam keadaan hamil tua dan sakit parah, bahkan lumpuh karena kurang makan, kurang perawatan, dan kurang pengobatan. Dalam kondisi demikian anak kembarnya meninggal dunia setelah lahir.

Tidak lama setelah itu, Cut Meutia dinikahi Cik Pang Naggroe. Bersama sang suami, Cut Meutia meneruskan perjuangan. Saat pasukan Muslimin sedang beristirahat, tiba-tiba musuh menyerang. Kaum wanita yang dipimpin Cut Meutia mundur ke pedalaman, sedangkan Teuku Raja Sabi, putranya,  bertempur bersama Cik Pang Nanggroe. Pada tanggal 26 September 1910, Cik Pang Nanggroe berhasil dilumpuhkan.

Kemudian, pimpinan pasukan diserahkan kepada Cut Meutia. Setelah bermufakat, mereka berangkat ke Gayo bergabung dengan pasukan lain. Namun naas, mereka diserang secara mendadak oleh pasukan Christoffel di persimpangan Krueng Peutoe. Cut Meutia ditembak kakinya, dengan pedang terhunus ia terus mengadakan perlawanan hingga terbunuh. Cut Meutia gugur di medan pertempuran sebagai pejuang dari Tanah Rencong.

Dengan SK Presiden RI No. 107 Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964, Cut Meutia dianugerahi sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Laksamana Malahayati (1585-1606)

Keumalahayati atau Malahayati lahir di Aceh tahun 1585. Dia merupakan laksamana laut perempuan Muslimah pertama di Indonesia dan dunia. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah dan kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra Sultan Salahuddin dari Kesultanan Aceh Darussalam (1530-1539).

Selain dari sang ayah, Malahayati juga menimba ilmu di Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis. Di tempat ini pula Malahayati bertemu dengan tambatan hatinya, Tuanku Mahmuddin bin Said al-Latief. Namun belum lama menikah, suaminya syahid dalam perang melawan Portugis di Selat Malaka (1590).

Tak lama setelah itu, Malahayati mengajukan permintaan kepada Sultan Saidil Mukammil Alaudi Riayat Syah untuk membentuk armada laut yang terdiri dari semua janda dalam pertempuran Selat Malaka. Armada bentukan Malahayati dinamakan Armada Inong Balee (Armada Wanita Janda).

Laksamana Malahayati membentuk 100 armada kapal perang besar yang dilengkapi meriam dan senjata modern saat itu, serta merekrut personil tambahan. Kapal komando pertama dinamai Teror Laut Tariq bin Ziyad, kedua dinamai Guntur Laut Uqbah bin Nafi’, dan ketiga dinamai Khaibar-Khaibar.

Laksamana Malahayati memimpin serangkaian pertempuran laut melawan Portugis, Inggris, dan Cina. Salah satunya pertempuran yang terjadi pada tanggal 21 Juni 1599. Ketika itu Cornelis de Houtman meregang nyawa oleh tikaman rencong Malahayati, dan berhasil menawan Frederijk de Houtman.

Selain dikenal sebagai panglima perang, Malahayati juga seorang diplomat ulung. Sultan Saidil Mukammil beberapa kali menunjuk Malahayati sebagai diplomat resmi, seperti perundingan antara Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Belanda yang diwakili Laksamana Laurens Bicker dan Komisaris Gerard de Roy. Termasuk perundingan antara Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Inggris yang dipimpin Sir James Lancaster dengan membawa surat resmi dari Ratu Elizabeth I yang meminta izin untuk berdagang di Serambi Mekkah, dan memohon perlindungan. Sultan tidak keliru, perundingan membawa hasil baik.

Konon, Malahayati gugur saat memimpin pasukan Aceh menghadapi armada Portugis di bawah Alfonso de Castro pada Juni 1606, lalu dimakamkan di lereng Bukit Lamkuta, 34 kilometer dari Banda Aceh. Pada 9 November 2017, Presiden Joko Widodo menobatkan Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional. []

Tags: Cut Nyak DienCut Nyak MeutiaMalahayati
Share19Tweet12Send
Previous Post

Pasukan Rusia akan Tinggalkan Kota Dekat Bendungan Sungai Dnipro

Next Post

Rudal Houthi Tewaskan 6 Orang di Provinsi Lahj Yaman

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Santrivation: Teman Bertumbuh Para Santri Gapai Sukses di Kemudian Hari

Santrivation: Teman Bertumbuh Para Santri Gapai Sukses di Kemudian Hari

15 October 2026
Pondok Pesantren Syafa’atul Qur’an Jember Dorong Pemanfaatan Media Sosial

Pondok Pesantren Syafa’atul Qur’an Jember Dorong Pemanfaatan Media Sosial

12 October 2026
Gontor Maju Karena Keharmonisan & Ukhuwwah

Pesan Kiai Gontor tentang Jabatan dan Gelar (Akademik)

16 October 2026
UNIDA Gontor Gelar Ramadhan Ceria di Dusun Ngetrep

Internalisasi Keimanan Anak Usia Sekolah Dasar: Sinergi Pembinaan Keluarga dan Lingkungan Sosial

16 October 2026
Gontor Putri Kampus 3 Karangbanyu Gelar Pelatihan Bahasa ‘Lingo Zone’

Gontor Putri Kampus 3 Karangbanyu Gelar Pelatihan Bahasa ‘Lingo Zone’

13 October 2026
Kisah Hijrah Dennis Lim, Tinggalkan Dunia Judi dan Menjadi Pendakwah

Kisah Hijrah Dennis Lim, Tinggalkan Dunia Judi dan Menjadi Pendakwah

0
Tantangan Orang Tua Mendidik Anak di Era Digital

Tantangan Orang Tua Mendidik Anak di Era Digital

0
Cara Darul Falah Sukorejo Hadapi Kecerdasan Buatan

Cara Darul Falah Sukorejo Hadapi Kecerdasan Buatan

0
Darul Falah Sukorejo di Panggung TVRI: Adab dan Kreativitas

Darul Falah Sukorejo di Panggung TVRI: Adab dan Kreativitas

0
masjid si pitung

Masjid Al Alam Marunda, Saksi Sejarah Islam di Pesisir Jakarta Utara

0
Cara Darul Falah Sukorejo Hadapi Kecerdasan Buatan

Cara Darul Falah Sukorejo Hadapi Kecerdasan Buatan

18 October 2026
Tantangan Orang Tua Mendidik Anak di Era Digital

Tantangan Orang Tua Mendidik Anak di Era Digital

18 October 2026
Darul Falah Sukorejo di Panggung TVRI: Adab dan Kreativitas

Darul Falah Sukorejo di Panggung TVRI: Adab dan Kreativitas

18 October 2026
masjid si pitung

Masjid Al Alam Marunda, Saksi Sejarah Islam di Pesisir Jakarta Utara

18 October 2026
Kisah Hijrah Dennis Lim, Tinggalkan Dunia Judi dan Menjadi Pendakwah

Kisah Hijrah Dennis Lim, Tinggalkan Dunia Judi dan Menjadi Pendakwah

18 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result