London, Gontornews — Pusat pencegahan dan pengendalian penyakit Uni Eropa, ECDC, Kamis (22/06/2023), mengingatkan bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan penyebaran penyakit yang terkait dengan nyamuk.
Laporan terbaru ECDC mengungkap bahwa kenaikan suhu, peningkatan banjir serta musim panas yang berkepanjangan telah meningkatkan kemampuan perkembangbiakan nyamuk pembawa patogen seperti Aedes albopictus dan Aedes aegepty. Kedua nyamuk tersebut bertanggungjawab atas penularan penyakit seperti demam kuning, demam berdarah hingga cikhungunya.
ECDC menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir, penyebaran nyamuk invasif ini berkembang sangat pesat, termasuk ke wilayah Uni Eropa yang sebelumnya tidak tersentuh. Direktur ECDC, Andrea Ammon, mengungkapkan keprihatinannya atas perkembangan penyebaran nyamuk yang disebabkan oleh perubahan iklim tersebut.
βJika tren ini berlanjut, kami memperkirakan terjadinya lonjakan kasus serta kematian akibat penyakti seperti demam berdarah, chikungunya dan demam West Nile,β kata Ammon sebagaimana dilansir Anadolu.
βSangat penting untuk mengintensifkan upaya guna mengendalikan populasi nyamuk, memperkuat pengawasn serta mempromosikan tindakan perlindungan secara pribadi,β tambahnya.
Pada tahun 2013, ECDC mencatat nyamuk Aedes albopictus atau nyamuk macan Asia terkonfirmasi di delapan negara Uni Eropa dengan 114 wilayah yang terpengaruh. Angka ini melonjak drastis pada tahun 2023, saat lembaga pengendalian penyakit Uni Eropa itu menemukan nyamuk tersebut di 13 negara dengan 337 wilayah yang terpengaruh. [Mohamad Deny Irawan]






















