Peringatan 1 Muharram selalu identik dengan aksi hijrahnya Rasulullah SAW dan para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah. Tentu saja, secara esensial, hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW tidak lepas dari maksud untuk menjadi lebih baik atau berpindah dari sesuatu yang baik menjadi sesuatu yang lebih baik lagi.
Salah seorang Aktor, Influencer, dan Enterpreneur, Teuku Wisnu, mengakui bahwa pengalamannya berhijrah telah menyadarkan dirinya tentang tujuan hidup yang sebenarnya. Berhijrah juga membawa dirinya menjadi sosok yang lebih produktif dan memahami seberapa besar pahala yang disiapkan Allah SWT kepada para pejuang keluarga.
“Maka dari itu (dengan berhijrah) saya mencoba untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik. Perasaan saya pun menjadi tenang ketika mengetahui bahwa untuk mencapai tujuan itu, ada hal yang harus saya lakukan,” katanya saat ditemui di kediamannya di Bintaro, Tangerang Selatan.
Wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan untuk mewawancarai pria yang berperan sebagai “Farel” dalam sinetron Cinta Fitri pada tahun 2007-2011 itu. Simak pengalaman hidup dan tantangannya dalam berhijrah di bawah ini. Selamat membaca!
Apa yang Anda rasakan sebelum dan setelah berhijrah?
Dulu (sebelum hijrah) saat mencari nafkah tujuannya memang banyak sekali, terutama poin-poin duniawi. Tujuan itu terus berulang sampai terkadang saya tidak terlalu memikirkan halal-haramnya. Andaipun mempertimbangkan aspek halal, itu hanya sebatas literasi halal yang berdasarkan asumsi saya saja. Dulu, karena terlalu duniawi, saat sebelum hijrah tentunya, usai bekerja rasa capek-nya luar biasa. Tapi setelah dapat transferan, seketika rasa capek-nya hilang. Pertanyaannya, bagaimana saat projek kita tidak berhasil? Ya, sebatas tidak dapat apa-apa.
Sebelum hijrah, saya banyak melakukan hal yang dilakukan termasuk bermuamalah dalam makna yang lebih luas, bukan sekedar mencari nafkah semata, tapi juga membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Hanya saja, landasannya belum jelas. Saat itu, dasarnya hanya sebatas kemanusiaan saja, itu pun menurut kita.
Ketika memutuskan untuk berhijrah, sejatinya saya hanya berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik. Mungkin bahasannya itu saat seseorang memutuskan untuk berhijrah tentu tujuannya untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik. Setelah memutuskan untuk berhijrah, saya menjadi tahu apa tujuan hidup sebenarnya. Misalnya kita mengetahui tujuan Allah menciptakan kita di muka bumi untuk beribadah: yaitu masuk surga dan terhindar dari api neraka.
Maka dari itu (dengan berhijrah) saya mencoba untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik. Perasaan saya pun menjadi tenang ketika mengetahui bahwa untuk mencapai tujuan itu, ada hal yang harus saya lakukan. Ketika mencari nafkah, saya merasa memiliki ‘perasaan’ yang berbeda. Misalnya, ada sebuah hadis mengatakan bahwa mencari nafkah untuk keluarga kita memiliki nilai yang sama dengan seorang mujahid. Bayangkan, Anda tidak perlu perang, tapi peran mencari nafkah bagi keluarga disamakan dengan peran seorang mujahid. Nah, jadi lebih enak saja kalau kita tahu imbalannya. Insya Allah, masuk surga, jadi saya rasa semua Muslim harusnya akan seperti itu.
Apa saja tantangan yang Anda alami di saat awal berhijrah?
Seperti halnya pengguna sabuk putih dalam karate, kita masih berada pada fase belajar. Meski baru belajar, tapi inginnya langsung bisa fighting di jalanan. Itu kira-kira yang saya alami di awal-awal fase berhijrah. Saya sadar saat itu belum punya ilmu (tentang hijrah). Karena itu, kalau saya mengetahui ilmunya dari awal, mungkin saya akan lebih rendah hati.
Karena tidak ada ilmunya, banyak hal salah yang saya terapkan. Tentunya, keberadaan guru diperlukan pada saat itu dan tentunya itu semuanya atas seizin Allah SWT. Pada aspek ini, rangkaian ekosistem (hijrah) seperti ilmu, lingkungan dan keberadaan guru harus berada pada sebuah titik yang sama.
Semisal saya memiliki hobi bola tapi tiba-tiba ditempatkan dalam sebuah pertandingan sepakbola selevel Liga Champion, matilah kita. Pada posisi itu, kita tidak tahu apa-apa kecuali teknik-teknik dasarnya. Belum lagi jika kita berbicara mengenai strategi, latihan dan lain sebagainya. Begitu juga yang saya rasakan saat berhijrah di fase-fase awal. Main bebas saja. Gaya bebas.
Bisa dibilang, kondisi itu terus berjalan hingga suatu hari saya mendapatkan ujian banyak orang yang tidak senang dengan langkah yang saya lakukan. Saya bahkan sampai kaget juga mendengar komentar-komentar itu. Padahal, maksud saya melakukan ini karena ingin menjadi sosok yang lebih baik. Kemudian, saya sadar bahwa itu terjadi karena saya tidak tahu ilmunya.
Pada satu sisi, saya juga mengakui bahwa di awal hijrah, saya salah melangkah. Apa yang saya dapatkan langsung saya sampaikan. Jadi, tidak heran jika banyak serangan. Pada satu titik saya sadar, kesalahan ini berasal dari diri saya karena tidak belajar langsung dengan guru dan tidak tahu ilmunya. Tapi overall, begitu tantangannya.
Bagaimana Anda melihat fenomena hijrah di kalangan pekerja seni saat ini?
Saya bahagia dan senang karena sekarang banyak orang yang semakin dekat dengan agama. Coba bandingkan, saat zaman bapak saya, alasan orang masuk pesantren karena mereka bandel. Iya kan? Tapi sekarang, orang-orang berlomba-lomba untuk masuk pesantren. Pertanyaan seperti “Anakmu masuk pesantren tidak setelah SMP?” atau “SMA-nya lanjut boarding tidak?” itu sudah biasa.
Jumlah sekolah-sekolah Islam, boarding school, pesantren pun terus bertambah. Akhirnya, situasi ini membuat masyarakat memiliki banyak pilihan. Bahkan, orang bangga saat anaknya sudah hafal 10 juz. Akhirnya, banyak yang iri dengan pencapaian tersebut sembari berharap anaknya bisa menjadi seperti itu.
Saya sih merasa senang dengan gelombang hijrah yang banyak seperti saat ini. Tapi kalau boleh beri masukan, semangat ini harus dilengkapi dengan lingkungan yang baik serta mendapatkan bimbingan dari guru dan tentu harus ada ilmu dalam setiap langkah tersebut.
Bagaimana Anda melihat semangat hijrah di kalangan milenial dan Gen Z?
Saya melihat banyak even keislaman yang mengundang para ustadz dan banyak sekali anak muda yang ikut even tersebut. Tentunya, saya menyambut fenomena ini secara positif, terutama jika saya memantau dari platform media sosial semisal Instagram, TikTok atau Twitter. Itu bisa saja terjadi, karena setiap orang bisa menyampaikan banyak hal dari platform tersebut.
Hanya saja saya kembali mengingatkan bahwa semua itu harus memiliki landasannya. Perlu juga kehati-hatian dalam menyampaikan sesuatu, bisa jadi ada kesalahan tentang apa yang kita sampaikan. Lagi-lagi saya ingin menekankan keberadaan guru sebagai pengingat terutama yang terkait tentang pengetahuan yang belum kita pahami. Kalau perlu, saat membuat konten, perlu juga ditanya apakah konten ini aman atau tidak kepada guru kita? Kalau sudah aman, tentu kita tenang menjalaninya.
Tren dakwah saat ini mengarah ke dunia digital. Semakin banyak orang yang berdakwah melalui dunia digital. Saat ini, bahkan, dakwah tidak hanya berisi ceramah-ceramah, bukan monolog, tapi lebih ke life style, gaya hidup. Sebagai contoh, seorang pembuat konten bisa saja membuat video tentang kedekatannya dengan ibunya atau video tentang cara sederhana dalam membahagiakan seorang istri. Tentunya, pesan-pesan itu jelas ada dalam Islam. Melalui video singkat tersebut, in syaa Allah kena ke masyarakat tanpa harus berbicara.
Apa pesan Anda untuk masyarakat terkait hijrah?
Saya ingin kita bersatu. Ukhuwwah Islamiyah ini harus terus kita jaga. Saya sedih melihat beberapa pihak masih bersitegang hanya karena masalah fikih. Ke depan, kita harus saling menghargai satu sama lain, merangkul satu sama lain. Toh, masih banyak tujuan besar yang harus kita perjuangkan. Sebut saja isu Palestina, Suriah, dan banyak juga saudara-saudara kita di Indonesia ini terutama mereka yang tinggal di pelosok, yang mungkin membutuhkan Al-Qur’an, da’i tidak ada, mereka tidak tahu rukun Islam, cara shalat tidak tahu, bahkan mungkin cara wudhu saja tidak tahu.
Ayo, kita saling rangkul dan saling menghargai satu sama lain. Jika ada perbedaan satu sama lain, biarkan itu dibicarakan dan didisikusikan oleh para guru kita. Kita murid, sami’na wa atha’na. Kita jalani, bismillah dan saling menghargai. []


















