Landasan Teologis
وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Anbiya: 7)
Asbabunnuzul
Imam Al-Qurtubi dalam Tafsir al-Jami’ li Ahkamil Qur’an menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan Allah sebagai jawaban atas argumentasi orang-orang kafir yang meragukan kenabian Nabi Muhammad SAW dan menyaksikan kerasulannya. Mereka menganggap bahwa nabi itu harus dari golongan para malaikat, bukan manusia biasa sebagaimana Nabi Muhammad SAW.
Argumentasi tersebut kemudian mendapatkan respons dari Allah SWT berupa ayat ini, sebagai perbandingan antara Nabi Muhammad dengan nabi-nabi sebelumnya, di mana para nabi sebelumnya juga sama sepertinya. Mereka sama-sama manusia biasa, bukan dari kalangan malaikat. Hanya saja Allah memberikan wahyu kepada mereka untuk disebarkan dan diajarkan kepada umatnya.
Penyebutan beberapa laki-laki (illa rijâlan) untuk menunjukkan bahwa para nabi terdahulu juga manusia sebagaimana Nabi Muhammad SAW. Hanya saja, yang membedakan dari manusia pada umumnya, para nabi diberi wahyu oleh Allah sedangkan manusia selain nabi tidak. Dengan demikian, ayat ini menegaskan bahwa para nabi bukanlah malaikat, karena disebutkan dengan kata laki-laki, yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari jenis manusia.
Interpretasi Para Mufasir
Dalam Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an dijelaskan, ayat ini merupakan bantahan terhadap syubhat orang-orang yang mendustakan rasul yang mengatakan, “Mengapa rasul itu tidak seorang malaikat saja, sehingga tidak butuh makan, minum, pergi ke pasar? Demikian pula, mengapa mereka tidak kekal?”
Allah menjawab syubhat ini, bahwa semua rasul sebelum Muhammad SAW manusia, termasuk Nabi Ibrahim AS yang diakui semua kalangan bahkan oleh orang-orang musyrik yang menganggap dirinya berada di atas ajaran Nabi Ibrahim AS, padahal tidak.
Ayat ini meskipun sebabnya khusus, yakni untuk bertanya keadaan para rasul kepada orang yang berpengetahuan (ahli ilmu), akan tetapi ia umum, sehingga apabila seseorang tidak memiliki ilmu tentang masalah agama yang ushul (dasar) maupun yang furu’ (cabang), maka ia diperintahkan untuk bertanya kepada orang yang mengetahuinya.
Dalam ayat ini terdapat perintah belajar dan bertanya kepada ahlinya. Kita tidak diperintahkan bertanya kepada ahli ilmu, kecuali karena ahli ilmu berkewajiban mengajarkan dan menjawab sesuai yang mereka ketahui. Diperintahkan bertanya kepada ahli ilmu menunjukkan dilarangnya bertanya kepada orang yang terkenal kebodohannya dan tidak berilmu, dan larangan baginya untuk maju menjawab pertanyaan.
Dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an karya Al-Imam Al-Qurtubi disebutkan, Firman-Nya: Fas’alu ahladz-dzikri (tanyakan kepada ahli dzikir). Apabila orang kafir itu masih belum bisa menerima argumentasi ini, silakan saja mereka bertanya kepada ahluz dzikri. Sufyan menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ahladz-dzikri adalah para ahli Taurat dan Injil yang telah beriman kepada Nabi Muhammad SAW (sudah masuk Islam).
Disebut mereka itu ahludz-dzikri (makna dzikr adalah mengingat), karena mereka paham dan mengerti betul kisah para nabi terdahulu yang belum dikenal oleh bangsa Arab. Dan para kafir Quraisy memang terbiasa bertanya kepada ahli Taurat dan Injil tentang nabi-nabi terdahulu. Di sini Allah menegaskan kembali untuk bertanya kepada mereka bila belum tahu.
Ayat ini juga mengingatkan kita bahwa dalam pencarian ilmu dan kebenaran, kita harus merendahkan diri dan siap untuk bertanya kepada mereka yang memiliki pengetahuan lebih dalam tentang suatu masalah. Ini sikap yang bijaksana, dan ketika kita tidak tahu sesuatu, kita harus mencari jawabannya dari sumber yang tepercaya.
Nilai-nilai Pendidikan
QS Al-Anbiya: 7 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan bagi manusia. Pertama, mendidik manusia agar meningkatkan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya serta meyakini ajaran yang disampaikan dari para Rasul-Nya.
Kedua, mengajarkan hamba-Nya untuk memperdalam ilmu dan wawasan dari para ahlinya agar selamat dari pemikiran yang menyesatkan agama.
Ketiga, mendidik hamba-Nya agar senantiasa menjaga hawa nafsu dan tidak gegabah dalam menghukumi suatu perkara tapi menjadikan syariat sebagai tuntunan.
Keempat, mengajarkan hamba-Nya agar berakhlak karimah dan menghindari sikap yang suka mencela, mencemooh dan mengingkari para ulama yang taat kepada Allah.
Kewajiban Beragama dengan Ilmu
Menuntut ilmu merupakan bagian dari jihad. Dengan menuntut ilmu Allah akan memberikan kemudahan-kemudahan dalam hidup, dan menjadi jaminan kemuliaan dan naiknya derajat seseorang. Bahkan Allah mempermudah jalan baginya menuju surga.
Perhatikan sabda Rasulullah SAW:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga. (HR Bukhari dan Muslim)
Memahami ilmu agama merupakan kewajiban atas setiap Muslim dan Muslimah. Rasulullah SAW bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap Muslim. (HR Ibnu Majah No: 224, dan lainnya dari Anas bin Malik)
Karena itu termasuk kesalahan yang sangat berbahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu dari Allah dan Rasul-Nya melalui ajaran yang dibawanya.
Imam Ahmad bin Hambal dalam karyanya Thabaqat Al Hanabilah mengatakan, “Manusia lebih membutuhkan ilmu agama daripada roti dan air minum. Karena manusia butuh kepada ilmu agama setiap waktu, sedangkan mereka membutuhkan roti dan air hanya sekali atau dua kali dalam sehari.”
Islam itu mulia dan Anda akan menjadi mulia karena menuntut ilmu. Berikhtiarlah, berusahalah sebagai usaha mempelajari ilmu untuk kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat. Sungguh ilmu itu bermanfaat untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang (akhirat). Rasulullah SAW bersabda:
تَعَلَّمُوْا وَعَلِّمُوْا وَتَوَاضَعُوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ
Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkan ilmu padamu. (HR Tirmidzi)
Dalam praktik beragama yang mantap dan tidak mudah goyah itu didasari oleh ilmu-ilmu agama yang benar, diperoleh dari sumber yang bisa dipercaya, bukan didasari oleh duga-duga dan dorongan hawa nafsu belaka.
Beragama tanpa ilmu itu berpotensi merusak segalanya, karena boleh jadi ia menyangka benar apa yang salah, menduga suatu perbuatan sebagai ibadah padahal sama sekali bukan, menganggap berpahala atas apa yang sebenarnya berdosa, meyakini maslahatnya sesuatu padahal senyatanya mafsadat dan sebaliknya.
Kebutaan akan ilmu-ilmu agama telah membuat sebagian besar kaum beragama menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan mereka, dan mereka pun mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin agama.
Saat ini mudah dijumpai dalam kenyataan, betapa banyaknya kaum awam yang dalam beragama berpaling dan enggan mengikuti madzhab fikih yang ada. Menurut asumsi kaum awam itu bahwa pada masa Nabi dan para sahabat masih hidup tidak ada madzhab fikih sama sekali. Adanya madzhab-madzhab justru menimbulkan sengketa dan perpecahan di kalangan umat Islam.
Alasan-alasan di atas yang terus menerus dipublikasikan telah membuat kalangan awam meyakini bahwa diri merekalah yang berada di jalan kebenaran, sehingga para ulama (kiai, ustadz, ajengan, guru) yang memiliki spesialisasi di bidang ilmu agama justru mereka dustakan, dan bahkan dianggap sesat karena telah menganjurkan perlunya mengikuti salah satu dari empat madzhab fikih yang ada, yaitu Madzhab al-Hanafi, al-Maliki, al-Syafi’i, dan al-Hanbali.
Berapa banyak di antara kaum awam yang bermaksud untuk mencegah kemungkaran tetapi justru tanpa menyadari telah terjerumus ke lembah kemungkaran yang lebih besar lagi. Berapa banyak di antara mereka yang merasa sedang “berjihad” dan merasa bakal masuk surga dikelilingi para bidadari. Padahal sesungguhnya sedang melakukan perbuatan jahat, mati sia-sia, dan telah mengorbankan nyawa-nyawa manusia lainnya. Beragama tanpa ilmu dan penuh arogansi itu sangat merusak, merugikan, dan bahkan membahayakan kemanusiaan.
Allah SWT berfirman:
قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, dan perbuatan melampaui batas tanpa alasan yang benar. (Dia juga mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan bukti pembenaran untuk itu dan (mengharamkan) kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Araf: 33)
Larangan Beragama dengan Nafsu
Pengertian nafsu secara umum adalah sebuah perasaan atau emosional jiwa pada manusia yang mencondongkan kepada sesuatu yang disukainya. ji nafsu itu kita condongkan kepada sesuatu yang baik dan sesuai syariat, maka ini nafsu terpuji, dan sebaliknya, jika mengarah pada sesuatu yang buruk atau bertolak belakang dengan syariat, maka ini merupakan nafsu tercela.
Jadi, dalam proses menjalani kehidupan ini, hawa nafsu bisa dikatakan teman jika kita mengarahkannya ke hal-hal yang baik. Sebaliknya, nafsu bisa menjadi musuh diri kita jika mengarah ke hal-hal yang buruk atau tercela.
Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya.”
Allah SWT berfirman:
فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰىهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَࣖ
Jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS Al-Qashas: 50)
Waspadai yang mengarahkan kendali nafsu kita akibat bujuk rayu setan yang menjerumuskan agar kita berani mengatakan sesuatu yang tidak kita ketahui serta berbuat jahat dan keji. Allah berfirman:
اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْۤءِ وَالْفَحْشَاۤءِ وَاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Sesungguhnya (setan) hanya menyuruh kamu untuk berbuat jahat dan keji serta mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS Al-Baqarah: 169)
Fenomena Hari Ini
Viral tentang keberadaan seseorang yang kontroversial. Seorang yang mengaku memiliki kemampuan supranatural yang musykil; mengaku mampu berkomunikasi dengan bahasa semut dan binatang melata.
Dia juga mengakui dapat berkomunikasi dan bertatap muka langsung dengan malaikat maut (Izrail) melalui video call. Lebih parahnya lagi ia mengemukakan bahwa dirinya mampu melakukan lobi spiritual agar para santri dibebaskan dari pertanyaan Malaikat Munkar Nakir di alam kubur. Tidak hanya sampai di situ dia juga mengatakan mampu menguasai bahasa Suryani dan telah menuliskan lebih dari 500 buah kitab dalam bahasa Suryani.
Bagi sebagian orang fenomena ini merupakan lelucon yang tidak perlu ditanggapi. Tapi bagi kalangan agamawan fenomena ini sebuah kasus yang mesti diluruskan mengingat tidak sedikit masyarakat yang mempercayai keyakinan dan bahkan menjadi pengikut setianya.
Dengan demikian kemungkinan fenomena ini lebih pada masalah kejiwaan berupa gairah pada ketenaran yang berlebihan sehingga memunculkan apa yang namanya Spiritual Narsisme. Sebuah kecenderungan yang menganggap dirinya memiliki kemampuan lebih sehingga mampu menjelajahi dunia spiritual yang supranatural.
Fenomena ini perlu diluruskan oleh pihak atau lembaga keagamaan seperti MUI karena menyangkut keyakinan teologi (akidah). Tentunya dengan cara dialog dan pencerahan pemikiran. Jika dibiarkan potensial akan menyesatkan keyakinan umat, terutama masyarakat awam yang belum mampu memahami agama secara benar dan belum mampu memaksimalkan penalaran dengan baik.
Karena itu diperlukan upaya maksimal untuk menciptakan generasi tangguh akidah yang mampu menerjemahkan dalil agama dan dalil penalaran dalam merespons tantangan agama yang selalu terjadi secara berulang.
Bahaya Bicara Masalah Agama Tanpa Ilmu
Lalu apa bahaya bicara masalah agama tanpa ilmu? Berikut beberapa bahayanya:
Pertama, sebuah kesesatan dan dapat menyesatkan orang lain. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hamba-Nya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain. (HR Bukhari No: 100, Muslim, dan lainnya)
Kedua, menanggung orang-orang yang telah dia sesatkan. Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan orang sesat dan mengajak kepada kesesatan. Karena itu dia menanggung dosa-dosa orang-orang yang telah disesatkan. Rasulullah SAW:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HR Muslim No: 2674, dari Abu Hurairah)
Ketiga, termasuk orang yang kafir. Allah berfirman:
فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ
Oleh karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah. Siapa yang tidak memutuskan (suatu urusan) menurut ketentuan yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir. (QS Al-Maidah: 44)
Beragama dengan Ilmu dan Menjauhi Hawa Nafsu
Bagaimana cara beragama dengan ilmu dan menjauhi hawa nafsu tercela? Pertama, menjauhi ucapan dusta atau kebohongan. Allah berfirman:
وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ
Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang diucapkan oleh lidahmu secara bohong, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung. (QS An-Nahl: 116)
Kedua, bertakwa dan janganlah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Hujurat: 1)
Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir Taisir Karimir Rahman berkata: “Ayat ini memuat adab terhadap Allah dan Rasul-Nya, juga pengagungan, penghormatan, dan pemuliaan kepada-Nya. Allah telah memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, dengan konsekuensi keimanan terhadap Allah dan Rasul-Nya, yaitu: menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Agar mereka selalu berjalan mengikuti perintah Allah dan Sunnah Rasul-Nya dalam seluruh perkara mereka. Dan agar mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya, sehingga janganlah mereka berkata, sampai Allah berkata, dan janganlah mereka memerintah, sampai Allah memerintah.”
Ketiga, tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui. Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS Al-Isra’: 36)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir Al-Qur’anul Azhim, surat Al-Isra’ ayat 36: “Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan bahwa Allah Ta’ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.”
Keempat, tidak mengikuti hawa nafsu dan senantiasa berdoa agar diberikan nafsu yang dirahmati Allah. Allah berfirman:
وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yusuf: 53)
Kisah Teladan
Dalam hal menuntut ilmu, kita perlu bercermin kepada para ulama salaf, yang telah memberi contoh terbaik dan teladan yang agung tentang semangat mereka menuntut ilmu agama. Imam Asy Syafi’i berkata dalam kitab Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhilihi karya Ibnu Abdil Bar: “Saya seorang yatim yang tinggal bersama ibu. Ia menyerahkan saya ke kuttab (sekolah yang ada di masjid). Dia tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada sang pengajar sebagai upah mengajari saya. Saya mendengar hadis atau pelajaran dari sang pengajar, kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka setiap saya menemukan sebuah tulang putih, saya mengambilnya dan menulis di atasnya. Apabila sudah penuh tulisannya, saya menaruhnya di dalam botol yang sudah tua.”
Abu Ad-Darda radhiallahu’anhu mengatakan dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir: “Seandainya saya mendapatkan satu ayat dari Al-Qur’an yang tidak saya pahami dan tidak ada seorang pun yang bisa mengajarkannya kecuali orang yang berada di Barkul Ghamad (yang jaraknya 5 malam perjalanan dari Mekkah), niscaya aku akan menjumpainya.” Sa’id bin Al Musayyab juga mengatakan, “Saya terbiasa melakukan rihlah berhari-hari untuk mendapatkan satu hadis.”
Dalam Kitab Tahdzibut Tahdzib karya Ibnu Hajar menyebutkan ayah dari Yahya bin Ma’in merupakan seorang sekretaris Abdullah bin Malik. Ketika wafat, beliau meninggalkan 100.000 dirham untuk Yahya. Namun Yahya bin Ma’in membelanjakan semuanya untuk belajar hadis, tidak ada yang tersisa kecuali sandal yang biasa ia pakai.
Demikian beberapa kisah perjuangan memperdalam ilmu agama tanpa henti, ikhlas dan terus memperdalam ilmunya.
اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
“Ya Allah pahamkanlah dia terhadap agama dan ajarkanlah (ilmu) tafsir kepadanya.” (HR Ahmad) []






















