Gontornews — Berkat sentuhan tangan dingin dan kerja keras Ustadz Kamaluddin Marsus tanah dan bangunan seluas 225 meter persegi di Jalan Kayu Agung No 33 Perumahan Bukit Baruga Makassar disulap menjadi tempat para penghafal Al Qur’an. Di tempat itulah pada tanggal 10 Agustus 2015 Ustadz Kamaluddin Marsus mulai merintis Madrasah Hafidz Qur’an (MHQ) dengan jumlah santri pertama 23 orang.
Singkat cerita pada akhir tahun 2019 ketika Covid-19 mewabah, aktivitas belajar mengajar di Madrasah Hafidz Qur’an (MHQ) sedikit terkendala hingga akhirnya Ustadz Kamaluddin Marsus memutuskan untuk memboyong keluarga dan santri- santrinya ke Desa Bulu- Bulu, Kec. Tonra, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, yang berjarak sekitar 200 km dari Makassar. “Alhamdulillah di sini ada masjid dan rumah dua lantai yang bisa digunakan. Sedikit demi sedikit 200-an santri yang semula di Makassar dipindahkan ke sini,” bebernya kepada Majalah Gontor.
Bisa dibilang Madrasah Hafidz Qur’an (MHQ) yang dirintis Ustadz Kamaluddin Marsus benar-benar dari nol. Qadarullah walaupun hanya ada masjid dan bangunan dua lantai yang digunakan untuk santri, pada tahun 2020 ratusan orang datang ke Desa Bulu- Bulu, Kec. Tonra, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, untuk memondokkan anaknya di Madrasah Hafidz Qur’an (MHQ). “Tahun 2020 ada 400-an yang mendaftar dan semuanya diterima. Dari situlah kami berjuang. Dengan kendala yang ada, ternyata setiap tahun jumlah santri terus bertambah dan perlahan gedung untuk santri bisa dibangun,” imbuhnya.
Lebih jauh Ustadz Kamaluddin Marsus mengatakan kiprah MHQ telah beredar dari mulut ke mulut hingga menyebar ke masyarakat luas. Kini di atas lahan seluas 7 hektar, MHQ membina 1919 santri putra dan putri yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia dengan sistem gratis. Menurutnya, meluruskan niat adalah hal pertama yang menjadi titik pijaknya dalam merintis dan memajukan MHQ.
Ia mengaku menimba ilmu itu dari guru dan kiai yang pernah ditemuinya. Ayah lima anak ini mengaku sempat berkelana ke sejumlah lembaga pendidikan Islam sebelum merintis MHQ. Antara lain di Pesantren Modern Ma’had Hadits Biru Bone (1989-1992), Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju Tuju Bone (1992-1994) dan juga sempat mengajar di sekolah Islam Athirah di Makassar selama beberapa tahun.
Ia juga berharap bisa berkolaborasi dengan seluruh lembaga pendidikan Islam termasuk Pondok Modern Darussalam Gontor. “Semangat kami ada, tapi melihat jumlah santri yang ada, kami merasa sangat kekurangan tenaga pendidik. Andaikata ada jalan, dengan senang hati kami bisa menerima guru-guru dari Gontor pusat,” bebernya.
Obsesi Ustadz Kamaluddin Marsus sederhana. Ia menginginkan MHQ langgeng dan maju. Bukan karena pimpinannya tapi karena kualitas MHQ terutama maslahat alumninya. “Mudah mudahan setiap anak yang pernah belajar di MHQ merasa punya tanggung jawab untuk mendakwahkan apa yang telah dipelajari,” ujarnya.
Saat ini alumni MHQ umumnya melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Beberapa di antaranya kuliah di Universitas Darussalam Gontor dan ada yang sudah lulus kuliah dengan nilai cumlaude di Universitas Darussalam Gontor. Selain itu ada juga yang kuliah di Universitas Islam Madinah. [M Khaerul Muttaqien]
.
























