Landasan Teologis
وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
“Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Baqarah: 190)
Asbabun Nuzul
Asbabun nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 190 menurut Abu Hayyan dalam tafsirnya Al-Bahrul Muhith meriwayatkan asbabun nuzul dari Al-Baqarah 190-193, berikut adalah riwayatnya:
Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini turun sehubungan kaum musyrikin menghalangi Rasulullah SAW (pergi ke Baitullah untuk melaksanakan umrah) pada tahun dilaksanakannya perjanjian Hudaibiyah. Kaum musyrikin mengajak damai Nabi SAW untuk kembali pada tahun depannya saja, sehingga kemudian mereka akan memperbolehkan Nabi SAW mengunjungi Baitullah selama tiga hari.
Kemudian Nabi SAW kembali (pada tahun depannya) untuk melaksanakan umrah qadha, namun umat Islam khawatir orang-orang Quraisy tidak menepati janji mereka dan menghalang-halangi kembali, serta memerangi mereka di tanah Haram dan di bulan yang haram pula. Umat Islam tidak menyukainya, kemudian turunlah ayat ini.
Interpretasi Para Mufasir
Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah menyebutkan, dalam ayat ini Allah mengajarkan orang-orang beriman asas-asas jihad di jalan Allah untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memerangi Islam dan kaum Muslimin. Allah berfirman kepada mereka: “Perangilah orang-orang kafir yang memerangi kalian demi menolong agama Allah, namun janganlah kalian menzalimi orang-orang yang memerangi itu dengan memutilasi jasad mereka, jangan pula menzalimi orang-orang yang tidak memerangi kalian seperti para wanita, anak-anak, dan orang-orang yang sudah renta.”
Kemudian Allah menekankan larangan berbuat zalim ini dengan menyatakan bahwa Dia tidak mencintai orang-orang yang zalim, dan Dia akan menghukum orang-orang yang zalim tersebut.
Sedangkan dalam Tafsir Al-Mukhtashar disebutkan, berperanglah kalian untuk meninggikan kalimat Allah melawan orang-orang kafir yang hendak memalingkan kalian dari agama Allah. Dan janganlah kalian melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah dengan membunuh anak-anak, kaum wanita dan orang-orang lanjut usia, atau memutilasi tubuh korban dan sebagainya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas-batas yang ditetapkan-Nya melalui syariat dan hukum-Nya.
Tafsir Al-Wajiz juga menyebutkan bahwa tujuan orang yang beriman disuruh berperang untuk meninggikan kalimat Allah dari orang-orang kafir yang melanggar perjanjian, dan janganlah menyakiti orang yang tidak berperang. Sesungguhnya Allah akan menghukum orang yang melanggar.
Imam As-Suyuthi dalam Tafsirul Jalalain menjelaskan bahwa maksud ayat 190 di atas secara ringkas ialah perintah untuk berjihad memerangi orang-orang kafir yang memerangi umat Islam (kafir harbi). Hal demikian dilakukan bukan untuk ajang balas dendam, melainkan untuk menegakkan agama Allah. Itupun dengan catatan umat Islam tidak melewati batas dengan memulai peperangan terlebih dahulu. Karena yang demikian itu tidak diperkenankan oleh Allah.
Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Imam As-Suyuthi, Syekh Nawawi al-Bantani dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat 190 di atas merupakan perintah untuk memerangi orang-orang kafir yang memerangi umat Islam, tapi bukan umat Islam yang memulai peperangan. Namun, Syekh Nawawi memberi catatan bahwa maksud dari larangan melewati batas pada ayat tersebut ialah tidak diperbolehkan memulai peperangan di tanah Haram.
Sementara dalam Ad-Durrul Mantsur, Imam As-Suyuthi menjelaskan maksud dari ‘jangan melewati batas’ pada ayat di atas ialah tidak diperkenankan membunuh wanita, anak kecil, orang yang tua renta, dan orang yang sudah menyerah dalam peperangan.
Dikuatkan dengan riwayat dari Ibnu Abi Syaibah, Al-Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Ibnu Umar mengatakan bahwa ia pernah menemukan perempuan terbunuh pada sebagian perang yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW melarang untuk membunuh wanita dan anak kecil dalam peperangan.
Nilai-nilai Pendidikan
QS Al-Baqarah: 190 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, Nilai Ketaatan kepada Allah. Dalam ayat ini disebutkan “di jalan Allah” menunjukkan bahwa segala tindakan, termasuk berperang, harus dilandasi oleh niat ikhlas karena Allah. Ini mendidik kita untuk selalu menjadikan tujuan hidup kita berlandaskan nilai-nilai ilahiah, bukan hawa nafsu atau kepentingan duniawi.
Karena itu guru, orangtua dan para tokoh harus terus membangkitkan semangat peserta didik dan mendidik agar taat kepada Allah sebagai generasi penerus perjuangan dengan mensyukuri kemerdekaan dan menjaga bangsa karena kemerdekaan merupakan karunia yang besar dari Allah yang harus kita pertahankan. Gemakanlah kalimat-kalimat agung kepada Allah sebagai salah satu bentuk ketaatan.
Kedua, Nilai Keadilan dan Tidak Melampaui Batas. Dalam ayat ini Allah membolehkan berperang, tapi hanya terhadap mereka yang menyerang lebih dahulu. Ini mendidik bahwa keadilan harus ditegakkan dan kezaliman harus ditolak, tetapi tidak membalas dengan cara yang zalim.
Allah juga memerintahkan untuk tidak melampaui batas dalam peperangan, seperti membunuh warga sipil, menghancurkan tempat ibadah, atau menyiksa tawanan. Ini mengajarkan pengendalian diri, moralitas dalam konflik, dan menghargai hak asasi manusia.
Guru, orangtua dan tokoh masyarakat harus menanamkan nilai keadilan dan tidak suka melampaui batas kepada peserta didik agar mereka mampu membedakan kebenaran dan kebatilan.
Ketiga, Nilai Jihad. Ayat ini menekankan bahwa jihad atau peperangan dalam Islam bukan untuk menyerang atau menjajah, tetapi untuk membela diri dan kebenaran. Ini menunjukkan pentingnya nilai keadilan dan etika, bahkan dalam situasi ekstrem seperti perang.
Guru, orangtua dan tokoh masyarakat harus mengajarkan nilai jihad dalam kehidupan sehari-hari. Seperti berjihad dalam mencari ilmu, berjihad memakmurkan masjid dan berjuang di jalan Allah. Dengan memiliki nilai jihad yang tinggi maka seseorang akan memperoleh kemuliaan.
Landasan Teoretis
Kalimat اَللّٰهُ اَكْبَرُ atau “Allah Maha Besar” memiliki makna mendalam yang mencerminkan keagungan dan kekuasaan Allah Ta’ala yang melampaui segala sesuatu. Di dalamnya terkandung pengakuan bahwa ilmu dan qudrah (kekuasaan) Allah tidak tertandingi dan berada di atas segala sesuatu. Tidak ada yang berada di luar pengetahuan-Nya, dan tidak ada yang bisa lari dari kendali-Nya. Allah lebih besar dari segala yang kita anggap besar dan yang kita takuti. Dengan kata lain, Allah lebih besar daripada segala hal yang kita anggap luar biasa, termasuk proses penciptaan dan pembangkitan makhluk, serta pemberian kebahagiaan abadi.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kalimat takbir ini bermakna bahwa Allah bagi seorang hamba lebih besar dari segala sesuatu. Tidak ada yang lebih agung, lebih kuat, atau lebih berkuasa daripada Allah SWT. Kebesaran-Nya meliputi segala aspek, baik dalam Zat-Nya, Nama-nama-Nya, Sifat-sifat-Nya, maupun Perbuatan-perbuatan-Nya.
Dengan demikian, kalimat اَللّٰهُ اَكْبَرُ tidak hanya sekadar lafadz, tetapi juga merupakan manifestasi dari pengakuan akan keagungan dan kebesaran Allah SWT yang meliputi segala sesuatu. Kalimat ini menjadi sumber kekuatan spiritual dan tempat bersandar bagi umat manusia dalam menghadapi berbagai tantangan dan keajaiban di dunia ini.
Kalimat ‘Allahu Akbar’ membangkitkan semangat membara untuk memperoleh sesuatu yang ingin dicapai termasuk merebut kemerdekaan sebagaimana para pahlawan telah mengambil alih kemerdekaan bangsa dari tangan para penjajah.
Mengucapkan ‘Allahu Akbar’ berarti mengakui dan menegaskan keagungan Allah yang tak terbatas. Ini pernyataan keyakinan bahwa Allah Pencipta dan Penguasa alam semesta, Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Dengan mengucapkannya, seorang Muslim menyatakan ketundukan dan kepatuhan total kepada Allah semata.
Allah berfirman:
مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ اِلَّا كَنَفْسٍ وَّاحِدَةٍۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ
“Menciptakan dan membangkitkan kamu (bagi Allah) hanyalah seperti (mudahnya menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Luqman : 28)
Ayat ini menegaskan bahwa pengumpulan seluruh umat manusia merupakan hal yang mudah bagi Allah, seperti menciptakan satu jiwa saja. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika setiap kali manusia menghadapi sesuatu yang besar, musibah yang besar, atau target yang luar biasa, mereka mengucapkan اَللّٰهُ اَكْبَرُ sebagai bentuk penghiburan diri dan sumber kekuatan.
Lebih dari sekadar ungkapan verbal, Allahu Akbar merupakan manifestasi keimanan yang mendalam. Ia menjadi pengingat akan kebesaran Allah di tengah kesibukan duniawi, sekaligus ekspresi rasa syukur dan kagum atas keagungan ciptaan-Nya. Kalimat ini juga berfungsi sebagai sumber kekuatan spiritual, mengingatkan bahwa Allah lebih besar dari segala masalah dan tantangan yang dihadapi manusia.
Dengan memahami dan menghayati makna ‘Allahu Akbar’, seorang Muslim dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang, fokus, dan penuh keyakinan. Kalimat ini menjadi pengingat konstan akan tujuan hidup yang sejati, yaitu mengabdi kepada Allah SWT. Dengan memahami dan mengamalkan makna ‘Allahu Akbar’ secara mendalam, seorang Muslim dapat meningkatkan kualitas ibadah dan kehidupannya. Kalimat ini menjadi pengingat konstan akan kebesaran Allah, mendorong untuk senantiasa berbuat baik, dan memberikan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup termasuk meraih kemerdekaan.
Hakikat Kemerdekaan
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm menegaskan makna spiritual dari kebebasan: “Sesungguhnya kemerdekaan yang hakiki merupakan pembebasan diri dari perbudakan hawa nafsu dan syahwat, serta mengarahkan diri sepenuhnya kepada Allah semata.”
Ibnu ‘Āsyūr dalam kitab Maqāṣid al-Syarī’ah al-Islāmiyyah menjelaskan bahwa kebebasan memiliki dua sisi. Pertama, kebebasan dari perbudakan fisik, yaitu kemerdekaan dalam arti literal. Kedua, kebebasan dalam makna batiniah, yaitu kemampuan seseorang untuk mengatur hidupnya sendiri dengan sadar, tanpa tekanan dan paksaan.
Syariat Islam sangat menjunjung tinggi prinsip kebebasan dalam banyak aspek. Islam menjamin kebebasan berkeyakinan (ḥurriyyah al-i’tiqād), kebebasan berbicara dan menyampaikan pendapat (ḥurriyyah al-aqwāl), kebebasan dalam belajar, mengajar, dan berkarya (ḥurriyyah al-‘ilmi wa at-ta’līm wa at-ta’līf), serta kebebasan dalam bekerja dan berwirausaha (ḥurriyyah al-a’māl). Semua bentuk kebebasan ini diarahkan untuk meneguhkan nilai-nilai luhur yang berlandaskan tauhid.
Membangkitkan Semangat
Lalu bagaimana makna ‘Allahu Akbar’ membangkitkan semangat merebut kemerdekaan? Pertama, yakin akan kekuasaan dan pertolongan Allah yang Mahabesar. Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ
“Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian, apabila kamu ditimpa kemudaratan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS An-Nahl: 53)
Kemerdekaan tidak berhenti pada kedaulatan semata, tetapi juga bermuara pada kesadaran kolektif untuk membangun peradaban yang merdeka dalam berpikir, berkarya, dan berakhlak. Karena mereka yakin segala sesuatu akibat pertolongan Allah.
Kedua, senantiasa berdoa dengan lembut dan rendah hati serta tidak melampaui batas karena Allah Mahasegalanya. Allah berfirman:
اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A’raf: 55)
Ketiga, dengan mengingat Allah mendatangkan ketenangan dalam merebut kemerdekaan di tangan penjajah. Allah berfirman:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS Ar-Ra’ad: 28)
Keempat, Allah senantiasa bersama orang yang berdzikir memanggil nama-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: يَقُولُ الله تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إذَا ذَكَرَنِي، فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإنْ تَقَرَّبَ شِبراً إلَيَّ تَقَرَّبْتُ إلَيهِ ذِرَاعاً، وَإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِرَاعاً تَقَرَّبْتُ إلَيهِ بَاعاً، وَإنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.
“Dari Abu Huraira Radhiyallahu `anhu, dari Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, bahwa ia bersabda: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Aku memberi hamba-Ku balasan sesuai dengan dugaannya terhadap-Ku, dan Aku selalu bersamanya bila dia berzikir kepada-Ku, jika ia berzikir kepada-Ku di saat sendiri, maka Aku menyebutnya sendiri, dan jika ia berzikir kepada-Ku di khalayak ramai maka Aku menyebutnya di khalayak ramai yang lebih baik daripada mereka, bila ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta, dan apabila ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa, dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan Aku mendatanginya dengan berlari’.” (HR Muttafaq ’alaih)
Kelima, Allah menurunkan para malaikat, rahmat-Nya, ketenangan dan Allah menyebut mereka di hadapan para makhluk-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
«لا يَقْعُدُ قَومٌ يَذْكُرُونَ الله عَزَّ وَجَلَّ إلا حَفَّتْهُمُ الملائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عليهمُ السَّكِينةُ، وَذَكَرَهُمُ الله فِيْمَنْ عِنْدَهُ»
“Tidak suatu kaum duduk lalu berzikir kepada Allah melainkan para malaikat mengitari mereka dan rahmat meliputi mereka dan ketenangan turun di tengah mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR Muslim)
Keenam, mengingat Allah lebih besar keutamaannya daripada menebas leher musuh sehingga orang yang mengingat Allah tidak akan gentar menghadapi musuh-musuhnya. Rasulullah SAW bersabda:
قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيرٌ لَكُمْ مِنْ إنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ» قَالُوا: بَلَى قَالَ: «ذِكْرُ الله تعالى». أخرجه الترمذي وابن ماجه
“Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: ‘Maukah aku beri kabar kalian dengan amalan kalian yang terbaik, paling suci di sisi penguasa kalian, paling meninggikan derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu musuh kalian (kafir) lalu kalian menebas leher mereka dan merekapun menebas leher kalian?’, para sahabat berkata: ‘Tentu’, ia bersabda: ‘Berdzikir kepada Allah Ta’ala’.” (HR Tarmizi dan Ibnu Majah)
Kisah Teladan
Kenikmatan duniawi terkadang membuat seseorang lupa daratan dan tidak ingat pada Sang Pemberi Nikmat, yaitu Allah SWT. Jika hal ini terjadi, kenikmatan tersebut dapat berubah menjadi malapetaka. Hal ini sebagaimana terjadi pada hamba Allah yang dikisahkan oleh Syekh Ahmad Syihabudin Al-Qulyubi dalam kitab An-Nawadir fi Hikayatis Shalihin wa ‘Aja’ibil Mutaqaddimin.
Dikisahkan seorang hamba yang bertahun-tahun lamanya tidak pernah lagi berdzikir kepada Allah. Hal ini membuat malaikat heran sekaligus geram. Malaikat tersebut kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Allah. “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya si Fulan sudah sekian lama tidak berdzikir kepada-Mu,” kata Malaikat kepada Allah.
Allah kemudian berfirman: “Dia tidak lagi berdzikir mengingat-Ku karena larut dalam kenikmatan yang telah Aku berikan padanya. Jika Aku berikan penderitaan niscaya dia akan kembali mengingat-Ku.”
Selanjutnya Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk memberi peringatan pada hamba tersebut dengan cara membuat setiap tetes keringat yang keluar dari badannya menjadi penyakit yang merusak kulitnya.
Benar saja, setelah hamba tersebut terbujur sakit dan tidak dapat lagi merasakan kenikmatan duniawi, akhirnya dia kembali ingat pada Allah. “Wahai Tuhanku… Wahai Tuhanku….” keluh hamba tersebut merasakan sakit yang dideritanya.
Allah kemudian menjawab: “Aku mendengar keluhanmu, wahai hamba-Ku. Ke mana saja kamu selama ini?”
Kisah pendek di atas dapat menjadi peringatan bagi para hamba Allah, termasuk kita. Ketika kesenangan melalaikan kita dari dzikir kepada Allah, boleh jadi kesedihan dan penderitaan akan datang sebagai teguran untuk kembali mengingat-Nya. Dzikrullah atau mengingat Allah merupakan perintah yang harus dilaksanakan oleh umat Islam.
Selain itu, Imam Qurthubi juga menyebut bahwa dzikir merupakan sebuah ketaatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, siapa pun yang tidak taat kepada-Nya, maka ia tidak termasuk orang yang berdzikir, meskipun mulutnya selalu membaca tasbih, tahlil, dan membaca Al-Qur’an. Dengan demikian, kisah ini menjadi pelajaran penting agar umat Islam tidak terlena dengan kenikmatan duniawi, karena pada hakikatnya kenikmatan tersebut merupakan anugerah dari Allah yang kapan saja dapat diambil kembali oleh-Nya termasuk menjaga kenikmatan kemerdekaan yang harus terus kita jaga dan syukuri.
رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ
“Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” (QS Al-Baqarah: 126) []


















