Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) yang sekarang kita pugar umurnya 67 tahun. Gedung baru Aligarh 1953-1954. Tahun 1957, BPPM selesai dibangun 1958 digunakan untuk peringatan 4 windu sekaligus penandatanganan Piagam Wakaf. Kayunya jati terbaik dari Saradan, gentengnya dari Karangpilang (Surabaya Selatan-Sepanjang), maka kuat sampai sekarang. Trimurti dan guru-guru senior mengangkut batu-batu dari berbagai sungai sekitar Ponorogo. Tidak ada satupun batu dan genteng yang tidak dipegang tangan santri. Ketika ada santri yang pilih-pilih untuk mengangkat batu kecil, Pak Zar berteriak, “Ambil dan angkat bantu-bantu itu, jangan dibaca. Batu kok dibaca.”
Mangga di samping BPPM ditanam sekitar tahun 1940-an, yang menanam Pak Sahal dan dirawat oleh Bu Tik (Bu Nyai Sahal). Beliau menyirami tanaman mangga dan lain-lain, santri-santri dari Kalimantan menjadi saksi. Saat itu Idham Khalid datang, sudah hafal Alfiah, Imriti, Jurumiyah namun tidak bisa bicara bahasa Arab dengan lancar. Setelah belajar di Gontor akhirnya bisa berbicara dan menulis bahasa Arab dengan baik dan lancar. Yang membawa ke Gontor santri dari Kalimantan namanya Gusti Muis. Ketika itu Pak Zar belum mempunyai putra, sampai akan mengambil anak dari santri Kalimantan. Ketika Pak Syukri lahir, Pak Zar sangat senang dan bersyukur, maka dinamainya Abdullah Syukri. Ketika Indonesia merdeka, putri beliau yang baru lahir diberi nama Hurriyah (kemerdekaan).
BPPM lama terpaksa dibongkar karena kapasitasnya hanya 1200-an, padahal kita butuh aula untuk 5000 santri. Gedung 17 Agustus juga terkena proyek BPPM, dinamakan demikian karena diresmikan pada tanggal 17 Agustus. Kita tetap menjaga nilai-nilai namun selalu mengadakan peningkatan menuju kesempurnaan.
Kita tidak berpolitik praktis, tapi tidak buta politik. Alhamdulillah, kita (pimpinan) mempunyai pandangan satu, tidak beda pendapat. Ini jarang didapat, sukar dicari, mahal harganya. Yang mahal nilai-nilainya, bukan materinya. Demikian pula IKPM, alhamdulillah, semuanya solid karena mempunyai pandangan yang sama. Dan mereka mempunyai ukhuwah yang sangat kuat. Ini juga jarang didapat, sukar dicari dan mahal harganya.
Tahun-tahun ini program kita banyak dan padat. Kita akan fokus dan konsentrasi pada pembinaan santri, guru dan pengembangan kualitas pondok. Maka kita tidak ingin terganggu dengan berbagai macam kunjungan tamu yang akan semakin membuat kita masyghulul baal, gundah, gelisah dan sakit hati. Bagaimana kita tidak masyghulul baal? Sementara hal-hal positif yang kita tanam, kita rawat, kita semai ke dalam jiwa santri melalui pendidikan. Saat ini, kita saksikan dengan mata telanjang ada upaya sistematis, terstruktur dan masif untuk memapras habis. Inilah yang membuat kita masyghulul baal.
Yang sangat dibutuhkan anak-anak kita pendidikan yang baik, bukan kemewahan fasilitas dan materi yang memanjakan mereka. Apakah kalau anak-anak difasilitasi kemewahan, kenyamanan akan menjadi baik, berbakti kepada orangtua? Tidak jaminan. Apa yang dibicarakan anak-anak di luar sana pada waktu istirahat sekolah? ‘Nanti sore dan malam akan ke mana’. Hingga kajian-kajian yang ada di TV kebanyakan hanya formalitas, memaksakan diri dan dibuat-buat (takalluf, tashannu’). Sedang ada upaya keras mengaborsi gerakan-gerakan Islam (إجهاض الحركة الإسلامية). Inilah yang harus kita waspadai bersama.
Saat ini banyak orang yang sedang diuji dengan istidraj oleh Allah SWT. Sikap kita, jangan bergabung dengan mereka yang di-istidraj oleh Allah dan jangan pula menjadi korban kezaliman mereka. Kita ‘uzlah (menyingkir-menyendiri) namun tidak pasif. Kita tetap aktif (ijabi) ‘uzlah mutsmirah, tetap sibuk mendidik, menguatkan diri, mempersiapkan diri. [] (Selesai)
*)Disampaikan dalam pertemuan Kemisan Guru KMI, 25 April 2024, oleh KH Hasan Abdullah Sahal. Tulisan disadur dari buku “The Garden of Wisdom: Spiritual and Philosophical Wisdom. Wejangan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal” yang disusun oleh Ahmad Suharto.























