pesanan-baju-kaos
32 °c
Pecenongan
Sat
Sun
Friday, 9 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Wawancara

Mengingat Kembali Peran Ulama dalam Kemerdekaan Indonesia

Prof Dr Budi Sulistiono MHum, Pakar Sejarah dan Arkeologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
2 December 2025
in Wawancara
0
Mengingat Kembali Peran Ulama dalam Kemerdekaan Indonesia

Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak terlepas dari peran dan perjuangan para ulama. Pengorbanan dan kontribusi para ulama sangat jelas dan tertulis dalam sejarah Indonesia. Mulai dari masa penjajahan Belanda, Inggris, Jepang dan Portugis, saat pemberontakan PKI, sampai pada saat Indonesia memperoleh haknya sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Maka untuk mengingat kembali peran ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Reporter Majalah Gontor Devi Lusianawati berkesempatan untuk bertanya langsung kepada Pakar Sejarah dan Arkeologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Budi Sulistiono MHum. Berikut petikannya:

Bagaimana peran ulama di masa perjuangan Indonesia melawan penjajah?

Perjalanan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran para ulama. Mereka tidak hanya menjadi pemimpin spiritual, tetapi juga agen sosial, politik, dan kultural yang mendorong rakyat untuk bangkit melawan penjajahan. Di antara perjuangan tersebut ada ulama di Aceh yang berhadapan dengan Portugis dan Spanyol. Perjuangan ulama di Kesultanan Demak siap tempur menghadapi intervensi Portugis di Batavia lanjut di Panarukan (Jawa Timur), dan berhasil.

BACA JUGA

UNIDA Ingin Duduk Bersama Universitas-universitas Kelas Dunia

Belajar Jadi Pengusaha Teladan dan Bermanfaat bagi Umat

Abad Kedua Gontor Dimulai Hari Ini!

Titik Terang Kembalikan Lunturnya Adab dalam Dunia Pendidikan  

Kembali ke Fitrah: Apa yang Berubah Setelah Ramadhan?

Perjuangan ulama kian menyebar dan tak kenal henti. Mereka  harus berhadapan dengan kekuatan multibangsa penjajah di seantero Indonesia. Alhamdulillah berhasil, 17 Agustus 1945, dari Sabang- sampai Merauke menyatakan MERDEKA!

Tapi, apa mau dikata perjuangan rakyat Indonesia ternyata belum berakhir. Periode 1945-1949, tidak dalam kondisi aman tenteram, tapi justru menjadi masa kritis. Bangsa   Indonesia menghadapi tantangan besar dari pihak Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Pasukan Belanda melancarkan serangkaian serangan di berbagai wilayah sampai 1949.

Melalui bentangan masa perjuangan dari masa ke masa, yang paling penting, ulama berhasil mempertemukan nilai Islam dengan semangat nasionalisme. Alhamdulillah, para ulama berperan sebagai imam perjuangan: Menyulut semangat jihad melawan kolonialisme, Memimpin pasukan dan organisasi rakyat, Menjadi aktor politik yang ikut merumuskan dasar negara, Menggunakan pesantren dan dakwah sebagai basis perlawanan, Menyatukan Islam dengan nasionalisme Indonesia.

Apa yang melandasi semangat para ulama berjuang melepaskan NKRI dari tangan penjajah?

Semangat perjuangan ulama lahir dari keyakinan teologis bahwa melawan penjajahan merupakan bagian dari jihad fi sabilillah. Bagi mereka, mempertahankan tanah air bukan semata urusan politik, melainkan juga ibadah yang bernilai tinggi di hadapan Allah. Prinsip ini membuat umat Islam merasa bahwa mempertahankan Indonesia sama dengan menjalankan perintah agama. Perpaduan ini menjadikan perjuangan kemerdekaan Indonesia unik. Jika di negara lain Islam dan nasionalisme sering berjalan terpisah, di Indonesia keduanya justru saling menguatkan.

Perjuangan ulama tentu tidak terlepas dari rintangan-rintangan yang menghadang, lantas rintangan seperti apa yang dihadapi para ulama?

Halang rintang yang dihadapi ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI meliputi: Pertama, represi penjajah. Salah satu rintangan terbesar yaitu represi langsung dari penjajah. Ulama yang mengeluarkan fatwa jihad, menggerakkan pesantren, atau memimpin laskar rakyat kerap ditangkap, dipenjara, bahkan dieksekusi. Misalnya, Jepang pernah menangkap KH Hasyim Asy’ari pada 1942 karena dianggap berpotensi menggerakkan perlawanan umat.

Kedua, stigma colonial. Label “radikal” atau “fanatik” buat para ulama karena peran mereka dalam memobilisasi jihad. Label ini oleh kolonial Belanda maupun Jepang digunakan  untuk menjustifikasi penangkapan, pengasingan, atau pembatasan aktivitas dakwah.

Ketiga, keterbatasan logistic. Ulama dan pasukan rakyat sering berhadapan dengan minimnya senjata, amunisi, serta logistik. Untuk mengatasinya, ulama memanfaatkan jaringan pesantren dan masyarakat desa sebagai basis dukungan, tapi keterbatasan ini tetap menjadi hambatan serius dalam menghadapi kekuatan kolonial yang lebih besar.

Keempat, perpecahan internal umat. Perbedaan antara kelompok modernis (seperti Muhammadiyah dan Persis) dan tradisionalis (seperti NU) kadang memperlambat konsolidasi kekuatan.

Kelima, tekanan politik. Hal ini menjadi salah satu bentuk rintangan politik yang sangat berat, karena mereka dituntut mengedepankan persatuan nasional di atas kepentingan kelompok. Ulama harus rela menahan aspirasi politik Islam demi menghindari perpecahan bangsa.

Keenam, tantangan ideologis. Upaya memadukan Islam dan nasionalisme bukan hal mudah, karena selalu ada tekanan dari pihak kolonial maupun elite tertentu yang berusaha memecah belah gerakan kemerdekaan. Sebagian pihak berusaha mempertentangkan Islam dengan nasionalisme, seolah keduanya tidak bisa berjalan bersama. Ulama harus menghadapi tantangan ideologis ini dengan mengajarkan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman (hubbul wathan minal iman).

Alhamdulillah, dengan keteguhan iman, kepemimpinan moral, serta kemampuan mengintegrasikan Islam dan nasionalisme, ulama mampu mengatasi semua hambatan tersebut. Halang rintang yang dihadapi ulama justru memperkuat posisi mereka sebagai simbol perlawanan. Realitas sejarah ini menjadi bukti bahwa kemerdekaan Indonesia lahir bukan hanya dari strategi militer atau diplomasi, tetapi juga dari kekuatan moral dan spiritual yang dipimpin oleh para ulama.

Apa saja wujud kontribusi ulama dalam melawan penjajahan sampai Indonesia merdeka?

Melalui jelajah sejumlah peristiwa dari masa ke masa hingga lepasnya Indonesia dari tangan penjajah, nyata terlihat ulama memainkan peran multifungsi: sebagai pendidik, pemimpin spiritual, tokoh politik, dan komandan militer. Sebagai pendidik, ulama antara lain mendirikan pesantren. Pesantren berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam sekaligus sarana pembentukan kesadaran politik. Ulama menggunakan pesantren untuk menanamkan nilai-nilai antipenjajahan dan mengembangkan kesadaran kebangsaan.

Pada periode 1945–1949 banyak ulama yang turun ke medan perjuangan. KH Zainul Arifin dan pasukan Hizbullah misalnya, berperan penting dalam pertempuran di berbagai daerah. Langkah ulama itu tak lepas dari para ulama generasi sebelumnya, yang juga memimpin gerakan rakyat secara langsung. Tuanku Imam Bonjol di Minangkabau memimpin Perang Padri, Pangeran Diponegoro di Jawa memimpin Perang Jawa, dan Pangeran Antasari di Kalimantan memimpin Perang Banjar. Hal ini menunjukkan bahwa ulama berperan sebagai pemimpin karismatik yang mampu menggabungkan kekuatan agama dengan perjuangan politik-militer.

Sebagai tokoh politik dan berperan dalam diplomasi, antara lain:  M Zein Hassan, M Nur Asyik, Fouad Fachruddin, Haji Agus Salim, dan Harun Nasution menjadi tokoh kunci dalam memperjuangkan pengakuan internasional terhadap kedaulatan Republik Indonesia di forum internasional. Ulama seperti KH Wahid Hasyim berperan penting dalam perumusan dasar negara dalam sidang BPUPKI dan PPKI.

Peran ini memperlihatkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil perjuangan politik sekuler, tetapi juga perjuangan spiritual yang didorong oleh nilai agama. Warisan ini masih relevan untuk menjaga identitas kebangsaan dan persatuan nasional di tengah tantangan global saat ini.

Siapa saja ulama yang ikut berjuang saat awal masa-masa perlawanan Indonesia  mengusir penjajah? Apa saja kontribusi mereka?

Keberanian para ulama Indonesia menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia telah berakar jauh sebelum proklamasi 1945. Di antara ulama yang mengobarkan semangat melawan penjajah, antara lain: Syekh Yusuf al-Maqassari (1626–1699) dari Sulawesi. Ketika perjuangannya gagal, Syekh Yusuf ditangkap dan dibuang ke Sri Lanka lalu ke Afrika Selatan. Namun, ajarannya tetap hidup melalui jaringan murid dan tarekatnya.

Di Aceh ada Teungku Cik Pante Kulu, Teungku Lam Krak, dan Teuku Umar. Ulama seperti Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia, meski dikenal sebagai tokoh perempuan, juga dibimbing secara spiritual oleh para ulama dayah. Para ulama ini berfungsi sebagai penasihat politik dan agama dalam perang yang berlangsung puluhan tahun.

Di Sumatera timur dan selatan ada Syekh Abdul Wahab Rokan (Tuan Guru Babussalam) yang memainkan peran sentral dalam membangkitkan kesadaran Islam dan antipenjajahan di kalangan rakyat Melayu Deli dan Rokan, Tuanku Imam Bonjol (1772–1864).

Di Jawa ada Pangeran Diponegoro (1785–1855),  KH Ahmad Rifai Kalisalak (1786–1870), Kiai Mojo, Kiai Kasan Besari, dan Kiai Hasyim Asy’ari merupakan figur yang menandai kontinuitas perlawanan Islam dari masa ke masa.

Dari Kalimantan ada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710–1812). Meskipun beliau wafat sebelum masa kolonialisme Belanda menguat di Kalimantan, pemikirannya melahirkan generasi ulama Banjar yang kelak menjadi pejuang antikolonial.

Lalu siapa saja ulama yang berjuang di masa-masa awal kemerdekaan Indonesia?

Muhammad Daud Beureueh memimpin gerakan perjuangan di Aceh dengan mengorganisir perlawanan bersenjata melawan Belanda. Beliau memainkan peran kunci dalam pembentukan Pemerintahan Darurat di Aceh. Beliau dan para pengikutnya mendirikan struktur pemerintahan yang mendukung Republik Indonesia dan melawan upaya Belanda untuk menguasai kembali wilayah tersebut.

Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan salah satu tokoh agama terkemuka dari Lombok. Beliau dikenal sebagai pendiri organisasi Nahdlatul Wathan, sebuah organisasi Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat yang berfokus pada pendidikan, dakwah, dan sosial. Selain aktif dalam pengembangan pendidikan Islam di Lombok, beliau juga berperan penting dalam menyebarkan semangat kemerdekaan di kalangan masyarakat Lombok dan menjadi tokoh yang sangat dihormati.

KH Masjkur, ulama dan anggota Masyumi, terlibat dalam pembentukan laskar rakyat di Rembang dan Jepara. Ia memainkan peran penting dalam koordinasi militer, pengumpulan intelijen dan penyediaan informasi strategis bagi pemerintah Republik Indonesia.

KH Muhammad Saleh dikenal sebagai ulama dan tokoh pesantren yang aktif mengorganisasi santri menjadi laskar rakyat dalam melawan Belanda. Ia berperan strategis dalam mobilisasi spiritual dan moral, menanamkan semangat jihad fisik dan nasionalisme pada santri di Bone dan Makassar.

KH Abdullah Daeng Sirajuddin (Sulawesi Selatan), memimpin laskar rakyat di pedesaan Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah Gowa dan Takalar.

Haji Salahuddin bin Talabuddin adalah seorang ulama dan pejuang kemerdekaan asal Halmahera Tengah, Maluku Utara. Ia terlibat aktif dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan menjadi simbol perlawanan rakyat Maluku Utara. Beliau dieksekusi oleh pasukan Belanda pada tahun 1948 karena perjuangannya yang konsisten dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Apa hasil yang dapat dirasakan masyarakat Indonesia saat ini dari perjuangan para ulama itu?

Perjuangan ulama mempertahankan kemerdekaan Indonesia telah melahirkan hasil-hasil yang masih dirasakan masyarakat hingga kini. Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari meneguhkan legitimasi keagamaan nasionalisme; KH Wahid Hasyim meletakkan dasar integrasi Islam dan negara; laskar Hizbullah dan Sabilillah mewariskan semangat ketahanan nasional; pesantren menjadi pusat pendidikan bangsa; serta identitas Islam moderat menjadi ciri khas umat Islam Indonesia.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang sejak awal menjadi pusat dakwah dan perjuangan. Pada masa revolusi, pesantren berfungsi sebagai basis perekrutan laskar dan pusat logistik perlawanan. Kini, pesantren berkembang menjadi lembaga pendidikan modern yang berkontribusi pada pendidikan nasional.

Perjuangan ulama di Indonesia memperlihatkan kemampuan untuk memadukan jihad dengan kearifan lokal. Islam di Indonesia berkembang menjadi Islam moderat yang sejalan dengan budaya Nusantara. Identitas Islam moderat ini merupakan warisan ulama yang menjaga agar Islam tetap selaras dengan konteks kebangsaan. Dengan demikian, perjuangan ulama tidak hanya berperan dalam sejarah kemerdekaan, tapi juga membentuk karakter, sistem, dan identitas bangsa Indonesia modern.

Semangat perjuangan para ulama seperti apa yang bisa menjadi contoh bagi generasi muda Indonesia saat ini?

Nilai-nilai perjuangan ulama masih kontekstual untuk membentuk generasi muda yang patriotik, berilmu, berintegritas, dan menjunjung persatuan. Semangat patriotik wujud nyata respons dari seruan KH Hasyim Asy’ari melalui Resolusi Jihad (22 Oktober 1945) menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajahan merupakan kewajiban agama (fardhu ‘ain). Resolusi ini menggerakkan ribuan santri dan masyarakat untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Semangat jihad ini bukan sekadar perang fisik, tapi juga bentuk cinta tanah air yang religius.

Bagaimana cara generasi Indonesia sekarang memaknai perjuangan para ulama?

Ulama merupakan aktor penting yang menghubungkan nilai Islam dengan semangat kebangsaan. Mereka hadir bukan hanya sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai pemimpin rakyat, pendidik, dan pejuang bangsa. Ulama memberikan legitimasi keagamaan bagi nasionalisme, memimpin laskar rakyat, serta menggerakkan pesantren sebagai basis perjuangan. Generasi kini dapat memaknainya sebagai komitmen terhadap integritas, kejujuran, dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Anda apakah perjuangan para ulama di zaman penjajahan sudah banyak dilupakan?

HUT RI baru memasuki ke-80, tidak harus membilang perjuangan-perjuangan para ulama di zaman penjajahan sudah banyak dilupakan, khususnya bagi pelajar dan generasi muda di Indonesia.  Tapi, sadarilah bahwa “buku teks sejarah nasional” lebih banyak mengulas tokoh politik, sementara tokoh agama hanya diberi ruang terbatas. Hal ini berdampak pada menurunnya pemahaman pelajar terhadap kontribusi ulama.

Sejak masuknya kolonialisme Barat ke Nusantara pada abad ke-16, bangsa Indonesia mengalami berbagai bentuk penindasan, baik ekonomi, politik, maupun budaya. Dalam situasi tersebut, para ulama tampil sebagai tokoh sentral yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajah. Keberanian ulama ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia telah berakar jauh sebelum proklamasi 1945. []

Tags: Kemerdekaan IndonesiaPahlawanUlama
Share24Tweet15Send
Previous Post

Komitmen dan Transformasi* (Bagian 2)

Next Post

Jejak Jihad Ulama: Dari Perang Gerilya hingga Resolusi Jihad 1945 

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

6 October 2026
DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

8 October 2026
Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

5 October 2026
Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

25 September 2026
Tirakat Orangtua Untuk Anak

Tirakat Orangtua Untuk Anak

11 October 2023
Drama Contest PMDG Kampus 12 Siak: Santri Asah Keberanian dan Kemampuan Berbahasa Asing

Drama Contest PMDG Kampus 12 Siak: Santri Asah Keberanian dan Kemampuan Berbahasa Asing

0
Magnet Rezeki Center Undang Majalah Gontor Ikuti Seminar Hybrid Serentak di Beberapa Kota

Magnet Rezeki Center Undang Majalah Gontor Ikuti Seminar Hybrid Serentak di Beberapa Kota

0
DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

0
Pimpinan Gontor Resmikan Masjid Pesantren Baitussalam Gunungkidul

Pimpinan Gontor Resmikan Masjid Pesantren Baitussalam Gunungkidul

0
Prodi IQT UNIDA Gontor Dalami Jurnalistik Media Islam di Majalah Gontor

Prodi IQT UNIDA Gontor Dalami Jurnalistik Media Islam di Majalah Gontor

0
Drama Contest PMDG Kampus 12 Siak: Santri Asah Keberanian dan Kemampuan Berbahasa Asing

Drama Contest PMDG Kampus 12 Siak: Santri Asah Keberanian dan Kemampuan Berbahasa Asing

8 October 2026
Magnet Rezeki Center Undang Majalah Gontor Ikuti Seminar Hybrid Serentak di Beberapa Kota

Magnet Rezeki Center Undang Majalah Gontor Ikuti Seminar Hybrid Serentak di Beberapa Kota

8 October 2026
DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

8 October 2026
Pimpinan Gontor Resmikan Masjid Pesantren Baitussalam Gunungkidul

Pimpinan Gontor Resmikan Masjid Pesantren Baitussalam Gunungkidul

8 October 2026
Arsitektur Peradaban Gontor: Sintesis Tasawuf, Sunnatullah, dan Hakikat Pendidikan

Arsitektur Peradaban Gontor: Sintesis Tasawuf, Sunnatullah, dan Hakikat Pendidikan

6 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result