Bogor, Gontornews — Nyai Hj Fatmah Noor Salim kini telah menapaki usia senjanya. Masa perjuangan yang penuh liku telah ia arungi bersama sang suami tercinta. Dialah, nyai sekaligus ibu dari ribuan santri Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami yang turut menyalakan cahaya Islam bersama KH Helmy Abdul Mubin.
โKalau beliau sudah punya tekad, saya hanya bisa menemani dengan doa dan usaha,โ tutur Nyai Hj Fatmah Noor Salim, istri KH Helmy Abdul Mubin ghafarallahu lahu, saat mengenang masa-masa awal perjuangan mereka mendirikan pesantren. Ucapannya tenang, tapi di balik keteduhan wajahnya, tersimpan kisah panjang tentang pengorbanan dan keteguhan hati seorang pendamping pejuang.
Dari awal pernikahan, ia sudah tahu bahwa hidup bersama seorang mujahid pendidikan bukan jalan yang mudah. โWaktu itu kami belum punya apa-apa,โ kenangnya. Rumah masih sederhana, tanah untuk pondok belum ada. Tapi suaminya sering bilang, โKalau niatnya lillahi Taโala, Allah pasti cukupkan.โ Ucapan itulah yang kemudian menjadi bekal semangat yang tak pernah padam di hati sang Nyai.
Nyai Fatmah bukan hanya seorang istri, tapi juga sahabat seperjuangan bagi pasangannya. Saat KH Helmy berjuang di luar pondok, ia menjaga rumah, mendidik anak-anak, mengurus santri, bahkan turun langsung mengatur dapur pondok. โKadang saya ikut bantu mengajar, kadang mengurus konsumsi santri. Semua dilakukan dengan senang hati, karena kami merasa ini bagian dari ibadah,โ tuturnya lirih.
Di tahun 1993, perjalanan membangun PM Ummul Quro Al-Islami dimulai dari nol. Santri awal hanya 20 orang saja, fasilitas hanya masjid dan sebuah gubuk kecil beralaskan papan, tapi keyakinan tak pernah berkurang. โKami belajar hidup dari kekurangan,โ ujarnya. Pernah dapur kosong, sambung Muslimah tangguh tersebut, tapi hati kami penuh rasa syukur. Karena setiap hari kami lihat semangat santri menuntut ilmu dan itu cukup membahagiakan.
Bagi Nyai Fatmah, perjuangan suaminya bukan sekadar membangun pesantren, tapi juga menanamkan nilai. Ia melihat langsung bagaimana KH Helmy mendidik para santri dengan cinta dan keteladanan. โBeliau selalu menekankan keikhlasan. Katanya, โKalau semua ini karena Allah, maka setiap peluh akan jadi pahala.โ Itu yang saya pegang sampai sekarang,โ ucapnya.
Kini, ketika pesantren tumbuh besar dan dikenal luas, ia tak pernah merasa semua ini milik satu orang. โPesantren ini bukan hasil kerja beliau sendiri, tapi hasil doa dan kerja bersama,โ ucapnya rendah hati. “Saya hanya ikut membantu menjaga api perjuangan itu agar tetap menyala.”
Perannya kini tidak kalah penting. Ia menjadi sosok ibu bagi para santri, teladan bagi para ustadzah, dan peneguh semangat bagi keluarga besar Ummul Quro. โKalau melihat para santri tersenyum, saya merasa perjuangan kami tak sia-sia,โ katanya dengan mata berbinar.
Meski KH Helmy telah berpulang, semangatnya masih hidup di setiap sudut pesantren. Sedangkan Nyai Fatmah tetap setia menjaga ruh itu, menjaga nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan cinta ilmu yang dulu mereka perjuangkan bersama. โSaya hanya ingin meneruskan langkah beliau karena selama masih ada santri yang belajar di sini, perjuangan itu belum selesai,โ pungkasnya. [Irfan]





















