Bogor, Gontornews – Berbeda dengan Insantama Market Day (IMD) sebelumnya, IMD Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insantama Leuwiliang kali ini, Jumat (24/4/2026), menampilkan Pasar Nusantara. Para siswa menjual aneka makanan dan minuman dari berbagai daerah di Indonesia.
Tak cuma itu mereka juga mengenakan pakaian adat Nusantara. Ada yang mengenakan pakaian suku Dayak (Kalimantan), suku Asmat (Papua), Minangkabau (Sumatera Barat), Jawa, Sunda, dan lainnya.
Semarak IMD makin menggeliat dengan tampilan tarian dan lagu-lagu daerah dari penjuru Nusantara. Di Panggung Utama para siswa menampilkan Ampar-Ampar Pisang, Cublak-Cublak Suweng, Manuk Dadali, Apuse, Sabilulungan, Peleuleuyan, Yamko Rambe Yamko, dan lain-lain. Dengan penuh antusias mereka berusaha menyuguhkan tampilan terbaiknya di depan sejumlah undangan, para guru, wali murid, dan rekan-rekan mereka sendiri.
“Anak-anak tidak hanya belajar niaga ala Rasulullah, tapi mereka juga belajar budaya Nusantara,” ujar Serda Tubagus Romdhoni saat memberikan sambutan pada pembukaan IMD mewakili Danramil Leuwiliang Kapten Arm. Abdul Halim yang berhalangan hadir.
Menurutnya, kegiatan IMD mendorong anak untuk mandiri, disiplin dan berlaku jujur. “Ini kegiatan yang positif. Anak-anak bisa berlatih disiplin,” ujarnya pada kegiatan yang ber-tagline “Untung – Halal – Berkah” ini.
Babinsa Romdhoni mengaku senang bisa menghadiri acara IMD yang menurutnya sangat inovatif dan banyak ditiru oleh sekolah-sekolah lain di Leuwiliang dan sekitarnya. Karenanya tidak berlebihan jika ia memberikan apresiasi tinggi atas kreativitas para siswa dan guru SDIT Insantama Leuwiliang.
Apresiasi juga disampaikan oleh Agus Nurmawan, mewakili Camat Leuwiliang, yang berhalangan hadir. Kasi Pendidikan dan Kesehatan Kecamatan Leuwiliang itu menuturkan dengan IMD anak-anak belajar ekonomi. Belajar menjadi penjual dan menjadi pembeli dengan etika yang diajarkan oleh Rasulullah.
“Anak-anak belajar menjadi penjual yang jujur dan menjadi pembeli yang jujur,” katanya.
Sementara itu Kepala SDIT Insantama Leuwiliang Ade Mahfudin SPdI mengatakan IMD tidak hanya mendidik siswa untuk berlaku jujur sebagai pedagang. Namun juga mendidik siswa untuk menjadi pembeli yang berlaku shalih.
“Melalui IMD ini para siswa belajar berbisnis mencari keuntungan dan keberkahan,” paparnya.
Usai acara pembukaan, para tamu undangan mendatangi lapak-lapak jualan para siswa. Begitu pula para wali murid, guru dan siswa. Mereka membeli dagangan yang ditawarkan para siswa yang berperan sebagai penjual. Hanya dalam waktu kurang dari 2 jam dagangan anak-anak itu, khususnya makanan, ludes terjual. []





















