Jakarta, Gontornews — Sudah terlalu sering kelompok Islam mendapat tudingan atau umpatan sebagai anti-NKRI dan pemecah belah bangsa. Tudingan ini tentu sama sekali tanpa dasar. Demikian kata Direktur Pusat Studi Islam dan Pancasila (PSIP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Polotik Universitas Muhammadiyah Jakarta Dr Ma’mun Murod Al-Barbasy dalam status facebooknya, Jumat (12/5).
Percayalah kalau suatu saat bi idznillah NKRI bubar atau setidaknya pecah menjadi beberapa negara, kata dia, insya Allah penyebabnya bukan karena kelompok Islam yang sering dituduh radikal.
Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa Aceh bergejolak yang berlangsung hingga awal Reformasi pelakunya jelas bukan Islam radikal, termasuk kalau suatu saat misalnya Aceh merdeka (semoga tidak), juga rasanya sangat tidak mungkin kalau penyebabnya Islam radikal. Potensi Aceh masih sangat kuat.
Lanjut Ma’mun mengungkapkan Timor Timur (Timor Leste) merdeka penyebabnya juga bukan kelompok Islam radikal. Sipadan dan Ligitan lepas dari Indonesia, kata Ma’mun, penyebabnya juga bukan Islam radikal. Masih ingatkan Sipadan dan Ligitan lepas dari Indonesia di era pemerintahan siapa?
“Kalau suatu saat Papua juga pisah dan merdeka dari Indonesia, saya yaqin, bahkan haqqul yaqin penyebabnya juga pasti bukan karena Islam radikal. Potensi Papua untuk merdeka sangat besar. Apalagi konon kemerdekaan Papua sudah digadaikan. Artinya kemerdekaan Papua hanya soal waktu saja,”imbuhnya.
Ma’mun mengungkapkan pendapatnya tersebut di laman facebooknya bukan tanpa alasan. “Saya menulis status ini, pertama, untuk menjawab tudingan ngawur dan tanpa nalar sehat dari kalangan sekular fundamentalis dan islamophobia yang selalu menyudutkan kalangan Islam sebagai pengacau dan anti-NKRI,” tuturnya.
Kedua, imbuh dia, sebagai bentuk “perjudian”, bahwa sejarah insya Allah akan mencatat kalau ada wilayah NKRI yang lepas lagi dari Indonesia itu penyebabnya bukan karena kelompok Islam radikal, tapi sebaliknya, sebagaimana tercatat dalam sejarah, penyebabnya adalah elit politik yang tengah berkuasa. [Muhammad Khaerul Muttaqien/Rus]






















