Jakarta, Gontornews — Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon beberapa waktu lalu menganugerahkan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa kepada santri-santri Indonesia yang berprestasi di bidang ilmu pengetahuan. Adalah Ubaydillah Anwar yang terpilih sebagai penerima gelar kehormatan Honoris Causa pertama karena dinilai telah layak menyandang gelar kehormatan itu.
Ubaydillah memulai pendidikannya di Pesantren Al-Rosyid di Bojonegoro, Pesantren Langitan, lalu terakhir Pondok Modern Gontor (1993). Berbekal keterampilan menulis yang diperolehnya dari Gontor, bahasa Arab dan bahasa Inggris, Ubaydillah menjelajahi jagat ilmu hingga akhirnya fokus pada pengembangan soft skill dengan sejumlah ilmu pendukungnya, antara lain psikologi, manajemen, spiritualitas, dan tasawuf.
Ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai pendidikan profesional di dalam dan luar negeri setelah lama berkarya dan berkiprah.
Sebagai profesional di bidang soft skill, ia telah menulis lebih dari 1000 artikel yang telah diterbitkan di sejumlah media nasional dan media profesional di sejumlah perusahaan, antara lain Majalah Gontor, PT Nestle Indonesia, PAMA Media, www.e-psikologi.com, dan lain-lain.
Ia juga telah menulis buku lebih dari 45 judul di bidang soft skill, spiritualitas, dan keislaman yang telah diterbitkan oleh berbagai penerbit nasional, antara Mizan, Republika, Gramedia. Selain itu ia juga dipercaya sebagai editor buku pembangunan SDM sejumlah kantor kementerian, tokoh masyarakat, dan perusahaan nasional.
Ubaydillah juga aktif menjadi narasumber seminar, workshop, Β dan training Β yang diselenggarakan oleh berbagai perusahaan nasional, multinasional, BUMN, kantor kementerian, dan kelompok masyarakat.
Kiprah sosialnya yang terus ia kembangkan adalah mewadahi dan mengembangkan guru-guru pesantren agar lebih kreatif dalam menyiasati hadirnya era digital untuk menaikkan bobot kualitas pembelajaran.
Dalam sambutannya yang berapi-api, Ubaydillah menyatakan sikap hatinya bahwa baginya tidak penting gelar ini diakui atau tidak oleh dunia luar.Β Yang paling penting menurutnya adalah hadirnya sosok kiai yang berani membuka terobosan bagi kemajuan ilmu pengetahuan di pesantren dengan menganugerahkan gelar kehormatan ini. Ubaydillah berjanji akan menggunakan gelar ini sebagai amanah untuk meningkatkan pengabdiannya di pesantren melalui pengembangan soft skill bagi guru-guru. [Muhammad Khaerul Muttaqien/Rus]





















