Jakarta, Gontornews–90 juta warga negara Indonesia adalah perokok. Bahkan dua dari tiga laki-laki di Indonesia usia di atas 15 tahun adalah perokok.
Menurut data Riskesdas 2013, baik pada kaum laki-laki maupun perempuan, mayoritas perokok berada di rentang usia 15-19 tahun. Artinya mereka adalah pelajar seusia SMA atau sederajat. Menurut data, perokok laki-laki pada usia ini mencapai 57,3 persen sedangkan perempuan mencapai 29,2 persen.
Sementara menurut survei The Global Youth Tobacco 2014, 36,2 persen pelajar laki-laki adalah perokok. Sementara pelajar perempuan mencapai 4,3 persen. Dari survei tersebut juga diketahui 69 persen pelajar pernah melihat seseorang merokok di dalam gedung sekolah atau di luar gedung sekolah tetapi masih di halaman sekolah.
Jumlah perokok yang sangat besar ini, salah satunya dipengaruhi oleh iklan rokok yang menjamur bebas di Indonesia. Menurut Angota Majelis Pembina Kesehatan Umum PP Muhammadiyah Deni Wahyudi Kurniawan, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang masih membolehkan iklan rokok di luar ruang.
Bukan hanya itu, kata Deni, Indonesia merupakan satu-satunya negara Muslim anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang belum merafitikasi konvensi pengendalian tembakau melalui Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).
“Indonesia termasuk satu diantara tujuh negara yang belum ratifikasi soal pengendalian tembakau FCTC. Satu-satunya negara Islam di OKI,” ungkap Deni yang juga Manajer Program The Indonesian Institute for Social Development (IISD) pada media briefing di Kantor PP Muhammadiyah, Rabu (21/06/2017).
Enam negara lain yang belum meratifikasi FCTC adalah Andorra, Eritrea, Liechtenstein, Malawi, Monaco dan Somalia. Sementara 180 negara lainnya di dunia, yang mewakili 90 persen populasi dunia sudah meratifikasi kesepakatan tersebut.
Deni menolak jika dengan meratifikasi FCTC disebut akan merugikan petani tembakau lokal. Ia membeberkan data, saat ini tembakau ditanam di 124 negara di dunia dengan produksi 105-226 ribu ton per tahun. Sementara kebutuhan tembakau pada 2015 meningkat hingga 363.130 ton. Di sisi lain per tahun 2015, produksi rokok mencapai 360 milyar batang.
“Di Indonesia, insudtri rokok mengimpor tembakau dari China, Turki dan Brazil. Harga lebih murah, kualitas lebih baik,” ungkapnya.
Dengan data ini, Deni mengungkapkan sejatinya petani lokal justru dirugikan. Sebab tata kelola tembakau oleh pemerintah yang belum dikelola dengan baik dan justru tidak menguntungkan mereka. [fathur]





















