New York, Gontornews – Sebuah eksperimen seputar pembuahan janin oleh Dr John Zhang, seorang doktor di New York, dan tim berhasil dilaksanakan. Zhang berhasil menggabungkan DNA Mitokondria dari 2 ibu yang berbeda untuk menghasilkan pembuahan dalam janin.
“Ini adalah berita besar. Ini revolusioner!” ungkap Dusko Ilic dari King College, London, sebagaimana dilansir New Scientist.
Pola yang digunakan oleh Zhang memang kontroversial. Pasalnya, penggabungan mutasi genetik langka, dari latar belakang orangtua yang berusaha memiliki bayi yang sehat ini, secara hukum, hanya disetujui di Inggris. Namun, kelahiran anak dari pasangan Yordania di Meksiko diperkirakan mengubah ketentuan hukum di dunia.
Langkah yang dilakukan oleh Zhang dan tim bukan tidak beralasan. Sang ibu tercatat menderita semacam mutasi gen yang berisiko melahirkan anak dengan sindrom leigh yaitu semacam penyakit genetik yang berakibat pada proses degenerasi pada sistem syaraf utama seperti otak, syaraf tunjang dan mata.
Pada kelahiran pertamanya, ibu tersebut melahirkan anak terkena sindrom leigh yang mempengaruhi perkembangan otak, otot dan syaraf si bayi. Enam tahun kemudian anak tersebut meninggal dunia. Demikian pula dengan kelahiran anak kedua yang berumur tidak lebih dari 8 bulan.
Zhang kemudian menyimpulkan jika permasalahan yang terjadi pada si ibu asal Yordania tersebut terjadi pada DNA mitokondria yang dimilikinya. DNA mintokondria merupakan DNA yang menyediakan tenaga/energi untuk kehidupan sebuah sel.
Zhang yang bekerja di The New Hope Fertality Center di New York tersebut berusaha untuk menghindari penyakit yang ada pada mitokondria ibu tersebut melalui teknik yang diberi nama ‘3 parents’ atau 3 orangtua. Ada beberapa cara dalam melakukan hal ini agar tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Pertama, dengan menggabungkan pembuahan yang terjadi dari sperma ayah kepada sel indung telur ibu atau dengan pendonor sel telur yang bukan istri sahnya. Dalam proses ini, sel telur yang telah dibuahi lantas dipecah menjadi dua dengan menghapus inti sel keduanya. Sel yang sudah dipecah kemudian diganti dengan telur untuk dibuahi oleh ibu.
Model ini ditolak oleh pasien karena bertentangan dengan keyakinannya sebagai seorang Muslim. Karena alasan itu pula, Zhang mengubah pendekatannnya dengan model spindle nuclear transfer. Berbeda dengan model sebelumnya, model ini bukan mencampurkan inti sel sperma ayah ke dalam sel telur wanita melainkan memasukkan DNA mitokondria pendonor pada inti sel telur sang ibu. Setelahnya, sel telur yang berhasil diberi mitokondria ‘baru’ dibuahi dengan sperma ayah.
Pendekatan yang digunakan oleh Zhang ini menghasilakn lima embrio dengan hanya satu yang berkembang dengan normal dan lahir 9 bulan kemudian. “Ini berita yang menarik,” kata Bert Smeets dari Maastricht University di Belanda.
Selanjutnya, tim akan menjelaskan temuannya itu pada pertemuan ilmiah di Salt Lake City, AS, Oktober mendatang.
Meski metode ini belum disetujui di Amerika dan menyebabkan Zhang pergi ke Meksiko, peraih double degree dari Zhejiang University School of Medicine dan Birmingham University tahun 1991 itu berskeras jika apa yang dilakukannya tidak melanggar etika kedokteran.
“(Metode ini dilakukan) untuk menyelamatkan nyawa adalah hal yang etis untuk dilakukan,” ungkapnya.
Setelah 5 bulan berlalu sejak eksperimen tersebut dilakukan, keadaan bayi dikabarkan dalam kondisi sehat. Zhang dan tim menguji mitokondria anak tersebut. Hasilnya, mutasi gen berada di bawah angka satu persen. Menurutnya hal tersebut diharapkan tidak menyebabkan masalah di masa mendatang.
“Ini sangat bagus,” sebutnya.
Smeets pun menyetujui hal itu sekaligus mengingatkan kepada Zhang agar terus memantau perkembangan anak tersebut tahap demi tahap. Pasalnya, ada kemungkinan mitokondria akan rusak seiring dengan jumlahnya yang terus bertambah.
“Kita perlu menunggu lebih lama pascakelahiran dan berhati-hati dalam menghakimi mereka,” pungkas Smeets. [Mohamad Deny Irawan/Rus]




















