Bangka, Gontornews — Akbar Zainudin, motivator nasional dan penulis buku Man Jadda Wajada mengelar seminar motivasi “Man Jadda Wajada” di atas kapal TNI AL KRI-Surabaya yang sedang berlayar di Perairan Bangka menuju Pulau Bintan. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pelayaran Nusantara VI yang diadakan oleh TNI Angkatan Laut bekerjasama dengan Saka Bahari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan peserta program Bela Negara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Pelayaran Nusantara VI ini akan melewati Jakarta-Bangka-Bintan-Natuna-Pontianak hingga kembali lagi ke Jakarta. Pelayaran ini juga dalam rangka Sail Karimata 2016 yang akan diadakan di Selat Karimata, Kalimantan.
Menurut Akbar, memberi seminar motivasi di atas kapal memberikan sensasi berbeda yang luar biasa. Sebuah pengalaman baru yang hebat karena seminarnya mesti menyesuaikan dengan cuaca. Seminar hanya bisa dilaksanakan jika cuaca memungkinkan. Peserta yang terdiri dari 300 anggota Pramuka Saka Bahari dari berbagai daerah di Indonesia dan program Bela Negara memperhatikan dan mengikuti seminar dengan antusias.
Kali ini, Akbar menyampaikan empat materi utama dari Man Jadda Wajada, yaitu: Berpikir Positif, Berani Bermimpi, Berani Action, dan Bangun Komitmen. “Hidup adalah mensyukuri masa sekarang. Biarlah masa lalu menjadi pelajaran bagi kita dan masa depan menjadi penunjuk arah. Yang kita hadapi adalah masa sekarang sebagai hadiah yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu syukuri apa yang ada hari ini. Jangan sampai hidup dibebani masa lalu sehingga kita gagal “move on” dalam menghadapi masa depan,” paparnya.
Alumnus Pondok Modern Gontor itu menyebutkan, orang-orang yang tersandera masa lalu biasanya dihinggapi perasaan takut, khawatir, trauma, kemarahan, atau kegelisahan mendalam. Sebelum melangkah, bayangan kegagalan, keterpurukan, kezaliman, atau perlakuan tidak mengenakkan selalu menghalangi. Ada kemarahan besar dalam perasaannya sehingga setiap langkahnya tidak bisa berjalan dengan maksimal.
“Maafkan masa lalumu, bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri kita sendiri. Memang tidak mungkin kita melupakan masa lalu. Semakin berusaha melupakan, maka ingatan itu akan semakin kuat. Yang diperlukan adalah mengikhlaskan dan memaafkan masa lalu sebagai bagian dari kehidupan. Kalau kita bisa mengikhlaskan dan memaafkan, akan membuat cara pandang berbeda. Kalau biasanya kita mengingat orang atau peristiwa tersebut lalu timbul kemarahan besar dalam diri kita, dengan ikhlas dan maaf kita bisa menempatkannya secara wajar, tidak lagi dipenuhi dengan gejolak kemarahan.”
“Untuk apa kita marah-marah terhadap sesuatu yang sudah tidak bisa lagi diulang kembali. Lebih baik jadikan itu semua sebagai bahan pelajaran untuk bisa menjadi lebih baik di masa mendatang,” ujar Akbar.
Ia menuturkan, kalau hati menjadi tenang, pikiran positif akan terpampang di depan mata. Bersyukur dan berpikir positif akan menjadi dasar agar kita berbuat benar dan baik.
“Kalau sudah berpikir positif, hal kedua yang harus dilakukan adalah keberanian untuk bermimpi. Apa yang terjadi di dunia ini berawal dari impian. Bangun impian setinggi langit karena impianlah yang akan membawa kita kepada masa depan. Tanpa impian yang kuat, kita tidak akan pernah bisa menjadi siapa-siapa,” katanya.
Menurut Akbar, impian besar dimulai dari keberanian besar. “Tidak perlu memperhatikan dan mendengarkan suara-suara sumbang yang ada di sekitar kita, karena mereka pada dasarnya hanya berbicara belaka. Yang dibutuhkan adalah tekad dan keyakinan kuat bahwa kita mampu menjangkau dan mencapai impian tersebut. Keyakinan akan menentukan apakah kita bisa atau tidak.”
Akbar kemudian meminta peserta untuk membuat target-target yang terukur. Ukuran paling mudah adalah ada angka dan waktu kapan impian tersebut akan tercapai. “Jika target yang kita buat tidak ada angkanya, berarti belum terukur. Misalnya ingin punya rumah yang besar. Seberapa besar? Harganya berapa? Kalau sudah ada angkanya, baru bisa disebut terukur. Ditambah lagi dengan kapan target itu bisa terwujud, sebuah target harus mempunyai waktu kapan akan terwujud. Jika tidak ada waktunya, target tersebut hanya akan menjadi angan-angan belaka,” terang Akbar.
Saat para peserta diminta maju dan membacakan impiannya, mereka berebut maju ke depan. Ada peserta dari Papua, Jawa Barat, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Banten, Jakarta, dan berbagai daerah dari seluruh Indonesia. Mereka punya impian besar dan bertekad bekerja keras mencapai apa yang sudah mereka targetkan
Jika sudah punya impian, langkah selanjutnya adalah berani action, berani bekerja keras untuk mencapai impian. “Orang yang punya impian besar, lalu bekerja sangat keras dalam mencapai impian, saya yakin hanya masalah waktu impian tersebut akan tercapai. Dorong kemampuan dan diri kita sampai batas yang paling memungkinkan. Kalau belum habis-habisan, berarti belum bekerja keras. Pokoknya apapun yang terjadi, kita harus habis-habisan, pol-polan dalam bekerja dan bertindak. Itulah makna filosofis dari pepatah Arab Man Jadda Wajada: Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan sukses.”
Setelah itu, terakhir adalah bangun komitmen yang kuat mengapa kita punya tujuan dan mengapa harus bekerja keras. “Buatlah alasan kuat dan sangat mendasar mengapa kita melakukan itu semua agar apapun yang terjadi di tengah perjalanan kita bisa mengatasinya. Hidup tidak selalu seperti apa yang kita rencanakan. Mungkin malah lebih sering kita jatuh bangun dan tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan,” ujar Akbar.
Komitmen yang kuat akan membantu mengatasi berbagai permasalahan yang ada. Tanpa komitmen, bisa-bisa kita berputus asa pada saat kita jatuh atau pada saat kehidupan tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Dengan komitmen kuat pula kita akan menjaga ritme semangat yang sudah kita bangun. Apapun yang terjadi, kita akan terus berjuang hingga sampai pada cita-cita yang sudah kita canangkan.
Perjuangan tidak pernah selesai. Karena hidup terlalu sayang kalau kita sia-siakan dengan hanya bekerja seadanya. Hidup adalah perjuangan. Dalam membangun komitmen ini, di tengah lautan, di bawah langit yang luas, Akbar membuat hampir seluruh peserta menangis tersedu, menyadari kekurangan mereka selama ini dan pada akhirnya membangun komitmen total untuk membangun diri lebih baik, berjuang lebih keras untuk keluarga, bangsa dan negara.
Kolonel Hargianto dari Dispotmar TNI AL mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk menanamkan cinta bahari kepada para peserta di samping bisa merasakan secara langsung kebesaran alam dan keindahan Indonesia di berbagai wilayahnya. “Mereka adalah calon-calon pemimpin di masa mendatang, dan dengan mengetahui kekayaan dan keragaman Indonesia akan lebih cinta kepada Tanah Air dan bertekad lebih besar untuk memanfaatkan kekayaan laut Indonesia demi kemakmuran rakyat,” paparnya. [Rusdiono Mukri]

















