Yogyakarta,Gontornews — Program Magister Studi Islam UII Selasa (4/10) mengadakan seminar internasional dengan menghadirkan Prof Dr Mounir Talili, pakar dari Tunisia.
Berema “Attanmiyah Al Iqtisodiyah Al Islamiyah ala Maqosidi Syariah fii Tunis” (perkembangan ekonomi Islam dalam kacamata maqosid syariah di Tunis), acara dimoderatori oleh Agus Asmuni MA.
Dalam sambutannya, Dekan FIAI UII Dr Tamyiz mengucapkan terima kasih untuk Profesor Mounir Talili atas kehadirannya. Dekan FIAI memperkenalkan MSI (Magister Studi Islam) UII mempunyai 450 mahasiswa magister dan doktoral kurang lebih 450 mahasiswa, banyak di antaranya faham dengan bahasa Arab.
Professor Dr Mounir Talili ialah guru besar di Universitas Zaitun, mantan menteri agama di tunis, dan berkompetensi dalam bidang ilmu fiqh dan cabangnya. Dia juha Ketua DPS (Dewan Pengawas Syariah) di berbagai bank , asuransi dan inventasi di Tunis.
“Saya datang ke sini dari negara yang cukup jauh, Tunis, 14 jam di atas pesawat. Awalnya saya kira sendiri, tapi ternyata ulama terdahulu, juga sudah ke negara ini,” ungkapnya mengawali pembicaraan.
Dia melanjutkan, “Lelah itu hilang setelah melihat kalian, di Tunis itu ada suatu kota bernama Kairawan menyebar para dai dari univesitas Zaituna dan ternyata melahirkan ulama besar seperti Imam Sahnun yang menulis fatwa Imam Malik Lamuwadanah, Ibn Arofah, ahli takrif, Ibn Kholdunahli ilmu sosiologi Muhammad Thohir, Muhammad Mukhtar Assalami, ahli bidang keuangan.”
“Kalau bicara dunia islam, kita umat yang terbelakang, kita pernah mengalami suatu fase, tidak bergerak kemana-mana, kemudian setelah itu, masuklah namanya penjajajah, dengan perjuangan yang berkelanjutan, masuk ke fase kemerdekaan, namun sayangnya setelah merdeka, yang mengendalikan negara merdeka, mengendalikan proyek-proyek yang telah siap, serta budaya ekonomi dan sebagainya, tujuan-tjuannya nya jauh dari syariah,” tutur Mounir Talili.
“Sistem ekonomi yang sekarang banyak dikuasai oleh kapitalis, sosialis, bahkan di Amerika latin ada namanya sistem ekonomi (solidaritas), kemudian hadir sistem ekonomi islam”. Lalu beliau lanjut mengatakan mengatakan, “Situasi sekarang sangat sulit pada kenyataanya, karena dominasi sekarang dominasi kapitalis, di situ letak realitas yang dahadapi, dari kenyataan ini, bukan suatu yg bijak, klo hanya belajar teori ekonomi islam tanpa belajar teori-teori konvensional, karena kita tidak akan tahu sisi positif dan sisi negatifnya, Kitab turos kita banyak tapi kemampuan untuk problem kekinian masih dalam tanda tanya, karena pemikiran ulama klasik blum bisa menjawab tantangan modern.”
“Tentu anda sudah tahu, Tunis adalah negara kecil, lalu negara kecil itu jauh dari syariah, contoh, mahasiswi ke kampus tidak boleh memakai jilbab, akan tetapi setelah revolusi Tunis pada tahun 2010-2011, di sebut “revolusi barokah’, karena menghilangkan berhala-berhala , menghilangkan kediktatoran, ke zaliman, kemudian Tunis ingin menjalankan agama sebagai acuan, bukan ibadah aja, tapi muammalah. Dahulu Universitas Tunis tidak bisa berbicara tentang ekonomi islam, tapi setelah revolusi, ada suatu eksperiman yaitu mendirikan Islam, bank Tunisia, dan dalam pertubuhannya sangat menjanjikan, banyak berprestasi , akan tetapi masih dalam cangkupan 3% pertumbuhan dari total perperbankan yang ada, akan tetapi tidak menjadi suatu masalah, karena semua harus langkah demi langkah demi tujuan, mahasiswa sebagai aktor utama, Syarat ekonomi islam tentu bahasa arab, tetapi jangan menafikan bahasa inggris.”
“Kalau memperjuangkan ekonomi islam di tunis, bukan kita itu bukan pada jalan yang terhampar permadani, banyak tekanan dari luar dan dari dalam, untuk mengubah sistem harus lewat parlemen, sepertinya klo dilihat dari makosid, berjuang itu pada proses bukan hasil, berjuang harus dengan sabar.” Tutur Mantan Menteri Agama Tunisia.[Yuzaq Ardian dan AlHafidz]





















