Malang, Gontornews — Organisasi yang eksis adalah organisasi yang mampu menfasilitasi SDM untuk mengembangkan potensi dan kompetensinya secara berkelanjutan sebagai budaya organisasinya.
Pada konteks ini, lembaga pendidikan yang eksis adalah sekolah yang mampu menumbuhkembangkan budaya belajar terutama pada SDM guru sebagai aktor strategisnya.
Sebagaimana yang dilakukan kedua lokasi penelitian ini – YLPI SD Al Hikmah Surabaya dan SMP YIMI Gresik. Berdasarkan kondisi tersebut, Dr Isti’anah dalam disertasinya yang dipromotori oleh Prof Dr H Imam Bawani, MA dan co-promotor Prof Dr H Baharuddin, MPdI, menyebutkan bahwa penelitian ini memiliki tiga tujuan utama.
“Penelitian saya ini bertujuan untuk menganalisis dan menemukan budaya belajar guru, pengelolaan budaya belajar guru, dan implikasi pengelolaan budaya belajar guru dengan mutu lembaga,” terang Isti’anah.
Pertama, budaya belajar guru ditumbuhkembangkan melalui tiga fase. Satu, fase pra kedatangan menekankan pada kualitas komitmen – komitmen dakwah dan mampu menjadi murobby – sesuai dengan shared vision organisasi.
Dua, fase perjumpaan dioptimalkan dengan pengembangan potensi guru yang menekankan pada kemampuan untuk belajar bersama (team learning) dan mampu berpikir seperti yang diharapkan organisasi (system thinking) melalui up grading guru di hari sabtu.
Tiga, fase metamorfosis menjadikan SDM nya sebagai SDM yang dewasa dan penuh dengan semangat mengabdi, berdakwah, dan melayani sebagai personal mastery dan mental models.
“Selanjutnya yaitu tujuan kedua penelitian ini adalah pengelolaan budaya belajar guru sebagai upaya sinergis mulai proses rekrutmen sampai pemberdayaannya,” sambung alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Putri tahun 1996 itu. “Hal tersebut, tambahnya, bergantung pada empat aspek yaitu struktur, visi, strategi, dan budaya yang dijalankan.
Tentunya dengan berpijak pada kualitas dan pola interaksi yang didasarkan pada nilai-nilai dakwah. Pola interaksi yang kolegial dan didasarkan pada nilai-nilai religius seperti tercantum dalam al-Qur’an Surat Al Hujurat.
Interaksi kolegial- religius ini akan terbentuk dengan SDM yang dewasa yang didapat dari proses rekrutmen yang dewasa pula. Untuk itu pola semacam ini akan mampu diwujudkan oleh organisasi mana pun.
“Selama organisasi tersebut selalu berpegang teguh pada pola cita yang termaktub dalam visi misinya,” jawab wanita kelahiran Malang, 09 Juli 1977.
Ketiga, pengelolaan budaya belajar guru berimplikasi signifikan pada mutu lembaga pendidikan. Terutama pada aspek proses terkait kualitas proses pembelajarannya yang menjadikan semangat mengabdi dan berdakwah sebagai pijakannya, serta out put yang sesuai dengan harapan stake holdernya (dalam hal ini orang tua).
Berdasarkan paparan dan analisis data yang Isti’anah lakukan, maka dapat dikemukakan implikasi teoritis dan implikasi praktis penelitian ini. Doktor lulusan UIN (Universitas Islam Negeri) Maulana Malik Ibrahim Malang itu menyebutkan, “Implikasi teoritis pada penelitian ini didasarkan pada teori Senge dengan The Fifth Discplinenya.”
The Fifth Discpline tersebut yaitu, personal mastery (penguasaan pribadi), mental models (model mental), shared vision (visi bersama), team learning (belajar sebagai tim), juga system thinking (berpikir sistem).
Teori ini digunakan untuk mengidentifikasi keterampilan belajar yang notabene menjadi dasar terbentuknya budaya belajar. The Fifth Discplinenya Senge dimulai dari personal mastery.
Sementara sesuai dengan penelitian yang dilakukan, maka lembaga pendidikan Islam khususnya, hanya akan bisa dikembangkan jika shared valuenya telah dirumuskan dan dipegang teguh dalam proses yang berjalan di dalamnya.
Aspek manajemen yang kuat inilah yang secara otomatis akan menjadikan keterampilan belajar lainnya dapat dipertunjukkan oleh individu.
The Fifth Disclipinenya Senge pada dasarnya masih relevan pada konteks kekinian yang identik dengan perubahan dengan starting yang berbeda. “Sesuai dengan kondisi dan karakteristik lingkungan dimana organisasi itu ada,” ujar wanita berparas cantik itu.
Munculnya teori Senge dilatarbekbelakangi munculnya kesadaran bahwa manusia dan segala potensi yang dimilikinya adalah aset utama organisasi.
Hal ini berimplikasi pada berkembangnya pemikiran yang menjadikan manusia sebagai objek utamanya melalui proses belajar maju (dari belajar individual menuju tim dan berakhir di organisasi ).
Sehingga personal mastery dijadikan pijakan dalam mengembangkan organisasinya. Sedangkan untuk kondisi Indonesia, maka lebih didominasi dari belajar organisasi menuju tim dan berakhir di individu.
“Artinya, organisasi memegang peranan strategis dalam membantu anggotanya menuju kesadaran diri sebagai manusia pembelajar, tukas asesor BAP (Badan Akreditasi Provinsi) Jawa Timur Tingkat SMP/MTs, 2016-sekarang ini.
Untuk itu, diperlukan prosedur yang dilandasi nilai yang tersepakati (shared values) sebagai pijakan dalam pengelolaannya. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia masih mensimbolkan mutu sebagai produk bukan proses.
Demikian juga terkait pengelolaan budaya belajarnya yang harus mengutamakan shared meaning dan how to be nya sebagai starting nya. Hal ini sangat penting sebagai guide dan controlling bagi siapa pun yang berpartisipasi di dalamnya.
Adapun yang menjadi spirit, ruh, dan drivernya adalah relasi kolegial yang religius. Suatu hubungan yang didasari pada komitmen religius yang kuat. Namun demikian tahapan ini akan semakin sempurna dengan menambahkan how to apreciate sebagai penguatnya.
Hal ini seperti yang dikatakan Veitzal Rifai bahwa secara teknis, cara yang bisa digunakan dalam pengelolaan adanya dorongan yang berani mengambil bagian dalam proses pembaharuan yang dilakukan. Bentuk dari dorongan tersebut adalah, adanya tantangan, peluang, kesempatan untuk mengikuti pelatihan, dukungan, dan reward.
Selanjutnya implikasi praktisdari penelitian ini adalah kajian teoritis yang digunakan serta data yang didapatkan pada lokasi penelitian bermuara pada perlunya dikuatkan kearifan budaya belajar yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara dengan 3 N nya yaitu Niteni, Niroke, dan Nambahi .
Niteni secara harfiah berarti mencari kemana saja, mengkaji, mempertimbangkan, dan menetapkan hal apa saja yang relevan dengan kebutuhan kita.
Niroke, meniru yang relevan yang harus dilanjutkan pada tahap selanjutnya yaitu nambahi. Nambahi sendiri adalah memperkaya hal yang ditiru dengan komponen-komponen yang lain yang khas mencerminkan jati diri kita.
Pada dasarnya, kita diingatkan dengan kekayaan akan values dan implementasi yang telah dilakukan para begawan pendidikan kita. Kajian para tokoh pendidikan kita sederhana namun mendalam. Akan tetapi terbukti melahirkan output pendidikan yang tangguh.
Hal ini didasarkan pada kuatnya komitmen, kebersamaan, dan memandang bahwa segala sesuatu sebagai amanah. Proses rekrutmen menjadi pintu strategis yang harus segera dibenahi oleh lembaga pendidikan Islam.
“Dengan demikian lembaga pendidikan Islam sudah saatnya berani dan mampu memposisikan diri sebagai lembaga yang memegang kuat filosofi organisasinya,” pungkas Isti’anah. <Edithya Miranti>
Biodata Penulis
Nama : Dr Isti’anah Abubakar
Tempat Tanggal Lahir : Malang, 09 Juli 1977
Alumni : Gontor Putri 1 tahun 1996
Pendidikan :
- Sarjana Agama di STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri), Malang, tahun 2000.
- Magister Agama di Program Pascasarjana UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), Malang, tahun 2003.
- Doktor Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, tahun 2016.
Aktifitas : Sekretaris Prodi MPI S2, Program Pascasarjana UIN Malang, tahun 2016.
Organisasi :
- Penilai Buku Non Teks PAI Puskurbuk Jakarta, 2014 – sekarang.
- Asesor BAP Jatim Tingkat SMP/MTs, 2016-sekarang.
Karya :
- Menjadikan Ulul Albab sebagai Pijakan Menuju World Class University, UIN Press 2014.
- Pendidikan Karakter Dalam Sirah Nabawiyah, ICIC (International Conference of Islamic Civilication).





















