Aljazair, Gontornews — Ribuan warga Aljazair turun ke jalan menuntut agar Parlemen Aljazair tidak menunjuk Majleis Tinggi Aljazair, Abdelkader Bensalah, sebagai Presiden Aljazair menggantikan Abdelaziz Bouteflika.
Para pengunjuk rasa berdalih jika penunjukan Bensalah tidak lebih dari sekedar menjaga ‘muka-muka lama’ rezim Bouteflika dan dianggap menghambat transisi reformasi demokrasi yang lebih luas di Aljazair. Mereka berdalih bahwa Bensalah merupakan bagian dari supremasi rezim Aljazair yang mendominasi sejak merdeka dari Prancis pada tahun 1962.
“Penunjukkan Bensalah hanya akan memicu kemarahan serta membuat para pengunjuk rasa bertindak radikal,” kata seorang supir taksi Hassen Rahmine sebagaimana dilansir Reuters.
Di sisi lain, banyak pihak meyakini bahwa penunjukan Bensalah didasari oleh kekuatan militer Aljazair yang terlihat sebagai tokoh di balik layar panggung perpolitikan nasional di Aljazair.
“Saya berterima kasih atas kinerja tentara dan seluruh staf keamanan,” kata Bensalah saat memberikan pidato setelah didapuk menjadi Presiden sementara menggantikan Bouteflika.
Bensalah sendiri merupakan salah seorang tokoh terkemuka di awal tahun 1990-an dan akhirnya duduk sebagai Pimpinan Majelis Tinggi Aljazair sejak awal 2000-an.
“Secara keseluruhan, cara mengisi kekosongan Presiden di Republik ini tidak membawa negara kita lebih dekat untuk mengakhiri krisis,” kata pemimpin partai oposisi Talae El Houriyet, Ali Benflis.
Saat mengumumkan pengunduran dirinya, Presiden Bouteflika memastikan bahwa prosesi pelantikan presiden baru akan dilangsungkan paling lambat 90 hari mendatang. Bouteflika bahkan sempat berkata jika pemilihan presiden ini akan berlangsung secara demokratis dan mengantarkan Aljazair ke era baru demokrasi.
“Kita harus bekerja sama rakyat Aljazair untuk memilih Presiden baru sesegera mungkin,” pungkas Bensalah kepada parlemen. [Mohamad Deny Irawan]
























