Brasilia, Gontornews — Lembaga pemantau hutan independen yang berbasis di Amerika Serikat, Global Forest Watch (GFW), melaporkan bahwa deforestisasi yang terjadi di hutan hujan Brazil mencapai 13.471 Kilometer persegi pada tahun 2018 atau turun sekitar 37 persen dari laporan serupa pada tahun 2017 silam.
Jika dianalogikan, wilayah hutan hujan di Brazil yang hilang hampir seluas salah satu negara bagian di Amerika Serikat, Connecticut.
Meski demikian, penurunan yang terjadi secara signifikan ini terjadi setelah sebelumnya hutan hujan Brazil mengalami kebakaran hutan dalam skala besar sehingga meyebabkan kerugian materi yang besar bagai Brazil.
“Meskipun sebagian kerugian yang terjadi pada tahun 2018 sering dikaitkan dengan kebakaran, namun, penebangan yang terjadi secara masif di hutan hujan Amzon telah menempatkan risiko penuruhnan deforestiasi yang pernah dicapai oleh negara itu pada awal 2000-an,” kata peneliti yang tergabung dalam GFW sebagaimana dilansir Reuters.
Sebagaimana diketahui, Brazil merupakan rumah bagi 60 persen wilayah hutan hujan yang ada di seluruh dunia. Hutan hujan di Amazon dikethaui mampu menyerap karbon dikosida dalam jumlah besar dan dianggap memiliki peran vital dalam mengurangi dampak pemanasan global.
Brazil menyebut bahwa deforestiasi meningkat tajam dalam 12 bulan terakhir hingga bulan Juli 2018 hingga 13,7 persen atau 7.900 kilometer persegi. Peningkatan ini bahkan lebih buruk dari deforestisasi yang terjadi dalam satu dekade terakhir.
Sejumlah aktifis lingkungan hidup mengkhawatirkan komitmen Presiden Brazil, Jair Bolsonaro, dalam mengurangi dampak deforestisasi.
Bolsonaro mengatakan bahwa Pemerintah akan memberikan denda industri kepada setiap pelanggaran lingkungan di Brazil. Akan tetapi, Bolsonaro juga menciptakan sebuah badan penghimpun dana yang menghimpun dana dari para pelanggar aturan lingkungan hidup.
Tidak hanya itu, Ia juga berniat untuk memberikan perlindungan bagi para penambang-penambang lokal serta menjadikan sumber cadangan utama Amazon sebagai pendorong pembangunan ekonomi. [Mohamad Deny Irawan]






















