New York, Gontornews — Lembaga Dunia untuk penanggulangan HIV/AIDS (United Nations Programme on HIV and AIDS/UNAIDS) mengeluhkan minimnya dana investasi yang masuk demi menanggulangi penularan penyakit AIDS tersebut. Akibat minimnya dana investasi yang masuk, banyak masyarakat pinggiran kehilangan akses kesehatan dan, di sisi yang lain juga meningkatkan angka pasien baru AIDS.
UNAIDS juga melampirkan bahwa faktor-faktor penyebaran virus HIV/AIDS kebanyakan beasal dari mereka yang berprofesi sebagai pekerja seks, pengguna narkoba, komunitas Lesbian, Gay, Biseksual dan Transeksual (LGBT) dan pasangan seksual yang terdiagnosis virus HIV/AIDS.
Umumnya, mereka mendapatkan pelayanan kesehatan untuk mendapatkan layanan pencegahan infeksi yang layak. Namun, minimnya investasi yang masuk menghambat pemeriksaan kesehatan komunitas-komunitas masyarakat yang disebutkan sebelumnya.
Sementara itu, berdasarkan laporan yang dirilis oleh UNAIDS memaparkan bahwa peningkatan pasien HIV/AIDS di Asia Tengah dan Eropa Timur telah terjadi. Sementara itu, untuk regional Timur Tengah, Afrika Timur dan Amerika Latin peningkatan pasien HIV/AIDS mencapai 29 persen.
“Mengakhiri ADIS adalah mungkin jika kita fokus pada orang dan bukan pada penyakit,” ungkap Direktur Eksekutif UNAIDS, Gunilla Carlsson, sebagaimana dilansir Reuters.
UNAIDS melaporkan bahwa kebutuhan invesasi yang masuk pada tahun 2018 mencapai hampir 1 Miliar Dollar AS. Sedangkan 19 Miliar Dolar AS tersedia untuk respon AIDS tahun ajaran 2018. Seharusnya, UNAIDS menerima sekitara 26,2 Miliar Dollar AS pada tahun 2020 mendatang.
Secara global, virus HIV/AIDS berktoribusi terhadap 770.000 korban meninggal dunia sedangkan hampir dari 38 juta orang terinfeksi virus mematikan tersebut. [Mohamad Deny Irawan]






















