Jakarta, Gontornews — Berbicara soal pemurtadan di Indonesia, sejatinya telah terjadi sejak lama. Sebut saja sejak zaman penjajahan kolonial Belanda. Belanda telah menduduki Indonesia selama tiga abad lamanya. Selama itu pula Belanda melayangkan visi dan misinya. Baik untuk menguasai rempah-rempah juga melakukan agresi kristenisasi di Bumi Pertiwi.
Setelah berkuasa yakni selama ratusan tahun, Belanda terus memfasilitasi umat Nasrani dan penduduk pribumi yang ingin mengikuti kepercayaannya. Salah satunya terkait fasilitas pendidikan. Selain itu, Belanda juga sangat selektif memerangi dakwah ‘ekstrim’ Islam yang dapat mengancam kepentingannya. Kala itu, posisi Islam sangat tidak baik. Bahkan menjadi agama yang sangat tertekan.
“Jika dipetakan, pemetaan antara umat Islam saat disandingkan dengan Kristiani, Hindu, ataupun Budha. Maka terlihat, umat Islam paling banyak mengalami benturan yakni saat bersandingan dengan Kristen,” ujar Dr Achmad Zainuri, penulis disertasi berjudul ‘Konflik Gereja Yasmin Memerlukan Mediator’ di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI).
Menghadapi beragam benturan dari penjajah yang notabene non Muslim, masyarakat akhirnya menunjukkan sikap Islam tradisional. Sikap ini adalah sikap anti budaya Barat. “Wujudnya dengan selalu berpenampilan dan berperilaku local, tanpa ada sisipan budaya luar sama sekali,” lanjutnya, kepada Gontornews.com di bilangan Cilandak.
Sebut saja, jika warga Belanda berbusana ala Barat, maka mereka tetap menggunakan kebaya atau blangkon sebagai ciri khas rakyat pribumi. Saat pelajaran di sekolah menggunakan bangku, maka mereka cukup duduk di atas tanah (lesehan). Begitupun sikap mereka terhadap kebijakan pemerintah lainnya.
Bentuk ketidakadilan yang ditunjukan pemerintah Belanda kepada Muslimin tanah air yang paling terlihat jelas adalah dalam dunia pendidikan. Lagi-lagi kesulitan demi kesulitan terus diberikan Belanda dan dibenturkan pada kondisi finansial warga yang sangat rendah.
Pada zaman itu, pelajar yang bernamakan Islami dilarang untuk bisa studi ke luar negeri. Guru-guru Islam juga tidak berkesempatan untuk sekolah tinggi. Menyiasati hal tersebut, mereka akhirnya banyak yang mengganti nama mereka agar tertutup identitas Islamnya.
Sayangnya, saat pelajar Muslim tadi memutuskan mengganti namanya, sebagian dari mereka ada yang justru terpengaruh budaya Nasrani dan menjadi bagian dari mereka. Hal inilah yang sangat disesalkan banyak orang. Namun, tidak semuanya begitu. Masih banyak juga pelajar yang tetap berpegang teguh pada panji-panji Islam. Meskipun harus tinggal di negeri Nasrani dengan kebudayaan mereka yang tergolong sangat bebas.
Pada masa penjajahan Jepang, demi kepentingannya di kancah internasional, Jepang menyatukan organisasi masyarakat Islam di Indonesia. Saat itulah, pertama kalinya ormas Islam bersatu di Indonesia. Meski akhirnya, satu-persatu dari ormas tersebut melepaskan diri. Hingga akhirnya berpecahlah seperti sedia kala.
Sejatinya hal tersebut sah-sah saja. Karena yang terpenting dari semua itu adalah kemajemukan visi dan misi tiap ormas Islam tetap bertujuan memajukan satu sama lain. Bukan sebaliknya.
Kembali kepada gerakan kristenisasi di Indonesia. Di desa-desa kecil khususnya, kristenisasi kembali menelusup lewat jalur budaya. Dalam beberapa acara peribadatan mereka menggunakan kostum budaya setempat, termasuk dalam berkhutbah.
Taktik lainnya disebarkan melalui proses pernikahan. Dimana diawali dengan merajut tali asmara sepasang kekasih beda agama. Lalu memurtadkannya dikala sudah terlanjur cinta.
Ada yang prosesnya terjadi dengan menghamili Muslimah terlebih dulu agar mau menikah dengan kekasihnya. Atau bersyahadat sebelum menikah setelah itu murtad kembali setelahnya. Beberapa hal mengecohkan tersebut banyak berhasil memurtadkan umat Islam di Indonesia.
Sebut saja kasus yang disebutkan Hidayatullah.com tentang pemurtadan berkedok pernikahan di Cirebon, Jawa Barat. Nurmala (33), Muslimah asal Desa Situ Wetan Plered, Cirebon dipaksa murtad oleh suaminya Stevanus yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebelumnya, ia sempat dipacari dan dihamili, hingga akhirnya mereka berdua terpaksa dinikahkan.
Sekarang ini misi permutadan sudah dilakukan secara terbuka terhadap Muslimin di Indonesia. “Kelompok Kristen ini akan menghalalkan segala cara agar tujuan kristenisasi terhadap umat Muslim tercapai,” ungkap Ustadz Bernard Abd Jabar, seorang mantan pendeta.
Kaum Kristen ini memiliki target jangka panjang dimulai tahun 1970 sampai dengan 2020. Tahun 2020 itu adalah tahun penggenapan. Sedangkan “sales” mereka menyebar ke seluruh penjuru Indonesia, lanjutnya, dalam diskusi bertemakan, “Pemurtadan Makin Marak Video Membuktikan” di Masjid Abu Bakar Shiddiq, Jalan Otista, Jakarta Timur.
Ustad yang pernah menjadi pendeta ini menambahkan, Indonesia yang disebut dalam kitab injil sebagai negara Nebuyat menjadi target utama misi kristenisasi dan pemurtadan. Misi ini dilakukan dengan memanfaatkan kelemahan kaum Muslim yang masih dililit kebodohan dan kemiskinan.
“Kristenisasi dan pemurtadan akan tetap ada sampai kiamat, dan itu sudah ada dalam Al Qur’an,” tegas Abd Jabar. Ia menambahkan, umat Kristen ini akan terus berusaha memerangi umat Islam. Mereka juga tak akan berhenti sampai umat Islam mengikuti agama mereka. “Ini kan jelas terdapat di dalam al-Qur’an,” tambah Abd Jabar lagi. <Edithya Miranti>





















