Oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana
Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor
Alumnus Program Magister Vrije Universiteit Amsterdam Belanda
Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J. Habibie) telah menyempurnakan tugasnya secara paripurna di dunia Rabu (11/9). Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 83 tahun. Wafatnya beliau tidak hanya menjadi luka yang terdalam bagi seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia tetapi juga dunia internasional.
Warta Singapura straitstimes.com, misalnya, menulis informasi wafatnya mantan Presiden ketiga Republik Indonesia itu dengan judul: “Former Indonesian President habibie who described Singapore as a ‘little red dot’, dies aged 83”. Sementara dari Australia, portal smh.com.au memberikan reportase berjudul: ” Former Indonesian President B.J. Habibie diest at 83.” Berita serupa juga dapat kita lacak di Warta Berita Inggris maupun Amerika Serikat.

Akan tetapi, di balik itu semua, ada sebuah fakta menarik saat BJ Habibie melanjutkan studinya di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen, Jerman. Kala itu, Habibie terpaksa untuk berdoa di Katedral karena ketiadaan Masjid. Kisah itu didokumentasikan di Film Habibie Ainun 2: Rudy Habibie. Tidak hanya itu, dalam sebuah wawancara, Eyang Habibie, sapaan akrab keluarganya, juga melaksanakan shalat di tempat ibadah kaum nasrani tersebut.
Karena alasan itu pula, alangkah baiknya jika masyarakat juga mengenang keberadaan Katedral yang bersejarah dan menjadi saksi bisu perjuangan Almarhum Bapak Teknokrat Indonesia ini kala itu.
Katedral ini dikenal dengan nama Palatine Chapel. Kubahnya berbentuk Oktagonal (segi delapan) khas Romawi. Dibangun antara tahun 790-800 di bawah pemerintahan Emperor Charlemagne. Konstruksinya terinspirasi dari Gereja Kerajaan Roman yang mendominasi dinasti Kristen Orthodoks Timur yang lahir di Abad Pertengahan.
Katedral Aachen merupakan simbol penyatuan Barat dengan dan kebangkitan politis dan spiritual di bawah naungan Charlemagne. Charlemagne sendiri meninggal pada tahun 814 dan dimakamkan di komplek Katedral. Pada tahun 881, Katedral ini sempat mengalami kerusakan akibat serangan pasukan Viking pada tahun 881, sebelum akhirnya diperbaiki pada tahun 983.
Frederick Barbarossa (1165) mengangkat Charlemagne sebagai seorang Suci (Santo). Dengan dimakamkannya St. Charlemagne di Katedral Aachen, sejumlah besar umat Katolik pun berangkat ke tempat ini untuk beribadah dan mengingat kematiannya. Dalam rangka itu pula, Aula paduan suara dibangun pada 1355 dan Kapel Kaca dibangun sebagai peringatan 600 tahun kematian Charlemagne. Sejumlah perbaharuan gedung terus terlaksana hingga 1881.
Selama perang dunia Kedua, kita Aachen, termasuk Katedral ini mengalami kerusakan parah akibat serangan bom dan artileri Sekutu. Meskipun, sebagian besar struktur dasar katedral selamat. Rekonstruksi dan pengembalian Gereja ini menghabiskan dana 40 juta Euros hingga akhirnya menjadi salah satu tempat wisata yang paling sering menarik para Turis yang berkunjung ke Aachen.
Semoga Almarhum Eyang Habibie diampuni segala dosanya, dilipatgandakan amal ibadahnya, dimasukkan kedalam surga-Nya Allah azza wa Jalla. Aamiin Alhummastajib.
*Tulisan ini telah diterbitkan di laman http://saa.unida.gontor.ac.id/katedral-aachen-saksi-bisu-perjuangan-b-j-habibie/#.XXnRlPAzbIV






















