Jakarta, Gontornews — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, gempa yang mengguncang Maluku Utara (Malut) diakibatkan oleh adanya penyeseran yang terjadi dalam lempeng laut.
Kepala Pusat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati menjelaskan dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi itu merupakan jenis gempa bumi dangkal.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (Thrust Fault),” jelasnya.
Ia juga menyebutkan, berdasarkan monitoring muka air laut melalui alat monitor, adanya gejala perubahan air laut di tiga titik yaitu di Ternate sekitar 6 centimeter, Pantai Jailolo sekitar 9 centimeter, dan Pantai Bitung sekitar 10 centimeter.
Namun demikian, setelah dipantau selama dua jam sejak pukul 01.45 WIB, gejala atau kenaikan mjka air laut tidak lagi terjadi, ” Maka peringatan dini tsunami dinyatakan telah berakhir,” jelasnya.
Hingga pagi ini, BMKG mencatat telah terjadi lebih dari 28 gempa susulan setelah gempa dengan magnitudo 7,1 mengguncang perairan Malut.
Dikutip dari website resmi BMKG, bahwa gempa terakhir terjadi pada pukul 15.15 WIB dan terjadi di Halmahera Barat namun tidak berpotensi tsunami.
Info Gempa Mag:5.2, 15-Nov-19 05:15:10 WIB, Lok:1.75 LU, 126.51 BT (128 km BaratLaut HALMAHERABARAT-MALUT), Kedlmn:10 Km #BMKG.[Devi Lusianawati/berbagai sumber]






















