Jakarta, Gontornews — Lebih dari setengah abad sudah Mantan Menteri Pendidikan Prof Dr Ir KH Mohammad Nuh, DEA ini melewati hidup. Terlahir dari keluarga biasa di Kampung Gununganyar, Surabaya, putera dari pasangan H. Muchammad Nabhani dan Hj. Suadah ini selalu diselimuti keberuntungan.
Pendidikan dan karir hebat dicapainya dengan mudah. Adalah Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), rektor ITS, hingga Menteri Komunikasi dan Informasi serta Mendikbud merupakan jabatan-jabatan yang pernah diembannya.
Hal itupun diakui oleh Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, KH Shalahuddin Wahid yang mengenalnya sejak pertengahan 90-an. Singkat cerita, M. Nuh berkunjung ke Tebuireng pada tahun 2007. Dua minggu setelahnya pria kelahiran Surabaya 17 Juni 1959 ini diangkat jadi Menkominfo di era SBY. “Pak Nuh tidak berusaha dan tidak melamar jadi menteri. Tapi, Pak SBY mempunyai radar yang kuat bahwa ada orang pintar di Jatim. Yaitu, Pak Nuh,ββ ungkap Gus Sholah.
Adalah M. Nuh, mengawali karirnya sebagai dosen di Teknik Elektro ITS pada 1984. Kemudian mendapatkan beasiswa S2 di Universite Science et Technique du Languedoc, Montpellier, Prancis. S3-nya juga diselesaikan di kampus yang sama. M Nuh diangkat jadi Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS pada tahun 1997 dan Rektor ITS tahun 2003. Sebagai rektor, kala itu M Nuh merupakan rektor termuda ITS sepanjang sejarah di usia 42 tahun.
Demikian sederet prestasi yang dicapai oleh M Nuh kala usianya masih muda. Meski demikian, orang nomor satu di Badan Wakaf Indonesia dan Dewan Pers Indonesia ini khawatir jika karirnya hanya lancar di dunia, tidak di akhirat. “Sudah 60 tahun saya melewati hidup. Modal yang dititipkan Allah SWT kepada saya luar biasa. Tidak terhingga. Namun, untung yang diperoleh kecil,β kata Nuh di Tasyakuran Usia 60 Tahun Mohammad Nuh dan Peluncuran Tiga Buku di Ballroom Novotel Samator.
Demikian sederet alasan mengapa suami dari drg. Layly Rahmawati bertekad menebus sisa umurnya dengan kebaikan-kebaikan. “Usia 60 tahun mau apa lagi, paling bagus melakukan kontemplasi devisit kebaikan. Sisa umur harus diperbanyak lagi dengan berbuat kebaikan yang gennya besar dan langgeng,” katanya.
Jabatannya sebagai pemimpin Dewan Pers Indonesia dan Badan Wakaf Indonesia ini pun dimaknainya sebagai bagian dari kegiatan yang memiliki nilai-nilai dampak sosial untuk masyarakat. “Di Dewan Pers Indonesia, saya ingin supaya pemberitaan-pemberitaan di Indonesia muaranya positif. Ini amal kebajikan semua,” kata Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya.
Aktif sebagai Ketua Badan Wakaf Indonesia 2017β2020, Nuh juga mempraktekan wakaf sebagai gaya hidupnya. Salah satunya melalui wakaf buku yang diluncurkan saat peringatan ulang tahunnya yang ke 60 pada Minggu (23/6/2019) lalu. “Hasil buku ini kita wakafkan,” ungkapnya.
Yakni Usfuryah Zaman Kita, Menjangkau Yang Tidak Terjangkau dan yang ketiga adalah biografi, yakni Menguatkan Mata Rantai Terlemah. “Biografi ini ditulis tidak ada sangkut pautnya dengan tradisi untuk dapat duduk di kursi kabinet lho. Saya merasa defisit kebaikan atas apa yang sudah saya capai selama ini. Semoga dengan hadirnya buku ini bisa membawa dampak kebaikan bagi masyarakat,” harapnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien]



















