Jakarta, Gontornews — Principal Recipient Tuberkulosis (PR TB) ‘Aisyiyah mendorong pemerintah dan badan amil zakat untuk memberdayakan ekonomi pasien tuberkolosis yang berlatarbelakang ekonomi menengah ke bawah.
Hal tersebut diperlukan karena selain proses pengobatan yang panjang berbulan-bulan, berat, melelahkan dan secara psikis membuat jenuh, ada faktor kemampuan ekonomi pasien. Demikian disampaikan psikolog sekaligus ASPR Tuberkolosis ‘Aisyiyah Rohimi Zamzam, di Kantor PR TB, ‘Aisyiyah pada Kamis (15/11).
Dikutip situs resmi Muhammadiyah, Rohimi menuturkan, angka penderita TBC di Indonesia berada di posisi tertinggi ke 2. Oleh sebab itu butuh peran dan sinergi yang baik oleh Pemerintah dan lembaga filantropi seperti Baznas, Lazismu, Lazisnu dan lembaga zakat lainnya untuk membangun ekonomi pasien dan mantan pasien TBC agar mampu menghidupi keluarganya sehingga proses pengobatannya tidak terganggu.
Menurutnya, pasien Tuberkulosis (TBC) umumnya membutuhkan waktu pengobatan hingga enam bulan hingga membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk pengobatan TBC yang lebih parah. Meski begitu selama proses pengobatan diharapkan tidak ada rangkaian yang terputus, karena jika terputus pengobatan akan dimulai dari awal dan mengakibatkan penyakit TBC makin parah.
Jika pasien dari kalangan orang mampu permasalahan ekonomi tentu tidak begitu menghambat proses pengobatan. “Persoalannya jika dari kalangan pasien yang ekonominya sulit di mana untuk kebutuhan sehari hari saja harus bekerja, tentu ini bisa mengganggu proses pengobatannya,” ungkap Rohimi.
Sebelumnya pada Selasa (13/11) Principle Recipient TB-HIV ‘Aisyiyah Global Fund ATM menggelar diskusi terkait tema yang sama di Hotel Lumire, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut ‘Aisyiyah berhasil menggalang komitmen kerjasama penanggulangan TBC di Indonesia bersama dengan enam lembaga yaitu Bank Mandiri, Wardah, Baznas, Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Lazismu dan Sinar Mas. [Muhammad Khaerul Muttaqien]

















