Almaty, Gontornews — Seorang aktivis hak asasi manusia asal Kazakhstan, Serkzhan Bilash, yang menentang penahanan etnis Uighur dan komunitas muslim lainnya di Xinjiang dibebaskan oleh Pengadilan Cina, Sabtu (17/8).
Serkzhan Bilash sendiri memimpin Atajurt, sebuah kelompok yang telah bekerja untuk membebaskan warga Kazahkstan, etnis Uighur dan komunitas muslim lainnya dari kamp-kamp reedukasi di Xinjiang
Bilash yang merupakan warga negara Kazakhstan ditangkap oleh otoritas kemanan Xinjiang setelah mengumandangkan seruan “jihad terhadap Cina” pada bulan Maret 2019 yang lalu.
Dalam persidangan yang berlangsung Jum’at (16/8) waktu setempat. Jaksa bersama pengacaranya Bilash, Aiman Umarova, telah sepakat untuk membebaskan Bilash dari segala dakwaan. Hanya saja, Bilash tetap mendapatkan denda sebesar 110.000 tenge atau sekitar 4 Juta Rupiah dan larangan untuk keluar meninggalkan kota Almaty, kota di Kazakhstan, untuk beberapa bulan ke depan.
Umarova menjelaskan bahwa, Bilash menentang kesepakatan tersebut dan menolak untuk menandatanganinya. Jika ia tidak menyetujui kesepakatan tersebut, dapat dipastikan jika Bilash akan mendekam di balik jeruji selama 7 tahun akibat perbuatannya.
“Dia mengatakan bahwa ia melakukan (kesepakatan) demi kedua anaknya dan karena alasan kesehatan,” kata Umarova sebagaimana dilansir Reuters.
“Kami (Kazakhstan) membungkuk ke belakang kepada Cina,” tambah Umarova.
Sebagai informasi, Xinjiang merupakan wilayah terbarat Cina yang berbatasan langsung dengan Kazakhstan. Kazakhstan memiliki hubungan dagang yang erat dengan Cina. [Mohamad Deny Irawan]
























