Gontornews–Masjid Agung Al Baitul Qadim dibangun oleh Sya’ban bin Sanga pada tahun 1806 bersama Sultan Badarruddin dan rakyatnya dan juga bantuan dari penduduk setempat yang beretnis Timor. Inilah awal mula Islam berkembang di Pulau Timor.
Masjid ini sebagai tempat ibadah dan pusat keagamaan bagi masyarakat Kesultanan Mananga yang baru dipindahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dari Pulau Solor ke Pulau Timor. Yang kemudian tersebarlah dakwah Islamiyah di Pulau Timor melalui tangan putra-putra Mananga.
Pembangunan Masjid Agung Al Baitul Qadim ini berlangsung 6 tahun lamanya yaitu dimulai pada tahun 1806 dan selesai tahun 1812. Sya’ban bin Sanga merupakan Imam yang pertama bagi kaum Muslimin di Pulau Timor.
Sya’ban datang bersama rombongan Kesultanan Mananga di bawah Pimpinan Sultan Badarrudin yang dipindahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dari negeri asalnya yaitu Desa Menanga, Pulau Solor, NTT.Dan inilah awal masuknya Islam ke Pulau Timor.
Sebagai Imam saat itu, Sya’ban memiliki wewenang untuk mengatur segala hal yang menyangkut urusan keagamaan. Kemudian pembagian ini dikenal oleh masyarakat Airmata dengan sebutan “Kampung Imam” yang bermakna wilayah kebijakkan Imam.
Adapun Sultan Badaruddin mengatur masalah kepemimpinan secara menyeluruh dengan tetap memperhatikan pertimbangan Sya’ban sebagai Imam Kesultanan. Dan wilayah kebijakkan dan kekuasaan Sultan Badaruddin ini dikenal dengan istilah “Kampung Raja”.
Dalam menjaga kelanggengan hubungan baik antara “Kampung Imam dan Kampung Raja” ini ditetapkanlah sebuah etika oleh Sultan Badarruddin dan Sya’ban yang hingga kini pun masih bisa dilihat pada pelaksanaan ritual-ritual keagamaan di dua Kampung Islam tertua di pulau Timor yaitu Kampung Solor dan Airmata.
Sya’ban memiliki 3 putra yang dikemudian diwakafkan untuk melakukan pengurusan Masjid Agung Al Baitul Qadim hingga anak cucu keturunan mereka dan mereka adalah: Birando anak tertua diwakafkan untuk menjadi Imam Masjid, Abdullah anak kedua diwakafkan untuk menjadi Khatib Masjid dan Bofeiq anak terakhir diwakafkan untuk menjadi Bilal Masjid. Dan pewakafan ini masih tetap dijunjung tinggi oleh anak keturunan mereka.
Pada tahun 1984, Imam Masjid turunan ketujuh, Birando bin Tahir, melakukan pemugaran Masjid Agung Al Baitul Qadim atas persetujuan jamaah setempat, dengan sejumlah alasan diantaranya bertambah pesatnya perkembangan jumlah warga Muslim.
Pemugaran itu juga didasarkan pada kondisi rumah ibadah tertua ini tidak layak lagi dipandang, karena sebagian dinding dan atap mengalami perapuhan, sehingga perlu direnovasi, tanpa menghilangkan keasliannya yang tetap tampak pada sebagian dinding ruangan yang hingga kini masih ada.
Masjid Agung Al Baitul Qadim ini merupakan simbol pemersatu warga Muslim dengan non-muslim karena dalam pembangunan Masjid ini pun mendapat bantuan dari masyarakat etnis asli setempat di bawah perintah Raja Taebenu Raja Timor Barat Timor Loro Manu ketika itu.
Sehingga masyarakat Tabenu merasa turut serta memiliki tanggungjawab untuk menjaga keberadaan Masjid Agung Al Baitul Qadim. Hal ini terwujud dengan sikap penjagaan yang mereka tunjukkan dan wujudkan dalam pergaulan mereka sehari-hari.
Ikatan Persatuan ini diperkuat dan diperluas dengan adanya hubungan perkawinan dengan berbagai suku setempat membuat Masjid Agung Al Baitul Qadim semakin jelas menjadi sebuah simbol Pemersatu yang mengikat hati-hati setiap warga Timor.
Sehingga dengan keadaan ini masyarakat “Kampung Imam dan Kampung Raja” dapat dengan aman menjalankan beraneka ragam bentuk ritual keagamaan dengan tenang dan tidak mendapatkan gangguan.
Masjid Agung Al Baitul Qadim ini menjadi tempat kunjungan umat Islam kalau ke NTT, hal ini karena ingin mengetahui keberadaan masjid yang tergolong tertua di wilayah Pulau Timor ini sembari melakukan perjalanan wisata rohani di Kota Kupang.
Masjid dengan arsitektur khas yang menggabungkan unsur budaya Flores Timur dengan Arab itu merupakan simbol perlawanan warga Airmata terhadap penjajahan Portugis, Belanda dan Jepang.
Masjid Agung Al Baitul Qadim yang unik, kini telah menurunkan tujuh Imam Kepala Pendahulu diantaranya Sya’ban bin Sanga, Birando bin Sya’ban, Alidin bin Birando bin Sya’ban, Ali bin Birando bin Sya’ban, Tahir bin Ali bin Birando bin Sya’ban dan Birando bin Tahir bin Ali bin Birando bin Sya’ban. [fathur]






















