Gontornews–Mahir teori ekonomi tak menjamin seseorang bisa mulus dalam menjalankan usaha bisnis. Karena pengalaman di lapangan, kerap kali memberikan pelajaran yang berharga, yang terkadang tidak ditemukan di dunia pendidikan.
Dr. H. M. Arief Mufraini, M.Si bersama beberapa rekannya mulai menjajal usaha di bidang event organizer bernama PT. Citra Mandiri Kreatif (CMK). Sembari menjadi dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Arief menyelami dunia usaha ini.
Sejak didirkan tahun 2010, CMK fokus pada layanan jasa yang bergerak di bidang event organizer, exhibition, multimedia production dan advertising. “Alhamdulillah projek pertama kami adalah pembuatan token listrik PLN, berjala lancar,” ungkap pria kelahiran Jakarta 22 Januari 1977 ini.
Lelaki yang biasa dipanggil Arief ini mulai merasakan betapa menggiurkan hasil dari proyek yang ia garap bersama tim. “Proyek kedua lancar, proyek ketiga lancar, nah proyek keempat mulai ada kendala,” ujarnya.
Saat itu, CMK mendapatkan proyek yang lebih besar dalam even Pekan Olah Raga BUMN di Jakarta. Arief mengisahkan bahwa pengalaman di proyek keempat ini menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dan tim untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan.
“Alhamdulillah, dalam proyek keempat ini, kami mengalami kerugian hampir 1 milyar,” kisah ayah dari Metswaya Zeta Arveliani dan Eqlafaries Arvelio Yunus dari hasil pernikahan dengan Lia Marliana ini.
Arief mengakui bahwa saat itu modal untuk menyelenggarakan proyek ini cukup besar yaitu 900 juta. Uang sebesar itu, ia dapatkan dari hutang sana sini hingga akhirnya terkumpul sejumlah modal itu. “Saya belajar satu hal, kalau anak kecil biasa pegang duit 1000 lalu di kasi 100 ribu, maka akan berantakan,” paparnya.
Arief yang saat itu juga sedang mengejar gelar doktor ekonomi, merasa terpukul karena atas keteledoran dalam memanage keuangan menjadikan akhir dari proyek besar itu justru malah menumpuk hutang tanpa disadarinya.
“Catatan tidak pernah dipikir, perencanaan keuangan tidak pernah terpikir, model bang jago. Kotrol keuangan terlupakan, hingga akhirnya kami sadar ternyata hasilnya merugi. Padahal saat itu saya ambil S3 ekonomi,” tuturnya.
Akhirnya tim yang Arief bangun sempat pecah. Beberapa orang tak lagi bergabung. namun ada beberapa orang yang masih setia membesarkan CMK. Tahun 2011, CMK bangun kembali meski sempat berhenti beberapa bulan.
Dengan tekad yang kuat untuk bangkit, Arief mengevaluasi secara menyeluruh atas apa yang menimpa di tahun 2010. Ia meyakini, ketidakdisiplinan dalam mengelola keuangan akan berakibat fatal dalam sebuah bisnis.
“Masih banyak menggabungkan antara bisnis dan plesir. Yang diolah bukan kedisplinan atau kontrol uang. Tapi kemewahan sehinga tidak terpirkir membangun trust kepada investor, bank. Punya duit sedikti banyak gaya,” ungkapnya.
Tahun 2011, CMK lahir kembali meski dengan beban yang cukup berat karena harus menutupi hutang yang menggunung. Manajemen dibenahi, layanan ditingkatkan dan amal sedekah ditingkatkan. “Inilah yang menjadi titik awal kami mulai merasakan ada nilai dalam menjalankan bisnis ini,” ujarnya.
“Pelan-pelan kami komitmen menutup utang. Kita punya duit harus prioritaskan bayar utang dulu, lalu kasi duit ke orang lain, ke fakir, miskin, yatim, janda dan lain lain,” paparnya.
Setelah selama tiga tahun berjalan, akhirnya hutang yang menggunung berhasil dilunasi, bahkan nilai manfaat untuk dhuafa juga semakin meningkat. Tahun ketujuh, CMK mulai tumbuh dan berkembang. ”Hingga sekarang kita sudah tidak pernah utang ke pihak lain. Sistemnya kami buat kerjasama, bagi hasil,” tuturnya.
Arief dan tim merasa bahwa keberhasilan dalam menutupi utang itu berkat doa-doa kaum yang membutuhkan. Sejak bangkit lagi, CMK selalu menyisihkan minimal 2.5 persen untuk zakat perusahaan. “Kami juga keluarkan di luar kegiatan zakat yang sifatnya insidentil, seperti pembangunan masjid, bantuan lainnya,” ujarnya.
Setiap bulannya, CMK group telah mengalokasikan dana ZIS sebesar 20 juta per bulan. Dana ini untuk para janda, anak yatim, ustadz di pesantren. “Alhamdulillah meski dalam kondisi covid pun kami masih bertahan dan tidak pernah merasa kekuranagn. Begitu juga karyawan mendapatkan haknya seperti sebelum covid,” ujarnya.
Saat ini karyawan yang mendapatkan manfaat dari CMK group ada 30 orang. Mereka tersebar di lima anak perusahaan. “Tidak besar-besar, alhamdulillah bisa berjalan semuanya terhimpun dalam CMK holding,” jelasnya.
Berikut adalah perusahaan yang berada di bawah CMK, Citra Mandiri Kreatif (Eastpro) bergerak di event organizer, Cipta Optima Multi Ekspresi (Come) bergerak di bidang workshop even, exhibition dan kontruksi, Sae Sejahtera Sentosa (Saeland) bergerak di bidang developer perumahan, Digital Citra Multi Indonesia (Arah Mata) bergerak dibidang bisnis digital dan Citra Mandiri Optima Selaras (goodvibe) bergerak dibidang ritel.
Melalui anak perusahaan Arah Mata, ia menggulirkan program bernama BEST (Bincang Ekonomi Syariah Terkini), yaitu platform sosial media yang mengembangkan bahasan ekonomi syariah. Di dalamnya ada program bincang, TED talk, podcast dan lain sebagainya.
Sementara Saeland, saat ini sedang menggarap seratus perumahan bersubsidi di atas lahan satu hektar di Sumedang. “Alhamdulillah dari 100 rumah yang sedang dibangun, sebanyak 54 rumah telah terjual. Proyek perumahan ini juga dikelola dengan sistem kerjasama dan tidak melalui utang,” paparnya.
“Kami mengupayakan mengelola usaha atau bisnis dalam format perusahaan, bisnis bisa berubah-ubah tapi perusahaan diharapkan terus sampai turun menurun. Cita-cita SMK bisa punya perusahaan dengan manajemen yang hidup berkelanjutan,” tuturnya.
Dalam penutupnya, Arief mengatakan agar lebih berhati-hati dengan utang. “Kita harus hati-hati terhadap utang, dahulukan menyelesaikannya. Hindari utang dengan cara berbagi ke yang lain,” tuturnya.
Secara matematika dan teori, menyelesaikan utang dengan cara berbagi memang belum bisa dibuktikan, karena teori itu berbalik dengan sistem kapitalis. “Dapat duit tutup utang, lalu bagi ke orang lain. Utangnya tertutup tambahkan berbaginya ke orang lain,” tutup Arief.
Arief bersama timnya merasakan, apa yang telah dilakukan selama ini dengan cara berbagi ke pihak yang membutuhkan, bisnis yang ia jalani mengalami pertumbuhan yang baik.
Sosok Akademis bidang Ekonomi
Dr. H. M. Arief Mufraini, M.Si lulus Tsanawiyah Pesantren Darunnajah Jakarta tahun 1992. Ia termasuk remaja yang cerdas, tak heran jika Arief menjadi juara umum ketiga saat kelulusan di tsanawiyah.
Usai mondok di Darunnajah, ia pun diterima menjadi siswa di MAPK MAN Yogjakarta. Saat di MAPK, ia pernah mengikuti lomba cerdas cermat tiga bahasa yang digelar oleh RCTI. Di antara lawan yang ikut final adalah dari Pesantren Gontor, Pesantren Al-Amien dan MAPK MAN Yogjakarta.
Berkat prestasinya itu, ia mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar. Saat itu pilihannya antara Amerika dan Mesir. Namun KH. Syukri Zarkasyi mengarahkan Arief ambil ke Mesir. “Saya mengikuti arahan Kiai Syukri ambil ke Mesir,” ungkapnya.
Tahun 1995 hingga 2000, Arief ambil Double Degree Hukum & Syariah Jurusan Syariah Wa Al-Qanun (Islamic Jurisprudence and Law) kajian Hukum Ekonomi di Universitas Al Azhar-Cairo Mesir.
“Selama di Mesir, tahun pertama mendapat beasiswa dari perlombaan. Tahun berikutnya mendapatkan beasiswa dari ICMI hingga akhir kuliah,” ungkap lelaki yang pernah menjadi Panelis Bidang Ekonomi Debat ke V Capres dan Cawapres KPU.
Setelah menamatkan dua gelar di Mesir, Arief pun pulang ke Jakarta dan melanjutkan pascasarjana di Program Pascasarjana Kajian Timur-Tengah Kekhususan Ekonomi dan Keuangan Syariah Universitas Indonesia (UI) Jakarta.
Arief menyelesaikan pascasarjana selama dua tahun, lalu ia melamar menjadi dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. “Pertama kali tidak berhasil, tes kedua lulus menjadi dosen di UIN Jakarta,” ujar Direktur Center For Theorizing on Islamic Economics and Finance UIN Jakarta ini.
Sembari menjadi dosen, tahun 2008 Arief melanjutkan kuliah tingkat doktoral di Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Konsentrasi Keuangan Universitas Padjajaran-Bandung; dan Sandwich Program faculty of Economics Kentucky University- USA.
Disela-sela menjadi dosen dan menyelesaikan program doktoral, Arief membangun bisnis bersama beberapa rekanan di bidang event organizer. Jatuh bangun ia alami dalam menjalankan bisnis. Ia pun akhirnya menemukan pola utility sharing dalam menjalankan usahanya.
Kini, disela-sela menjadi dosen pascasarajana doctoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia mencoba mengaplikasikan ilmu ekonominya dalam bisnis yang ia bangun. Arief memadukan teori dan praktik untuk mengembangkan bisnisnya. [fathurroji]



















