Jenewa, Gontornews — Aliansi vaksin global GAVI, Selasa (26/1/2021), meminta dukungan politik global demi mendapatkan pasokan vaksin Covid-19. GAVI menduga negara-negara kaya membuat kesepakatan bilateral dengan pengembang vaksin untuk mengamankan pasokan vaksin yang terbatas.
“Hampir ada rasa panik karena vaksin,” kata CEO aliansi GAVI, Seth Berkley, kepada Reuters. Aliansi GAVI merupakan fasilitas vaksin multilateral COVAX yang diinisiasi oleh Badan Kesehatan Dunia, WHO.
“Berita utama pekan ini dengan jelas hanya memberitahu kami bagaimana skenario pasokan yang dapat berubah saat ini. bahkan, bagi pemerintah dengan sumberdaya yang baik,” imbuhnya.
Sebelumnya, Komisi Eropa sedang menyelesaikan proposal yang meminta perusahaan farmasi mendaftarkan ekspor vaksin mereka dari Uni Eropa. Namun, Uni Eropa menegaskan tidak ada rencana untuk memberlakukan larangan ekspor vaksin ke luar Eropa.
Sebagai informasi, akhir pekan lalu, negara-negara Uni Eropa mengetahui bahwa pengiriman vaksin AstraZeneca akan turun sebesar 60 persen pada kuartal pertama. Pun dengan produsen vaksin Pfizer-BioNTech yang juga mengalami penurunan angka pengiriman vaksin.
Berkley mengatakan pihaknya membutuhkan konsensus politik global untuk mendukung fasilitas COVAX. Program COVAX merupakan program WHO yang bertujuan menyediakan 2,3 miliar dosis vaksin hingga akhir tahun mendatang. Termasuk, 1,8 miliar dosis vaksin gratis bagi negara miskin dan berpenghasilan rendah.
“Saat ini kami berada di jalur yang tepat untuk memenuhi tujuan awal yakni memvaksinasi 20 persen populasi negara berpenghasilan rendah. Setidaknya, itu cukup untuk melindungi petugas kesehatan dan kelompok berisiko tinggi yang paling rentan,” jelas Berkley.
Berkley menambahkan saat ini 190 negara telah bergabung dengan fasilitas COVAX termasuk Amerika Serikat. Persetujuan Presiden Joe Biden untuk bergabung dengan COVAX ikut mendorong sektor pendanaan yang signifikan.
“Harapan kami, ini akan mengarah pada konsensus untuk mencoba mempertahankan sebagian besar pekerjaan dalam upaya menangani pandemi melalui mekanisme multilateral dan bukan bilateral. Kami tidak punya kemampuan untuk menghentikan mekanisme bilateral itu,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]





















