Istanbul, Gontornews — Pakar penyakit mata dari Universitas Bezmialem Foundation mengatakan penderita miopia (rabun jauh) pada anak-anak meningkat sepanjang 2020. Arif Koytak, akademisi dari Departemen Penyakit Mata Universitas Bezmialem Foundation, menyebut penguncian wilayah serta meningkatnya penggunaan layar digital selama pandemi meningkatkan risiko miopia.
Laman alodokter menjelaskan bahwa miopia atau rabun jauh merupakan salah satu kelainan refraksi mata. Rabun jauh merupakan gangguan pada penglihatan yang menyebabkan objek yang letaknya jauh terlihat kabur. Namun, kondisi ini tidak masalah untuk melihat objek yang letaknya dekat.
Koytak mengatakan bahwa anak-anak menghabiskan waktunya sepanjang hari di depan komputer, tablet, atau layar smartphone untuk pendidikan online selama pandemi.
โTidak sulit untuk mengharapkan bahwa pembatasan akan berdampak negatif pada perkembangan dan tingkat kerusakan miopia pada anak-anak,โ jelas Koytak kepada Anadolu.
Sejatinya, Koytak, dalam penelitiannya, meneruskan penelitian serupa yang telah dilaksanakan di Cina. Penelitian mengenai miopia di Cina menunjukkan bahwa penderita miopia meningkat tiga kali lipat pada anak usia enam tahun. Dua kali lipat untuk usia tujuh tahun dan 1,4 kali lipat pada anak usia delapan tahun ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
โPenelitian yang telah dilakukan berdasarkan cacat berkedip pada hampir 125.000 anak dalam lima tahun terakhir membuktikan bahwa tindakan pencegahan seperti penguncian yang ketat dan pendidikan online sangat meningkatkan pengembangan miopia pada anak-anak berusia 6-8 tahun pada paruh pertama tahun 2020,โ papar Koytak.
Koytak menggarisbawahi masa karantina menyebabkan peningkatan miopia secara drastis. Karenanya, penting bagi setiap negara untuk memperhatikan opsi penguncian jika kembali memperpanjang masanya.
โKami tahu bahwa genetika bukan satu-satunya faktor (miopia),โ kata Koytak.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak dan dewasa lebih sedikit menghabiskan waktu di luar ruangan dan berolahraga sebagai akibat dari perubahan teknologi.
Ia menyarankan bahwa pembelajaran di ruangan terbuka sangat efektif sebagai langkah pencegahan dari perkembangan miopia. [Mohamad Deny Irawan]





















