London, Gontornews — Badan PBB untuk urusan Pendidikan, Saintifik dan Kultural, UNESCO, menetapkan Kota Lahore di Pakistan sebagai kota Sastra. Penetapan Lahore sebagai Kota Sastra didasari pada program Festival Sastra Lahore yang dihelat setiap tahun.
Bagi Pakistan, penetapan Lahore sebagai Kota Sastra dianggap sebagai keuntungan mengingat Pakistan tengah membuat langkah besar untuk menggenjot sektor pariwisata. Upaya internasionalisasi Lahore sebagai Kota Sastra membuat kota tersebut menjadi destinasi bagi para tokoh sastra atau mereka yang memiliki pemikiran yang sama untuk bertukar pikiran.
“Tujuh tahun berturut-turut pelaksanaan Festival Sastra Lahore (Lahore Literacy Festival/LLF) di Lahore telah mendorong komunitas pecinta buku untuk datang lebih dekat dengan penulis dan penyair untuk stimulasi intelektual dan pemahaman manusiawi tentang dunia di zaman di mana jurnalisme yang otoritatif berada di bawah ancaman informasi fenomena berita palsu,” kata CEO LLF, Razi Ahmed sebagaimana dilansir Daily Times.
“LLF telah menghidupkan kembali tradisi pemikiran sastra dan sosial di masa lalu dan sekarang,” tambah Razi.
Ambon Jadi Kota Musik
Sementara itu, dari dalam negeri, UNESCO menobatkan Ambon sebagai Kota Musik. Penobatan Ambon sebagai Kota Musik oleh UNESCO tidak lepas dari peran Ambon Music Office.
Wakil Walikota Ambon, Syarif Halder mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung Ambon untuk menjadi Kota Musik versi UNESCO.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu mewujudkan Ambon sebagai Kota Musik Dunia. Semua ini tidak lepas dari peran Ambon Music Office, awak media serta seluruh musisi yang ada di Kota Ambon maupun musisi berdarah Ambon Maluku yang ada di luar,” tutur Syarif sebagaimana dilansir Tribbunnews.
Dalam rilisnya, UNESCO menyebut penetapan 66 kota berikut dengan keanekaragaman dan keunikannya ini tidak lepas dari peringatan Hari Kota Sedunia yang jatuh pada 31 Oktober 2019. UNESCO menyebut ada 246 kota yang tergabung dalam jaringan kota kreatif dunia tersebut.
Direkur UNESCO, Audrey Azoulay, mengatakan bahwa sejumlah kota yang tergabung dalam komunitas Creative Cities Network ini dianggap berhasil melakukan pengembangan kota berdasarkan budaya sebagai asas kreativitasnya.
“Kota-kota di seluruh dunia ini menggunakan budaya sebagai pilar dalam strateginya,” kata Azoulay dilansir dari laman resmi UNESCO. [Mohamad Deny Irawan]






















