Kerusakan bukan hanya di bumi, tapi juga di laut dan di langit. Langit pun bisa dirusak oleh manusia dengan adanya lapisan ozon yang menipis yang akan menjadi gangguan ekosistem di bumi. Ini ulah perbuatan manusia di bumi tapi kemudian mempengaruhi langit. Bumi ini tidak akan rusak apabila setiap orang berakhlaq al-karimah.
Di antara wujud akhlaq al-karimah itu yaitu kita menghindarkan diri untuk bergunjing. Kita tidak boleh membicarakan aibnya orang lain. Tidak boleh membicarakan kejelekan orang lain. Orang lain yang mendengarnya akan marah. Ini namanya kita bergunjing. Agama Islam melarang kita bergunjing. Kita lihat sekarang ini banyak sekali di media-media massa, orang membicarakan kejelekan orang lain. Kalau kita ingin memperbaiki kesalahan orang lain langsung saja ditegur, perbaiki kesalahan itu. Jangan bergunjing.
Dalam agama Islam, kita juga diminta untuk menjadi orang yang dermawan. Kita harus dermawan kepada siapa saja. Tidak hanya kepada sesama Muslim saja, tetapi juga kepada sesama manusia.
Kita menolong orang lain, itu sikap dermawan. Kita bisa dermawan dengan tenaga, biaya, dan lain sebagainya. Dermawan artinya kita murah kepada orang lain. Mudah memberikan pertolongan kepada orang lain. Dalam agama Islam kita dilarang kikir. Kenapa dilarang kikir karena harta yang kita punyai bukan milik kita sendiri. Tapi ini titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Selain itu, wujud daripada akhlaq al-karimah itu yaitu mendamaikan orang yang sedang bertengkar. Orang yang sedang bermusuhan itu kita damaikan. Begitu juga kita ingin berdamai dengan orang lain. Kita tidak mencari menang sendiri, tetapi kita juga toleransi kepada yang lain. Kita mengetahui kewajiban dan hak kita. Mengetahui apa hak dan kewajiban orang lain. Ini juga merupakan akhlaq al-karimah.
Ketika mendapatkan musibah kita sabar, itu juga akhlaq al-karimah. Jangan sampai ketika mendapatkan musibah kita bertanya dosa apa yang telah kita lakukan sehingga mendapatkan musibah ini. Ah, ini tidak karena kita. Kita mudah sekali melakukan dosa, tapi kita tidak menyadari. Maka jika kita melakukan kesalahan segera beristighfar kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Istighfar ini juga termasuk akhlaq al-karimah.
Akhlaqul karimah yang lain misalnya kita memberi kepada orang-orang miskin, kepada orang-orang yang menghajatkan sesuatu. Kita berdamai kepada orang lain, kita berbuat adil, ini akhlaq al-karimah. Berbuat adil dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika menaikkan Hajar Aswad dari bawah ke tempatnya. Mestinya Rasulullah sendiri yang mengangkat dan meletakkannya tetapi tidak, beliau kemudian membeberkan sorbannya dan meletakkan batu di situ dan menyuruh beberapa suku untuk mengangkat bersama-sama. Itu keadilan. Nah, inilah yang perlu kita perhatikan. Kita harus berbuat adil. Adil kepada siapa saja. Adil meletakkan sesuatu pada tempatnya.
Jadi apabila kita menjadi pimpinan, kita berbuat adil, dan sebenarnya kita semua pemimpin. Pemimpin bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Bapak menjadi kepala keluarga, pemimpin keluarga. Kepala desa bertanggung jawab atas kepemimpinan desa. Camat bertanggung jawab atas kepemimpinan kecamatan. Bupati bertanggung jawab atas kepemimpinan kabupaten, dan seterusnya. Kita semua pemimpin. Diwajibkan kepada kita, kepada yang memimpin itu, supaya berbuat adil. Jadi perbuatan adil itu dekat kepada Allah, taqwa kepada Allah. Yang berbuat tidak adil itu tidak taqwa kepada Allah. Maka berbuatlah adil kepada siapa saja, di mana saja.
Adil itu sesuai dengan proporsinya. Adil itu tidak berarti sama. Umpamanya membagikan barang kepada anak-anak satu kelas, semuanya diberi yang sama. Padahal di situ ada laki-laki dan perempuan. Semuanya diberi kopiah. Ya itu tidak adil namanya. Karena kita tidak melakukan sesuatu pada tempatnya. Maka kita perlu melihat bagaimana kebutuhan yang diberi itu.
Saya kira itu saja mengenai akhlaq al-karimah. Mudah-mudahan ini bisa dijadikan peringatan bagi kita semua untuk berpegang teguh kepada akhlaq al-karimah, yang diwajibkan, yang ditekankan oleh agama kita. []




















