Kuala Lumpur, Gontornews — Politisi senior Malaysia, Anwar Ibrahim, mengkritik para akademisi terkemuka di Malaysia yang terkesan tidak peduli dengan skandal 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Menurutnya, skandal 1MDB adalah perampokan terbesar dalam sejarah yang bukan saja disebabkan oleh para politisi serakah tapi juga akibat keheningan para akademisi.
“Ini adalah perampokan terbesar dalam sejarah yang terjadi bukan hanya karena keserakahan beberapa politisi tapi juga keheningan akademisi,” ungkap Anwar Ibrahim sebagaimana dilansir New Strait Times.
Sebagaimana dilansir Departemen of Justice (DoJ), Malaysia dianggap mengalami kerugian sebesar 4,5 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar 65,4 triliun rupiah (Kurs 1 dolar AS = Rp 14.547,25) akibat skandal 1MDB.
Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak dan Rosmah Mansour, istri Najib, dituntut puluhan kasus tentang pencucian uang dan pidana pelanggaran kepercayaan.
Selain Najib dan istri, sejumlah politisi dan kroni Najib di SRC International juga terlibat dengan skandal yang menggegerkan seantero Malaysia tersebut. Sebut saja, Low Taek Jho atau yang akrab disapa Jho Low, seorang pengusaha yang menjadi inti pusat skandal 1MDB. Hingga saat ini, belum ada yang mengetahui dengan pasti keberadaan Jho Low.
Lebih lanjut, rekan sejawat Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad di Partai Pakatan Harapan itu juga menyayangkan aksi para akademisi yang menjadi alat bagi sejumlah politisi dalam beberapa isu ras dan agama.
“Para akademisi di sektor publik tidak hanya bersikap tenang tapi juga bersekongkol membela kejahatan yang menghancurkan rakyat dan negara,” imbuhnya.
Anwar meminta kepada semua pihak agar skandal 1MDB menjadi pelajaran berharga di masa mendatang dan mampu mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah Malaysia.
“Ini adalah pelajaran bagi kita semua untuk menjadi lebih baik. Dalam konteks pendidikan, institusi akademik dan guru besar harus melakukan lebih dari sekedar memberikan pendidikan tapi juga menghasilkan lulusan yang berprinsip dan beretika moral yang tinggi,” tutup Anwar. [Mohamad Deny Irawan]



















