Riyadh, Gontornews — Arab Saudi pada hari Senin (11/1) menyambut baik pengumuman AS bahwa mereka berencana untuk menetapkan Houthi yang didukung Iran sebagai organisasi teroris. Demikian dilansir Arabnews.com.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan pada Ahad (10/1) malam bahwa pemerintahan Trump akan memasukkan milisi Yaman ke daftar hitam pada 19 Januari.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan langkah itu akan membantu rakyat Yaman, meningkatkan keamanan internasional, dan menetralkan ancaman Houthi.
“Penetapan itu akan membantu mengakhiri bahaya yang ditimbulkan (Houthi), yang telah menyebabkan situasi kemanusiaan yang memburuk dari rakyat Yaman, dan ancaman berkelanjutan terhadap perdamaian dan keamanan internasional dan ekonomi dunia,” kata kementerian itu.
Pasokan rudal, drone, dan senjata lain, serta dana untuk membiayai perang Houthi juga akan dihentikan. Hal ini akan membantu menghentikan milisi dari “menargetkan orang-orang Yaman dan mengancam navigasi internasional dan negara-negara tetangga.”
Sejak merebut ibukota Sana’a pada 2014 dan memicu konflik dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Houthi telah berulang kali menyerang kota dan infrastruktur Arab Saudi dengan rudal dan drone peledak.
Houthi juga dituduh menyerang pengiriman barang-barang di jalur laut tersibuk di dunia di lepas pantai Yaman.
Pompeo mengatakan, dia juga akan menetapkan tiga pemimpin Houthi, termasuk Abdul Malik Al-Houthi, Abd Al-Khaliq Badr Al-Din Al-Houthi, dan Abdullah Yahya Al-Hakim sebagai “teroris global yang ditetapkan secara khusus.”
Penetapan tersebut akan diumumkan satu hari sebelum Presiden terpilih Joe Biden menjabat.
Arab Saudi berharap langkah Washington itu akan mendukung upaya politik untuk menyelesaikan konflik dan memaksa Houthi untuk kembali ke meja perundingan.
Kementerian tersebut juga mengatakan, Kerajaan Saudi mendukung upaya utusan PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, untuk mengakhiri perang dan mencapai solusi politik yang komprehensif.
Wakil Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman bertemu dengan Griffiths pada hari Senin untuk membahas perkembangan dan respons Kerajaan terhadap persoalan kemanusiaan di Yaman.
“Saya meyakinkan utusan PBB untuk berkomitmen mencapai resolusi politik yang komprehensif sesuai dengan tiga referensi, yang akan memastikan perdamaian dan stabilitas untuk Yaman dan kawasan, ” cuitnya.
UEA, yang merupakan bagian dari koalisi Arab Saudi pendukung pemerintah Yaman, juga menyambut baik rencana tersebut.
Menteri Luar Negeri Anwar Gargash mengatakan, kelompok itu telah memicu kekerasan dan kekacauan dan menyebabkan kemerosotan tragis situasi kemanusiaan di Yaman.
“Penting untuk mengakhiri pelanggaran berat yang dilakukan milisi terhadap orang-orang Yaman, dan mengakhiri desakan terus-menerus untuk mengacaukan keamanan dan stabilitas di kawasan, dan melaksanakan agenda rezim Iran,” katanya dalam sebuah tweet.
Sedangkan Kementerian Luar Negeri Bahrain mengatakan, pihaknya memuji “upaya besar” yang dilakukan oleh AS untuk mencapai keamanan, stabilitas, dan perdamaian di kawasan tersebut dan memerangi terorisme.
Kementerian meminta komunitas internasional untuk mengambil tindakan serupa terhadap kelompok yang menyerang orang-orang Yaman dan negara-negara tetangga serta mengancam pelayaran internasional. []






















