Ngawi, Gontornews — Meski tak ada pengalaman bisnis di bidang konveksi, namun wanita alumni KMI Gontor Putri Mantingan Ngawi ini yakin bahwa usahanya akan bermanfaat untuk warga di sekitarnya. Untuk menutupi kekurangannya, ia pun banyak bertanya kepada para pengusaha konveksi.
Sebelum menekuni bisnis konveksi, wanita bernama Arifah Rubiari ini pernah menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Ngawi. Namun karena sang suami, Mujahidin menginginkan Arifah aktivitas di rumah saja, ia pun lepaskan menjadi dosen.
“Jika itu baik untukmu, maka lakukan. Tapi jika menanyakan isi hati terdalam, saya ingin kamu di rumah, mendampingiku dan anak-anak.” Kalimat pendek sang suami inilah yang memotivasi dirinya mencoba mencari aktivitas yang bisa dikerjakan di rumah.
Saat itu, ada saudara yang mencari pekerjaan dengan keahlian menjahit. Bermula dari sini terbersit niat untuk membuka konveksi. “Awalnya saya ragu, karena jahit menjahit bukanlah bidang keahlian saya, sedang suami adalah seorang ASN, jadi tidak bisa membantu fulltime,” kisah santriwati perdana kelas ‘Adi tahun 1990.
Namun sang suami memberikan masukan, “Jangan jadikan duniamu sebagai target akhirmu, tetapi jadikan ia sebagai perantara untuk bisa berbagi dan bermanfaat buat banyak orang. Itulah tabungan akhirat. Mungkin dengan kita membuka usaha yang kita tidak ahli, maka akan semakin banyak orang yang kita tolong dan ajak bekerjasama,” jelas santriwati marhalah Mahawardhani 696 (alumni ke-3).
Tahun 2011 Arifah mulai mencari informasi seputar konveksi, mulai cara merancang semua yang berkaitan dengan bisnis konveksi. Akhirnya pada Maret 2012, ia memantapkan diri untuk menekuni bisnis konveksi bermodal 70 juta rupiah dengan brand bernama Kuways.
Nama Kuways menjadi pilihan Arifah pada produk konveksinya. Kuways diambil dari bahasa sehari hari di Mesir, artinya baik atau bagus. Impian Arifah, kata Kuways akan banyak didengungkan orang. Seperti ketika orang naik bis kota dan turun depan rumah, mereka bilangnya turun di Kuways.
“Beberapa kolega malah tidak tau nama asli kami, sering kami dipanggil pak Kuways dan bu Kuways. Semoga menjadi doa, agar menjadi orang tua dan pengayom yang baik buat semua,” tutur mantan mahasiswi jurusan Sastra Arab Al-Azhar University Cairo, Mesir.
Untuk menutupi kekurangannya, Arifah banyak bertanya ke teman pengusaha konveksi di Surabaya dan Tulung Agung. “Saya rangkum dan padukan ilmu dan pengalaman yang mereka punya. Saya tiru yang sekiranya saya mampu kerjakan, dan pending dulu hal-hal diluar kemampuan. Kami benar-benar belajar dari nol,” jelas wanita yang pernah di bagian Penerangan pondok.
Dengan modal yang ada, ia belikan 3 mesin jahit bekas, 1 mesin potong dan sisanya dibelikan kain beraneka warna. “Pokoknya biar kelihatan penuh lah tokonya, agar konsumen yang datang percaya bahwa kami bisa,” papar mantan koordinator gerakan pramuka ini.
Arifah menyadari bahwa perjalan awal tentu tidak mudah. Tertatih, tersandung, tersungkur, bahkan sempat “bleng” tidak tau harus bagaimana. Namun ia tak pernah berhenti berdoa agar dengan usaha ini bisa saling menolong yang lain.
Waktu terus berjalan, brand Kuways yang ia kelola mengalami turun, naik, dan terus berdinamika. Dua tahun kemudian, yakni 2014 usahanya bisa menambah aset berupa pengadaan mesin border komputer 18 head 9 needle.
Tahun 2016 ia juga mencoba mengembangkan usaha dengan membuka toko kain dan peralatan jahit. Di tahun 2018, ia melebarkan sayap dengan membuka Kuways cabang serta penambahan aset berupa pengadaan mesin border computer 6 head 9 needle.
Tahun 2020, Allah menguji penduduk bumi dengan Covid-19. Mulai berlakunya WFH dan sekolah daring memunculkan fenomena baru di lingkungannya, yaitu menjamurnya angkringan dan warung kopi.
“Kami berpikir keras agar Kuways tetap bisa berkontribusi positif untuk masyarakat. Maka dengan bismillah dan berpasrah, Kuways mulai membangun GOR dengan kapasitas 4 line bulutangkis yang sampai sekarang masih dalam tahap finishing,” ungkap wanita kelahiran Ngawi, 13 November 1977.
Ia berharap, banyak pemuda yang mau berolahraga, mengasah kemampuan, dan membuang energi berlebihnya untuk hal-hal yang positif dan lebih bermanfaat. Program dua tahunan ia rancang bersama suami sejak awal berdiri, walau kadang juga belum ada rencana pasti. Hanya bermimpi dan berharap tiap dua tahun ada suatu pencapaian yang berbeda.
“Tujuannya agar Kuways tetap optimis dan bergerak dinamis. Tidak mudah berpuas dengan apa yang ada, ataupun menyerah jika terkena kendala. Karena air mata itu ada dua, sebab suka atau duka. Dan kami sudah banyak melewati keduanya,” tegasnya.
Arifah mengatakan, banyak orang ingin memulai usaha atau apapun itu, terlalu fokus pada pemecahan masalah jika terkena kendala. Padahal Allah kasih ujian ke tiap manusia itu berbeda-beda, belum tentu kita akan menemui kendala yang sama.
“Maka optimislah! Belajar dan berjuang dulu, ujian belakangan. Bukankah di pondok juga seperti itu? Kita diajar dan dididik dulu, baru kemudian diuji untuk dipastikan bisa naik ke level yang lebih tinggi atau tidak,” jelas ibu dari tiga anak ini.
Kuways yang awal berdiri hanya memiliki 2 karyawan, saat ini sudah berkembang menjadi 20 karyawan. Kebanyakan adalah para ibu rumah tangga dan remaja putri. “Kami menjalin kerjasama dengan SMK untuk magang siswa jurusan tata busana sejak tahun 2015 hingga sekarang,” papar lulusan S2 IAIN Sunan Ampel Surabaya Jurusan Tafsir dan Ilmu Al Qur’an..
Diawal merintis, ia banyak menjalankan order kaos dan baju olahraga. Karena desakan dari konsumen untuk pesan komplit dengan seragamnya, maka ia produksi segala jenis seragam, koko, gamis, dan jilbab. Sekarang sedang mencoba beberapa produk ketrampilan seperti tas, dompet, sarung bantal, dan lain sebagainya.
Pasar Kuways bukan hanya di kota Ngawi, tapi beberapa pesanan sudah dari luar pulau seperti Madura, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Ada pesanan juga dari Korea Selatan untuk baju silat.
Saat ini, Kuways masih fokus pada pemasaran offline, namun tetap melayani pemesanan luar daerah secara online, meskipun ia mengakui belum pernah beriklan secara resmi online di media-media sosial.
Arifah menyadari pemain konveksi besar sangat banyak, namun demikian Arifah anggap mereka bukan pesaing, tapi mereka adalah guru dan contoh bagi tim kami. “Kuways masih berkembang, sehingga masih perlu banyak belajar dari konveksi-konveksi besar yang ada,” jelasnya.
Arifah mengakui, motivasi menjalankan bisnis konveksi ini diantaranya naehat yang berbunyi “Niatkan usaha konveksimu untuk membantu menutup aurat saudaramu, maka Allah akan menutup aibmu, ini adalah motivasi terbesar.”
Motivasi lainnya adalah usaha ini bisa dilakukan di rumah, jadi tetap bisa fokus mendampingi suami dan anak-anak. “Karena saya wanita dan sudah berkeluarga. Niat awal memang ngekor suami. Kemanapun beliau ada, saya ingin disampingnya,” ujarnya.
Arifah menutup perbincangannya dengan berharap, jika Uways al-Qarni tidak terkenal di bumi tapi terkenal di langit. Setidaknya Kuways yang belum ada apa-apanya ini, ada yang nanti mengenalnya di langit. [fathur]




















