Washington, Gontornews — Diplomat senior Amerika Serikat mengemukakan bahwa upaya India untuk membatasi akses ke Jammu dan Kashmir bukan langkah yang produktif.
“Tidak (produktif). Kami pikir itu tidak membantu,” kata Asisten Sekretaris Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk Hak Asasi Manusia, Robert Destro, dalam sebuah subkomite kongres tentang Asia Pasifik dan Noproliferasi.
“(Pembatasan akses ke Jammu dan Kashmir) ini sebenarnya kontraproduktif,” tuturnya sebagaimana dilansir Anadolu.
Sebagaimana diketahui, Jammu dan Kashmir berada di bawah pemerintahan India sejak mereka mencabut otonomi khusus pada 5 Agustus 2019 silam.
Beberapa kelompok hak asasi manusia dan Amnesty International berulang kali meminta India untuk mengembalikan status khusus di Jammu dan Kashmir serta membebaskan tahanan politik yang ditahan oleh pemerintah setempat.
Salah satu dampaknya, Amerika Serikat tidak diizinkan oleh pemerintah India untuk masuk dan mengunjungi Jammu dan Kashmir. “Ini bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Jammu dan Kashmir,” tutur Asisten sekretaris Departemen Luar Negeri untuk Asia Selatan dan Asia Tengah, Alice Wells.
India menyatakan bahwa 93 persen pembatasan telah dilonggarkan terutama di wilayah-wilayah rawan konflik. Akan tetapi, tim Anadolu tidak mendapatkan bukti-bukti adanya pelonggaran atas pembatasan.
Lebih lanjut, Wells menyatakan bahwa Washington tidak memedulikan ketentuan pasal 370 konstitusi India. Wells melanjutkan bahwa Washington lebih memedulikan kondisi masyarakat Kashmir yang mengalami isolasi.
“Kami tidak mengambil posisi pada Pasal 370. Kami mengambil posisi tentang apakah warga Kashmir dapat hidup secara bermartabat dan memiliki kehidupan ekonomi serta hak politik yang baik,” pungkas Wells. [Mohamad Deny Irawan]






















